AAJI Daily News - 24 September 2025
Rabu, 24 September 2025
FM-CC-AAJI-006-00
OVERVIEW
|
Positive |
Neutral |
Negative |
|
43 |
9 |
6 |
|
Online |
|
Electronic |
|
57 |
1 |
0 |
ISSUES
- Tentang AAJI: 2 Total News
- Kinerja Industri dan Perusahaan Asuransi Jiwa: 16 Total News
- Inovasi Produk, Teknologi, dan Layanan: 26 Total News
- Isu Konsumen dan Reputasi Publik: 1 Total News
- Isu Regulasi dan Kebijakan Pemerintah: 9 Total News
- Kampanye Edukasi dan Literasi Keuangan: 4 Total News
TENTANG AAJI
AAJI Optimistis Kinerja Unitlink Terus Membaik Hingga Akhir 2025 (kontan.co.id, 23/09/2025)
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis kinerja Produk Asuransi yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) atau unitlink akan terus membaik hingga akhir 2025.Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menerangkan optimisme itu dipicu sejumlah hal, seperti implementasi regulasi baru yang memperkuat perlindungan pemegang polis dan peningkatan literasi keuangan yang membuat masyarakat lebih memahami manfaat jangka panjang unitlink."Ditambah, asuransi jiwa menerapkan inovasi produk yang lebih fleksibel, efisien, dan sesuai dengan profil risiko nasabah," katanya kepada Kontan, Senin (22/9/2025).Selain itu, Togar berpendapat produk unitlink juga masih diminati oleh masyarakat segmen tertentu sampai saat ini. Hal itu berdasarkan data AAJI pada semester I-2025, menunjukkan bahwa pendapatan premi bisnis baru untuk unitlink senilai Rp 14,70 triliun.
AAJI: Industri Asuransi Jiwa Terapkan Strategi Investasi Jangka Panjang (kontan.co.id, 23/09/2025)
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyampaikan industri asuransi jiwa secara umum menerapkan strategi investasi jangka panjang. Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menerangkan investasi yang dilakukan selalu berbasis manajemen risiko dan prinsip kehati-hatian. "Dalam menempatkan investasi, perusahaan asuransi jiwa memprioritaskan instrumen yang memiliki stabilitas dan imbal hasil yang sesuai dengan profil kewajiban perusahaan kepada nasabah," katanya kepada Kontan, Senin (22/9/2025). Menurut Togar, tak menutup kemungkinan asuransi jiwa juga akan melakukan penyesuaian investasi ke berbagai instrumen dengan melihat kondisi yang sedang terjadi. Tujuannya adalah menjaga stabilitas perusahaan, sekaligus memastikan kepercayaan masyarakat terhadap industri tetap terjaga. Togar mengungkapkan asuransi jiwa masih menempatkan investasi terbesar di instrumen Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 223,03 triliun. Adapun penempatan investasi di SBN memakan porsi sebesar 40,45% terhadap total investasi asuransi jiwa pada semester I-2025.
KINERJA INDUSTRI DAN PERUSAHAAN ASURANSI JIWA
Allianz Life Beberkan Tantangan dan Peluang Industri Asuransi di 2025 (msn.com, 23/09/2025)
PT Asuransi Allianz Utama Indonesia atau Allianz Indonesia menyampaikan pandangannya terkait tantangan serta peluang yang akan dihadapi oleh industri asuransi pada tahun 2025.Country Chief Product Officer Allianz Life Indonesia Himawan Purnama mengatakan bahwa kondisi makroekonomi masih menjadi sentimen utama yang akan menentukan kinerja asuransi, khususnya dalam hal pengelolaan dana dan investasi."Karena kalau di asuransi, pengelolaan dana dan investasi pasti sangat berdampak dari kondisi makro ekonomi. Lalu kami juga berharap bahwa kondisi ekonomi itu akan terus membaik, ujar Himawan usai acara Economy Outlook 2025: How Insurance & Media Industry Navigate in The Uncertainty, Rabu (11/12).Himawan menyoroti, saat ini literasi keuangan masyarakat telah terjadi peningkatan, namun dari sisi penetrasi asuransi, memang masih terbilang rendah. Sebab, masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa asuransi bukan kebutuhan primer, melainkan kebutuhan sekunder ataupun tersier.Dengan demikian, Allianz menilai dua hal tersebut merupakan peluang yang bisa perusahaan manfaatkan untuk tahun depan."Jadi, komunikasi dan sosialisasi ini yang perlu kita perhatikan. Jadi itu mungkin tantangan dan peluangnya. Apalagi jika kondisi ekonomi lebih baik pastinya akan jadi peluang yang baik juga buat kita," lanjutnya.
