AAJI Daily News - 23 Februari 2017


Tanggal terbit (23 / 02 / 2017)

HEADLINE NEWS

  1. Target Premi Sinarmas MSIG Life Rp 7,26 Triliun
  2. Premi Ditargetkan Tumbuh 40%
  3. MSIG Life Incar Pertumbuhan Premi 20%
  4. Sinarmas MSIG Gandeng BPD
  5. Sinarmas MSIG Akan Gandeng Bank Daerah
  6. Investor Indonesia Menganggap Enteng Pengeluaran Di Masa Pensiun
  7. Orang Indonesia Masih Anggap Enteng Persiapan Pensiun
  8. Rights Issue MREI Mundur
  9. Resmi Buka Kantor di Batam
  10. Kepemilikan Asing pada Perusahaan Asuransi Maksimal 80 Persen

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Target Premi Sinarmas MSIG Life Rp 7,26 Triliun

PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) menargetkan pertumbuhan premi di atas 20% sepanjang 2017. Untuk mencapai target ada beberapa rencana bisnis dijalankan. Menurut Presiden Direktur Sinarmas MSIG Life Premraj Thuraisingam, di tahun 2016 pihaknya mencatatkan perolehan premi Rp 6,05 triliun. Dengan asumsi naik lebih dari 20%, maka asuransi ini menargetkan premi di atas Rp 7,26 triliun di tahun ini. Premraj menilai, potensi bisnis asuransi jiwa di Indonesia masih cukup besar. Terutama pada penetrasi pasar asuransi jiwa di dalam negeri yang masih mini. Kondisi ini membuka celah bagi pelaku usaha, termasuk Sinarmas MSIG Life lebih banyak merangsek pasar. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah baru yang berpotensi mendongkrak kinerja. "Kami juga telah menyiapkan perluasan produk dan saluran distribusi," kata Premraj, Rabu (22/2). Harian Kontan – 23/02/2017, Hal. 24

Premi Ditargetkan Tumbuh 40%

PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG menargetkan pertumbuhan premi pada tahun ini dapat mencapai 20%--40%. Premraj Thuraisingam, Presiden Direktur Sinarmas MSIG Life, optimistis perseroan dapat mencapai pertumbuhan premi yang lebih tinggi ketimbang target industri yang ditetapkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) sebesar 20%. Sepanjang 2016 Sinarmas MSIG Life membukukan premi Rp6,05 triliun. Menurutnya, realisasi premi tahun lalu tumbuh 30% jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dia menilai penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah, sedangkan secara demografi penduduk, Indonesia memiliki potensi yang besar. Oleh karena itu, perseroan berupaya memberikan produk yang sesuai. Bisnis Indonesia – 23/02/2017, Hal. 22

MSIG Life Incar Pertumbuhan Premi 20%

Jakarta–Sinarmas MSIG Life mencatat perolehan premi tahun 2016 sebesar Rp6,05 triliun untuk konvensional, dan Rp378 miliar untuk syariah. President Director Sinarmas MSIG Life, Premraj Thuraisingam mengatakan, tahun ini pihaknya akan menargetkan pertumbuhan premi di atas rata-rata industri atau sekitar 20 persen. Untuk menggenjot perolehan tersebut, lanjutnya, pihak MSIG Life masih akan mengandalkan saluran distribusi bancassurance. “Bancassurance kami kontribusinya 70 persen. Sementara sisanya employee benefit 30 persen,” jelasnya di Jakarta, Rabu, 22 Februari 2017. Infobanknews.com - 22/02/2017 http://infobanknews.com/msig-life-incar-pertumbuhan-premi-20/

Sinarmas MSIG Gandeng BPD

Potensi bancassurance yang terus bertumbuh pesat memacu industri asuransi mengembangkan produk  baru dan jaringan. Untuk mengemangkan jalur distribusi bancassurance. PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG) berencana menambah lima bank mitra pada tahun ini. Bersamaan dengan itu, Sinarmas MSIG juga akan meluncurkan empat produk anyar untuk mengejar pertumbuhan di atas 20%. “Penambahan lima partner baru kini sedang dalam proses di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pembukaan jalur distribusi baru tersebut akan menggandeng Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Kalimantan,” kata President Director Sinarmas MSIG Life Premraj Thuraisingam dalam sebuh diskusi di Jakarta, kemarin. Media Indonesia – 23/02/2017, Hal. 19

Sinarmas MSIG Akan Gandeng Bank Daerah

PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) akan menggandeng Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk menjajakan bancassurance pada tahun ini. bank-bank tersebut saat ini masih dalam proses persetujuan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). President Director Sinarmas MSIG Life Premraj Thuraisingam mengatakan, sinarmas MSIG life berancana untuk menambah lima partner bank baru. “selain dari bank nasional, kita juga harus berpartner dengan bank daerah. partner-partner kita ada di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Kalimatan,” ujar Prem dalam bincang dengan media di Jakarta, Rabu (22/2). Republika – 23/02/2017, Hal. 15

Investor Indonesia Menganggap Enteng Pengeluaran Di Masa Pensiun

Manulife baru-baru ini mengungkap bahwa investor Indonesia memiliki risiko yang tinggi akibat kurang siap menghadapi realitas finansial di masa pensiun nanti. Manulife Investor Sentimen Index (MISI) menemukan bahwa hampir seluruh investor (96%) yakin mereka akan tetap memiliki gaya hidup yang sama seperti saat ini atau bahkan akan lebih baik lagi di masa pensiun nanti, tanpa menyadari bahwa simpanan mereka akan terus menyusut akibat pengeluaran di masa pensiun, dan pada akhirnya akan membahayakan keuangannya. Mayoritas investor optimis akan masa depan mereka, dengan 71% investor yakin bahwa mereka sudah berada di jalur yang tepat untuk mencapai beragam tujuan keuangannya, dan bahkan 10% investor yakin mereka akan melampaui target. Sebaliknya, hanya 19% investor yang merasa khawatir akan kehabisan uang pada masa pensiun nanti. Koran Sindo – 23/02/2017, Hal. 20

