AAJI Daily News - 03 Maret 2016
HEADLINE NEWS:
- Generali: Umumkan Pemenang Undian Gebyar Gemilang
- Generali Indonesia Targetkan 15 Ribu Agen Berlisensi
- Prudential Indonesia Luncurkan PRUlink Syariah Edu Protection
- Prudential Merilis PRUlink Syariah Edu Protection
- Prudential Rilis Asuransi Pendidikan Syariah
- Prudential Luncurkan PRUlink Syariah Edu Protection
- Asuransi Tugu Mandiri Targetkan Premi Rp 420 Miliar
- Unit Link, Asuransi dengan Fitur Investasi
- BCA Life Bukukan Premi hingga Rp 110,87 Miliar
- Premi BCA Life Melonjak
- Pertumbuhan Premi Asuransi Anjlok
- [Foto] Aset Manulife
- [Foto] Tim Futsal AIA Indonesia
- Survei Manulife: Masyarakat Belum Punya Perencanaan Keuangan Jangka Panjang
- Inbreng Jiwasraya ke Bank BUMN Terganjal Ketentuan SPP
- Asuransi Bakal Kurangi Porsi Deposito
- [Foto] Pertumbuhan Aset
- IHSG Masih Bertahan di Zona Hijau
- BI Rate Ada Peluang Turun Lagi
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Generali: Umumkan Pemenang Undian Gebyar Gemilang
PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia mengumumkan pemenang undian Gebyar Gemilang di Jakarta, Selasa (23/2). Program undian berhadiah total lebih dari Rp200 juta ini dilaksanakan sejak Februari 2015 bersamaan dengan peluncuran produk asuransi unit-link Gemilang. Gemilang adalah produk unitlink terjangkau dari Generali yang mengincar pasar aspiring. Dengan premi mulai Rp100 ribu per bulan, Gemilang ditujukan untuk memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat yang belum pernah memiliki asuransi. Penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Karena itu, Generali meluncurkan Gemilang untuk memperkenalkan asuransi kepada masyarakat Indonesia. (Tempo, 29/2, Hal. 66)
Generali Indonesia Targetkan 15 Ribu Agen Berlisensi
PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia, menargetkan pada tahun ini jumlah agen berlisensi mencapai 15 ribu agen. Di samping penambahan kuantitas, Generali Indonesia juga terus meningkatkan kualitas seluruh agennya agar pelayanan yang diberikan kepada nasabah menjadi lebih baik. Sebagai gambaran, pada tahun lalu, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memperkirakan jumlah tenaga pemasar, atau agen asuransi jiwa Indonesia berjumlah 500 ribu orang. Hingga akhir tahun 2014, jumlah total tenaga pemasar berlisensi dari 50 perusahaan asuransi yang tergabung AAJI, mencapai 414.595 orang. Wianto, Director Marketing Group Head Generali Indonesia, mengatakan saat ini jumlah agennya yang berlisensi sekitar 11 ribu orang. Diharapkan, adanya lisensi tersebut, memberikan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan asuransi dapat terus meningkat. Selain itu, pihaknya pun menargetkan untuk melakukan inovasi produk dan servis demi menunjang kinerja pertumbuhan Generali Indonesia. Hal ini, katanya, semakin diperkuat lagi dengan adanya pengembangan digitalisasi bisnis proses. Edy Tuhirman, Chief Executive Officer (CEO) Generali Indonesia, menyampaikan pendapatan premi bruto perseroan pada akhir tahun 2015 tumbuh sekitar 13,4%. Secara komposisi, baik reguler premium unit link dengan single premium sama-sama mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Adapun untuk reguler tumbuh 48%, sedangkan single premium sebesar 52%. Untuk tahun ini, perusahaan akan fokuskan pada peningkatan single premium. (ift.co.id, 2/3) http://www.ift.co.id/id/news/finansial/asuransi/generali-indonesia-targetkan-15-ribu-agen- berlisensi
Prudential Indonesia Luncurkan PRUlink Syariah Edu Protection