Hadapi Tantangan Pertumbuhan Aset, Begini Strategi Manulife Indonesia (kontan.co.id, 23/09/2025)
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia membeberkan sejumlah tantangan yang dapat menghambat pertumbuhan aset perusahaan asuransi. Untuk mengantisipasinya, perseroan sudah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengatasinya.Director & Chief of Finance Manulife Indonesia Meylindawati mengatakan tantangannya, seperti perubahan suku bunga, inflasi, fluktuasi kurs mata uang asing, serta dinamika ekonomi global dan domestik."Namun, tantangan itu juga membuka peluang bagi Manulife Indonesia untuk terus mengoptimalkan strategi investasi dan inovasi produk," ucapnya kepada Kontan, Senin (22/9/2025).Dengan pendekatan yang adaptif dan pengelolaan risiko yang cermat, menurutnya perusahaan dapat menjaga daya saing dan tetap memberikan nilai optimal bagi nasabah, sekaligus mempertahankan pertumbuhan premi secara berkelanjutan.Selain itu, Meylindawati bilang tingkat literasi dan inklusi asuransi di Indonesia juga bisa menjadi tantangan lainnya. Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat, indeks literasi sektor perasuransian pada 2025 hanya sebesar 45,45% dan inklusinya berada di angka 28,5%.
Klaim Allianz Syariah Tembus Rp 864,7 Miliar per Agustus 2025 (msn.com, 24/09/2025)
PT Asuransi Allianz Life Syariah Indonesia mencatat total pembayaran klaim sebesar Rp 864,7 miliar per Agustus 2025. Jumlah tersebut tumbuh 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.Direktur Allianz Life Syariah Indonesia, Vinny Rika Anwar menyampaikan bahwa klaim kesehatan menjadi yang paling dominan dengan porsi 48% dari total klaim. Selanjutnya diikuti klaim meninggal dunia berkontribusi 16% dan klaim penyakit kritis mencapai 10%.Secara keseluruhan, rasio klaim Allianz Syariah berada di kisaran 105%. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya pemanfaatan manfaat kesehatan, kebutuhan proteksi jiwa, serta dinamika biaya medis yang terus berkembang, jelas Vinny kepada Kontan, Jumat (19/9/2025).Untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan kontribusi dengan beban klaim yang terus meningkat, Allianz Syariah menerapkan sejumlah strategi. Dari sisi produk, perusahaan menghadirkan produk AlliSya Flexi Medical Plan, AlliSya LegacyMax, dan AlliSya Protection Life.Di sisi distribusi, Allianz Syariah memperkuat jalur keagenan berbasis syariah, memperluas kerja sama bancassurance dengan Maybank, SMBC, dan OCBC Indonesia, serta mengoptimalkan kanal digital.