Orang Indonesia Masih Anggap Enteng Persiapan Pensiun

Investor di Indonesia dinilai menganggap enteng terkait pengeluaran di masa pensiun. Meskipun mereka cenderung tipikal orang yang suka investasi, namun tidak terlalu memikirkan soal masa pensiun. Berdasarkan survei dari Manulife menunjukkan, walaupun para investor menempatkan perencanaan pensiun sebagai salah satu prioritas keuangan yang utama, menempati peringkat kedua setelah pendidikan anak, namun hampir seperempat dari investor (24%) mengalokasikan kurang dari 10% tabungannya untuk simpanan dana pensiun.  Selain itu, sebanyak 57% yang berharap dapat mengumpulkan tabungan untuk masa pensiun sebesar maksimum Rp 100 juta, yang akan habis dalam waktu dua sampai tiga tahun dengan mempertimbangkan rata-rata pengeluaran rumah tangga mereka saat ini sebesar Rp4 juta per bulan. Bisnis.com - 22/02/2017 http://lifestyle.bisnis.com/read/20170222/219/630836/orang-indonesia-masih-anggap-enteng-persiapan-pensiun

Rights Issue MREI Mundur

Rencana PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk merilis saham baru alias rights issue mundur dari proyeksi awal. Semula, emiten berkode MREI ini menjadwalkan rights issue pada Maret-April 2017. Namun perusahaan ini harus memundurkan rencana penambahan modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) karena perubahan jadwal pendaftaran ke OJK. MREI baru mendaftarkan rencana rights issue pada 21 Februari 2017. Akibatnya pelaksanaan penambahan saham baru efektif akan dilaksanakan pada Juni 2017. Dalam keterbukaan informasi di BEI, perusahaan ini tak menjelaskan apakah ada perubahan jumlah saham yang dilepas. Namun tahun lalu Maskapai Reasuransi bilang akan melepas 130 juta saham baru setara dengan 33,48% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Dana tersebut nantinya akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan. Harian Kontan – 23/02/2017, Hal. 24

Resmi Buka Kantor di Batam

PT FWD Life Indonesia (FWD Life) resmi membuka kantor pemasaran ke-8 di kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Langkah perusahaan asuransi jiwa berbasis digital ini, merupakan komitmen perseroan dalam memperluas jangkauan pasar asuransi di wilayah Indonesia Bagian Barat, setelah sebelumnya FWD Life telah hadir di Medan, Sumatera Utara dan Palembang.  Batam merupakan kawasan strategis untuk mendukung FWD Life dalam menjaring semakin banyak masyarakat, sehingga dapat menopang bisnis perusahaan terutama penetrasi akan  produk dan layanan serta meningkatkan jumlah agen FWD Life. Presiden Direktur FWD Life, Rudi Kamdani mengatakan, FWD Life telah mencatat pertumbuhan bisnis yang positif sejak pertama berdiri pada tahun 2014. Kinerja bisnis tersebut memicu kebutuhan perusahaan. Indopos – 23/02/2017, Hal. 5

EKONOMI MAKRO DAN REGULASI

Kepemilikan Asing pada Perusahaan Asuransi Maksimal 80 Persen

Pemerintah sedang menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Kepemilikan Asing pada Perusahaan Perasuransian. Batas kepemilikan asing diusulkan tidak lebih dari 80 persen. Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan, usulan batas maksimal kepemilikan asing sebesar itu bukan hal baru. Sebab ketentuan itu sudah tercantum di dalam Pasal 6 PP Nomor 73 Tahun 1992. "Dari aturan yang ada yaitu PP 73 Tahun 1992, kepemilikan asing paling tinggi 80 persen," ujar perempuan yang kerap disapa Ani itu saat rapat dengan Komisi XI, Jakarta, Rabu (22/2/2017). Namun tutur Ani, pemerintah mengubah ketentuan itu pada 1999 dengan mengeluarkan PP Nomor 63 Tahun 1999. Dalam Pasal 10 A aturan itu, kepemilikan asing perusahaan asuransi dibolehkan melebihi batas 80 persen. 

Kompas.com - 22/02/2017  http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2017/02/22/231533126/kepemilikan.asing.pada.perusahaan.asuransi.maksimal.80.persen.

 

USD/IDR

13.355

IHSG

5.361,27

BI Rate (per 17 Maret 2016)

6,75%


Sumber Kontan.com , Bi Rate

Sumber Media:

Kompas, Bisnis Indonesia, Investor Daily, Kontan, Jakarta Post, Seputar Indonesia, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Rakyat Merdeka, Indopos, Warta Kota, Jawa Pos (Jatim), Pikiran Rakyat (Jabar), Suara Merdeka (Jateng), Analisa (Medan), Tribun Timur (Sulsel), Detik.Com, Kompas.Com, Antara.Com, Antarafoto.Com, Tribunnews.Com, Okezone.Com, Beritasatu.Com, Vivanews.Co.Id, Media Asuransi, Warta Ekonomi, Majalah Infobank, Majalah Investor.

DOWNLOAD PDF