AAJI Perkuat Literasi Asuransi di Jogja Financial Festival 2026: Proteksi Jiwa Bukan Kebutuhan Nanti
Sebagai bagian dari komitmen konsisten dalam mendorong literasi dan inklusi keuangan nasional, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) hadir di Jogja Financial Festival 2026 — festival keuangan nasional bertaraf besar yang digelar CNBC Indonesia di Jogja Expo Center, Yogyakarta, pada 22 hingga 24 Mei 2026. Melalui dua sesi strategis pada 23 Mei 2026, AAJI membawa pesan yang sama: literasi asuransi jiwa harus terus dibangun, dan perlindungan finansial adalah fondasi — bukan pelengkap — dari perencanaan keuangan yang sehat.
Apa itu Jogja Financial Festival 2026?
Jogja Financial Festival 2026 adalah platform keuangan nasional yang mempertemukan regulator, pelaku industri keuangan, akademisi, dan masyarakat luas untuk berdiskusi dan mendorong peningkatan literasi keuangan di Indonesia. Diselenggarakan oleh CNBC Indonesia selama tiga hari (22–24 Mei 2026) di Jogja Expo Center, festival ini menghadirkan ratusan narasumber lintas sektor dalam format talkshow, educational class, podcast corner, exhibition, dan hiburan.
Dua Sesi, Satu Komitmen: AAJI di Panggung Nasional
Pada hari kedua festival, AAJI tampil melalui dua sesi yang saling melengkapi: Podcast Corner di sesi pagi dan Educational Class di sesi sore. Keduanya membawa pesan yang konsisten — bahwa industri asuransi jiwa hadir bukan hanya sebagai penyedia produk, tetapi sebagai mitra literasi keuangan masyarakat Indonesia.
Podcast Corner: Asuransi Jiwa Adalah Bagian dari Financial Planning
Pukul 11.00 hingga 12.00 WIB, Novita Rumngangun selaku Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI tampil sebagai narasumber di sesi Podcast Corner. Dengan audiens yang didominasi generasi muda, Novita menekankan bahwa asuransi jiwa bukan sekadar produk yang dibeli saat kondisi finansial sudah mapan — melainkan bagian esensial dari perencanaan keuangan sejak dini.
“Kehadiran AAJI di Jogja Financial Festival 2026 adalah bagian dari komitmen kami yang konsisten — bahwa literasi asuransi harus terus dibangun, bukan hanya di kota-kota besar, tetapi juga sampai ke masyarakat luas, termasuk generasi muda di Yogyakarta.” — Novita Rumngangun, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI
Dalam sesi tersebut, Novita secara khusus menyoroti tantangan yang dihadapi sandwich generation — kelompok usia produktif yang menanggung kebutuhan orang tua sekaligus membangun kehidupan keluarganya sendiri. Bagi kelompok ini, satu risiko yang tidak terlindungi dapat berdampak domino pada seluruh tatanan keuangan keluarga.
AAJI sendiri terus mendorong pendekatan edukasi yang relevan dengan kehidupan nyata masyarakat: mulai dari konten digital di media sosial, podcast, video singkat, infografis, hingga roadshow langsung ke kampus-kampus di berbagai kota.
“Membangun aset itu penting. Tapi sama pentingnya adalah memastikan aset itu terlindungi. Karena risiko bisa datang kapan saja — dan tanpa perlindungan, satu kejadian tak terduga bisa meruntuhkan semua yang sudah dibangun.” lanjut Novita.
Educational Class: Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera
Melengkapi kehadiran AAJI di hari yang sama, pukul 17.00 hingga 18.00 WIB, Handojo G. Kusuma selaku Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga, Regulator, dan Stakeholder's Dalam Negeri & Internasional AAJI tampil dalam sesi Educational Class bertajuk “Muda Kaya Raya, Tua Sejahtera” bersama Ogi Prastomiyono (Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK) serta Hexana Tri Sasongko (Direktur Utama IFG).
Sesi ini membahas secara mendalam urgensi proteksi dan persiapan dana pensiun bagi generasi produktif — dengan data dan perspektif dari sisi industri, regulator, dan praktisi keuangan.
“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah menunda. Semakin lama ditunda, semakin besar effort finansial yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang sama. Perencanaan keuangan yang sehat dibangun secara seimbang: antara kebutuhan hari ini, perlindungan terhadap risiko, dan kesiapan di masa depan.” — Handojo G. Kusuma, Ketua Bidang Kerjasama Antar Lembaga AAJI
Mengapa Literasi Asuransi Masih Jadi Pekerjaan Rumah Bersama?
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK dan BPS menunjukkan gambaran yang perlu mendapat perhatian serius: indeks literasi asuransi nasional tercatat sebesar 45,45 persen, sementara indeks inklusi asuransi masih berada di angka 28,50 persen. Kesenjangan sebesar 17 poin antara literasi dan inklusi ini menggambarkan sebuah realitas: banyak masyarakat yang sudah memahami pentingnya asuransi, namun belum terdorong untuk benar-benar memiliki perlindungan. Inilah yang menjadi salah satu fokus utama AAJI dalam mendorong edukasi yang tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menggerakkan masyarakat untuk bertindak.
Mengapa Perlindungan dan Pensiun Harus Dimulai Sejak Muda?
Salah satu pesan kunci yang disampaikan AAJI di Jogja Financial Festival 2026 adalah bahwa waktu adalah aset paling berharga dalam perencanaan keuangan jangka panjang. Ini berlaku baik untuk proteksi maupun persiapan pensiun.
Ada dua alasan utama mengapa menunda adalah risiko tersendiri:
- Semakin terlambat memulai proteksi, semakin tinggi risiko yang sudah terjadi tanpa perlindungan — dan ketika risiko sudah terjadi, perlindungan tidak lagi bisa disiapkan secara retroaktif.
- Semakin terlambat mempersiapkan pensiun, semakin besar nominal yang harus dialokasikan untuk mencapai target yang sama. Data BPS 2025 mencatat umur harapan hidup Indonesia mencapai 74,47 tahun — artinya seseorang yang pensiun di usia 55–60 masih membutuhkan pembiayaan hidup selama 14–19 tahun ke depan.
Kehadiran AAJI di Jogja Financial Festival 2026 bukan sekadar partisipasi dalam sebuah acara. Ini adalah cerminan dari semangat yang AAJI pegang teguh sepanjang tahun ini: “Menjaga Kepercayaan, Mengukir Makna”.
Kepercayaan publik terhadap industri asuransi jiwa dibangun tidak hanya melalui kinerja industri yang solid, tetapi juga melalui edukasi yang konsisten, terbuka, dan membumi. Setiap sesi edukasi, setiap forum diskusi publik, setiap percakapan tentang pentingnya perlindungan adalah bagian dari makna nyata yang ingin AAJI hadirkan bagi kehidupan finansial masyarakat Indonesia.