Perluasan cakupan asuransi dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di enam negara ASEAN , dengan kontribusi lebih dari 4 persen terhadap PDB di pasar-pasar utama antara tahun 2023 dan 2050, menurut sebuah studi berjudul "Beyond Coverage The Social and Economic Impact of Insurance in ASEAN ", yang ditugaskan oleh Prudential plc (" Prudential ").Laporan ini menyoroti bagaimana asuransi bukan sekadar jaring pengaman, tetapi pendorong yang kuat bagi pembangunan inklusif dan ketahanan.Studi ini, melalui perpaduan analisis kualitatif dan regresi ekonometrik kuantitatif, bekerja sama dengan PwC, mengevaluasi dampak sosial dan ekonomi asuransi di enam negara ASEAN: Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
Manulife Indonesia Catat Total Aset Capai Rp 62,73 Triliun per Juni 2025 (msn.com, 23/09/2025)
PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia menjadi perusahaan asuransi jiwa dengan aset terbesar di industri per Juni 2025, berdasarkan laporan keuangan (unaudited).Director & Chief of Finance Manulife Indonesia Meylindawati mengatakan, Manulife mencatatkan nilai aset sebesar Rp 62,73 triliun per Juni 2025.Dia menyebut, capaian perusahaan itu tak terlepas dari strategi diversifikasi portofolio investasi yang dilakukan Manulife."Diversifikasi investasi membantu mengurangi risiko terkonsentrasi dan menjaga pertumbuhan yang stabil," ungkapnya kepada Kontan, Senin (22/9/2025).Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per Juni 2025, portofolio investasi Manulife, terdiri dari kombinasi Surat Berharga Negara (SBN), saham, reksadana, dan instrumen lainnya. Contohnya, aset investasi terbesar ada pada SBN yang mencapai sekitar Rp 28,49 triliun dari total nilai aset per Juni 2025.Untuk menjaga aset ke depannya, Meylindawati menyampaikan pihaknya akan senantiasa berinovasi untuk memberikan solusi bagi nasabah dengan meluncurkan berbagai produk, serta meningkatkan akses bagi nasabah dengan memperluas jaringan kantor pemasaran di berbagai kota.
7 Perusahaan Asuransi di Indonesia Berpotensi Merugi Rp 19,3 T (detik.com, 23/09/2025)
Tujuh perusahaan asuransi di Indonesia berpotensi mengalami kerugian hingga Rp 19 triliun lebih. Perusahaan tersebut kini masih dalam status pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)."Tujuh perusahaan berpotensi mengalami penurunan nilai manfaat karena masuk dalam penetapan status intensif dan khusus," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono dalam rapat panja terkait Rancangan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) dengan Komisi XI DPR RI, Selasa (23/9/2025) dikutip detikFinance .Ogi sendiri tidak merinci nama perusahaan asuransi yang mengalami kerugian. "Ini tujuh perusahaan berpotensi mengalami kerugian sebesar Rp 19,34 triliun, kemunduran penurunan nilai manfaat sebesar 52,91%," lanjut dia.OJK juga mencatat sejak 2015 terdapat 10 perusahaan asuransi insolvent alias yang tidak mampu memenuhi kewajiban keuangannya dan telah dicabut izin usahanya. Total kerugian dari 10 perusahaan itu mencapai Rp 19,41 triliun dengan pemegang polis terdampak sebanyak 30.170.Kemudian, saat ini terdapat dua perusahaan asuransi dalam proses restrukturisasi, yakni Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 (AJBB) dan Jiwasraya.
INOVASI PRODUK, TEKNOLOGI, DAN LAYANAN
Industri Asuransi Jiwa Diproyeksi Tumbuh Subur, Ini Pemicunya (liputan6.com, 23/09/2025)
BRI Life resmi meluncurkan produk Asuransi Unggulan Pilihan Keluarga ARUNIKA, yakni produk asuransi jiwa seumur hidup (whole life insurance) yang dihadirkan untuk memberikan perlindungan finansial kepada pemegang polis seumur hidup.Direktur Utama BRI Life Aris Hartanto mengatakan, ARUNIKA dihadirkan sebagai salah satu produk asuransi kelas menengah yang marketnya belum tersentuh dan masih terbuka lebar. Produk ini juga dirancang sebagai solusi perlindungan jiwa yang komprehensif, sekaligus disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan segmen masyarakat kelas menengah di Indonesia."Pertumbuhan sektor asuransi jiwa di masa depan masih terbuka lebar, didukung oleh kesadaran masyarakat yang meningkat terhadap keamanan finansial khususnya di kelas menengah masyarakat Indonesia, serta kebijakan pemerintah yang mendukung promosi asuransi jiwa, menjadi pendorong positif bagi pertumbuhan industri asuransi," kata dia, Selasa (23/9/2025).
FOTO: Sequis Life Luncurkan Sequis Future Saver Insurance (sindonews.com, 23/09/2025)
Sequis Future Saver Insurance Director & Chief Agency Sequis Life Edisjah - Sequis Future Saver Insurance Director & Chief Agency Sequis Life Edisjah - Sequis Future Saver Insurance President Director & CEO Sequis Life Ted Margono(kiri), didampingiDirector & Chief Agency Officer Sequis Life Edisjah(kanan), berbincang saat meluncurkan Sequis Future Saver Insurance di Jakarta, Senin (22/09/2025) malam.
ISU KONSUMEN DAN REPUTASI PUBLIK
Seorang nasabah bank Mandiri cabang Merangin, Syafri bin Juris Sutan Mangkoto, mengeluhkan macetnya pencairan klaim asuransi kematian dari Asuransi Aksa Mandiri. Klaim tersebut diajukan setelah istrinya, Suprapti binti Kasimin, meninggal dunia lima bulan lalu. Namun hingga kini, meski semua syarat dipenuhi, pencairan tak kunjung terealisasi.Syafri menceritakan, pada saat mengajukan pinjaman sebesar Rp150 juta, pihak bank langsung memotong Rp1.100.000 untuk biaya premi asuransi jiwa. Pinjaman sudah berjalan 10 bulan, dan lima bulan lalu istrinya meninggal dunia.Sebagai ahli waris, ia mengajukan klaim asuransi kematian yang seharusnya meringankan beban pinjaman. Tetapi prosesnya justru berbelit.Pernah ada orang dari asuransi datang dari Jakarta ke rumah saya. Saya bawa dia langsung ke kuburan istri saya untuk memastikan bahwa saya tidak merekayasa. Dia bahkan memotret nisan istri saya sebagai bukti. Tapi sampai sekarang tetap tidak ada kejelasan, ungkap Syafri, Minggu (21/9/2025).Yang lebih mengejutkan, sebulan lalu pihak bank datang dengan alasan bahwa klaim tidak bisa dicairkan karena usia istrinya telah melewati ketentuan.Kalau memang lewat umur, kenapa dulu saat pinjaman diterima dan pinjaman saya dipotong untuk asuransi? Saya curiga ada permainan dalam masalah ini, tegasnya.
ISU REGULASI DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
Hakim Cecar Saksi soal Keuntungan Semu Jiwasraya (kompas.com, 24/09/2025)
Hakim sempat mencecar soal keuntungan semu dalam catatan laporan keuangan PT Asuransi Jiwasraya (AJS) dalam sidang dugaan korupsi pengelolaan keuangan dan investasi Jiwasraya tahun 2008-2018. Hal ini ditanyakan oleh Ketua Majelis Hakim, Sunoto, kepada Anggota Tim Likuidasi PT AJS, Iswardi, yang dihadirkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai saksi untuk perkara atas nama terdakwa Mantan Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Isa Rachmatarwata. "(Berdasarkan BAP) Financial reassurance Jiwasraya pada tahun 2009 hanya sebatas memanipulasi pencatatan cadangan premi. Sehingga, berdampak pada laporan keuangan yang seolah-olah untung. Padahal, keuntungan yang dihasilkan merupakan keuntungan semu dari pencatatan," ujar Sunoto, saat sidang di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Selasa (23/9/2025). Iswardi yang mendengarkan keterangan pada berita acara pemeriksaan (BAP) atas namanya hanya menjawab singkat. "Iya," ujar Iswardi. Hakim memperdalam pernyataan tentang keuntungan semu yang disinggung Iswardi. Saat diperiksa penyidik, Iswardi pernah mengatakan Jiwasraya mencatat biaya bunga dividen hingga Rp 50 miliar. Hal ini menjadi perhatian hakim karena produk saving plan yang dikeluarkan Jiwasraya menjanjikan bunga hingga 9-11 persen.
Anggota Komisi XI DPR RI Harris Turino meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lebih tegas mengawasi perusahaan asuransi agar kasus gagal bayar tidak berulang. Menurutnya, akar masalah berbagai kasus gagal bayar di industri asuransi nasional bermula dari pengelolaan investasi yang buruk. Hal itu ia sampaikannya dalam Rapat Panja RUU P2SK dengan ADK OJK Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (23/9/2025). Ia menyebutkan sejumlah kasus besar, seperti Asabri, Jiwasraya, Taspen, hingga Bumi Putera yang semuanya bermuara pada kesalahan investasi. "Walaupun bukan OJK yang melakukan, tapi OJK yang mengawasi. Kalau yang diawasi bisa menipu atau bandel, berarti rambu-rambunya belum cukup tegas. Ini bisa berulang lagi kalau tidak ada perubahan signifikan," ujarnya. Harris menegaskan, OJK tidak bisa lepas tangan dalam kasus-kasus asuransi bermasalah. Sebagai pengawas, OJK harus memperkuat aturan agar tata kelola investasi di industri asuransi menjadi lebih disiplin dan transparan. Selain itu, ia juga menyoroti masalah resolusi asuransi jika ada perusahaan besar yang kolaps. Menurutnya, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) saat ini hanya memiliki dana sekitar Rp243 triliun. Jumlah itu bisa habis hanya untuk menyelamatkan satu atau dua perusahaan besar.
Skema koordinasi manfaat (Coordination of Benefit/CoB) antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta mulai digulirkan sejak Juli 2025. Meski di atas kertas mampu memperluas akses dan kualitas layanan kesehatan bagi peserta JKN, implementasinya menghadapi empat tantangan besar: koordinasi dengan rumah sakit dan TPA, perbedaan administrasi, rendahnya literasi masyarakat, serta hambatan infrastruktur digital. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menegaskan, keberhasilan CoB hanya bisa terwujud jika semua pihakpemerintah, penyedia layanan, hingga perusahaan asuransimenemukan titik temu yang adil dan berimbang.Fokus Utama Harapan publik akan layanan kesehatan yang lebih komprehensif kembali menguat setelah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan resmi menjalankan skema koordinasi manfaat atau Coordination of Benefit (CoB) dengan asuransi swasta sejak Juli 2025. Melalui skema ini, peserta JKN berpeluang mendapatkan perlindungan yang lebih luas, sementara perusahaan asuransi swasta ikut berbagi beban klaim.Namun, implementasi di lapangan masih jauh dari ideal. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat empat tantangan besar yang harus segera diatasi: koordinasi dengan penyedia layanan kesehatan, perbedaan administrasi klaim, rendahnya literasi masyarakat, serta hambatan infrastruktur digital.
OJK Resmi Bubarkan Dana Pensiun Jiwasraya (kabarsdgs.com, 23/09/2025)
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi membubarkan Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) Jiwasraya, seiring pencabutan izin usaha Jiwasraya pada Januari 2025. Langkah ini diambil berdasarkan Pasal 183 UU P2SK yang mengatur bahwa dana pensiun dapat dibubarkan apabila pendirinya telah dibubarkan."Keputusan pembubaran DPPK dan DPLK Jiwasraya sesuai dengan ketentuan Pasal 183 UU P2SK yang mengatur bahwa salah satu alasan pembubaran dana pensiun adalah apabila pendiri dana pensiun telah dibubarkan," ucap Kepala Eksekutif Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono dalam jawaban tertulis dikutip, Sabtu 20 September 2025.Ogi menjelaskan, kebijakan ini merupakan bagian dari proses likuidasi Asuransi Jiwasraya yang tengah berlangsung dan dimaksudkan untuk memastikan penyelesaian sesuai aturan yang berlaku. Untuk DPPK, penyelesaian dilakukan melalui likuidasi aset agar manfaat pensiun dapat dibayarkan sesuai hasil valuasi aktuaria serta laporan keuangan yang sudah diaudit."Adapun kewajiban DPLK Jiwasraya dialihkan ke DPLK lain yang dipilih Pemberi Kerja atau Kelompok Peserta, sehingga hak peserta tetap terlindungi sesuai ketentuan yang berlaku," jelasnya.Meski begitu, nasib ribuan pensiunan Jiwasraya masih belum sepenuhnya jelas.
Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat, Selasa (23/9/2025).Dalam persidangan, mantan Kepala Divisi Aktuaria Jiwasraya , Iswardi, mengungkapkan bahwa perusahaan asuransi pelat merah itu telah mengalami kondisi insolvensi sejak tahun 2007.Iswardi hadir sebagai saksi untuk terdakwa Isa Rachmatarwata, mantan Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan. Dalam kesaksiannya, ia menjelaskan bahwa Jiwasraya mengalami kesulitan solvabilitas karena cadangan premi jauh melebihi nilai aset perusahaan."Tahun 2007, Jiwasraya mengalami kesulitan solvabilitas. Cadangan premi yang dimiliki lebih besar dari aset perusahaan, sehingga tidak mampu memenuhi kewajiban kepada pemegang polis," ujar Iswardi di hadapan majelis hakim.Ia menyebutkan nilai insolvensi Jiwasraya saat itu mencapai sekitar Rp6,7 triliun. Menurutnya, cadangan premi tercatat sebesar Rp11,3 triliun, sementara aset yang dilaporkan hanya sekitar Rp4,6 triliun.
KAMPANYE EDUKASI DAN LITERASI KEUANGAN
PT FWD Insurance Indonesia (FWD Insurance), perusahaan asuransi jiwa yang berfokus pada nasabah dengan dukungan teknologi, menghadirkan rangkaian program kepedulian sosial bertajuk Community Care Month sepanjang Agustus dan September 2025."Lewat Community Care Month, kami ingin mewujudkan nilai perusahaan serta mendorong keterlibatan karyawan dalam aksi sosial bagi komunitas dan masyarakat. Melalui Community Care Month, kami juga mengundang tenaga pemasar dan nasabah ikut serta sehingga kegiatan ini berdampak positif lebih luas," ungakp Chief Human Resources & Marketing Officer FWD Insurance Rudy F Manik, di Jakarta, Selasa (23/9).Dia menjelaskan Community Care Month dimulai dengan pelaksanaan sesi in-class education JA SparktheDream di Bali. Program literasi keuangan yang memasuki tahun ketiganya ini diselenggarakan bekerja sama dengan Prestasi Junior Indonesia (PJI) yang membekali siswa SMP dengan pengetahuan dan keterampilan manajemen keuangan pribadi agar mereka mampu mengendalikan masa depan finansial.
Program penanaman dari Generali Indonesia ini tidak hanya akan ditanamkan secara simbolis di area hotel, tetapi juga disalurkan ke kawasan sekitar seperti Gunung Pancar dan Sentul City, guna memperkuat ekosistem hijau serta mendukung keberlanjutan lingkungan di kawasan Sentul.Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Generali Indonesia untuk melestarikan lingkungan hidup sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.General Manager Aston Sentul, Albert Siregar mengatakan sebagai destinasi yang dikelilingi keindahan alam, menyambut baik inisiatif ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang."Kami merasa terhormat dipercaya menjadi mitra pendukungpenghijauan ini. Penanaman pohon merupakan langkah nyatadalam menjaga keseimbangan alam sekaligus memberikanmanfaat jangka panjang bagi kualitas udara dan kehidupanmasyarakat sekitar," kata Albert dalam keterangan tertulisnya, Selasa (23/9).
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
16.680,00 |
|
IHSG |
8.148,61 |
|
BI Rate |
4.75 % |
Sumber Media:
kontan.co.id, id.investing.com, wartaekonomi.co.id, liputan6.com, wmhg.org, xcloud.id, cnbcindonesia.com, sindonews.com, merdeka.com, koran-jakarta.com, pasardana.id, gorontalo.tribunnews.com, jpnn.com, itworks.id, mediaasuransinews.co.id, wartakota.tribunnews.com, harian.disway.id, infobanknews.com, indotelko.com, sulselnetwork.com, stabilitas.id, rm.id, Ekonomi Neraca, womensobsession.com, kirani.id, mediaindonesia.com, cnnindonesia.com, detik.com, tribunnews.com, konfrontasi.com, beningnews.com, kumparan.com, mistar.id, id.tradingview.com, msn.com, radarseluma.disway.id, jambidaily.com, kompas.com, kabarsdgs.com, tempo.co, fenesia.com, riaumandiri.co, dan digitalbank.id.