Melengkapi produk asuransi jiwa terkait investasi untuk dana pendidikan anak PRUlink edu protection yang diluncurkan pada Bulan September 2015 lalu, kini PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia) menghadirkan PRUlink syariah edu protection. Serupa dengan produk konvensional yang diluncurkan sebelumnya, produk asuransi pendidikan ini merupakan produk asuransi yang terkait investasi (unit link) dengan beragam manfaat untuk melindungi rencana pendidikan anak. Produk baru ini merupakan produk asuransi jiwa terkait investasi untuk dana pendidikan yang dirancang sesuai prinsip syariah dengan manfaat perlindungan asuransi jiwa yang ditujukan untuk membantu perencanaan keuangan bilamana musibah datang. PRUlink syariah edu protection juga memberikan inovasi manfaat bulanan berupa dana tunai yang dapat digunakan sampai anak berusia 18 atau 25 tahun (sesuai pilihan di awal), serta kontribusi (premi) yang akan diteruskan pembayarannya oleh Prudential, apabila terjadi risiko terhadap orang tua, seperti meninggal dunia, mengalami kondisi kritis, atau menderita cacat total dan tetap. Survei yang dilakukan Prudential Indonesia pada tahun 2015 lalu telah melatarbelakangi lahirnya produk PRUlink edu protection baik konvensional maupun syariah. Survei tersebut mengungkapkan para orang tua di Indonesia menyadari dan memprioritaskan pentingnya mempersiapkan pendidikan yang terbaik bagi anak, namun banyak di antara mereka belum mengambil langkah nyata untuk mewujudkannya. PRUlink syariah edu protection memiliki 5 keistimewaan, yaitu pertama, melindungi anak sebagai tertanggung utama dan orang tua sebagai tertanggung tambahan dalam satu polis. Kedua, memberikan manfaat bulanan berupa dana tunai sampai anak berusia 18 atau 25 tahun. Ketiga, manfaat ini akan diperoleh apabila terjadi risiko terhadap diri orang tua. Keempat, setiap 3 (tiga) tahun sekali manfaat bulanan tersebut akan naik sebesar 15% dari nilai manfaat bulanan awal. Kelima, memberikan kemudahan untuk memperoleh perlindungan yang sama bagi anak kedua sesuai ketentuan yang berlaku di Prudential Indonesia. (Beritasatu.com, 2/3) http://www.ift.co.id/id/news/finansial/asuransi/generali-indonesia-targetkan-15-ribu-agen- berlisensi
Berita serupa:
- Infovesta.com, 2/3. Prudential Merilis PRUlink Syariah Edu Protection http://www.infovesta.com/infovesta/news/readnews.jsp?id=d362b248-acb9-4249- 9f3d-bf90b1d1988c
- Bisnis Indonesia, 3/3, Hal. 21, Prudential Rilis Asuransi Pendidikan Syariah
- Investor Daily, 3/3, Hal. 23, Prudential Luncurkan PRUlink Syariah Edu Protection
Asuransi Tugu Mandiri Targetkan Premi Rp 420 Miliar
PT Asuransi Jiwa Tugu Mandiri menargetkan premi Rp420 miliar meningkat dari tahun lalu yang tercatat Rp340 miliar atau tumbuh 23,5%. Pertumbuhan yang double digit tersebut akan dicapai dengan beberapa strategi. Direktur Teknik dan Pemasaran Tugu Mandiri, Khusnun Arief mengatakan tahun ini perseroan akan mulai gencar memasarkan produk unitlink dengan menambah dua hingga tiga produk unitlink lagi untuk mendongkrak premi. Selama ini perseroan baru memiliki satu produk unit link. Perseroan juga akan menambah jumlah agen hingga hampir 10 kali lipat dari 100 menjadi 1000 agen. Perseroan juga akan menggandeng perusahaan mitra pemasaran yang mengandalkan e-commerce untuk menjajakan produknya. Perseroan akan gencar membidik peluang premi dari unit link karena menangkap peluang. Selain kondisi ekonomi eksternal yang diperkirakan akan menarik investor kembali ke Indonesia. Rezim suku bunga rendah yang dicanangkan pemerintah juga diyakini akan menarik nasabah mencari peluang investasi lain seperti melalui unit link. (Infobanknews.com, 2/3)
http://infobanknews.com/asuransi-tugu-mandiri-targetkan-premi-rp420-miliar/
Unit Link, Asuransi dengan Fitur Investasi
Produk unit link merupakan produk perlindungan asuransi jiwa yang dikombinasi oleh manfaat investasi. Dalam rencana keuangan, investasi dan proteksi adalah dua hal yang wajib dirancang sejak awal. Proteksi, melindungi Anda dari risiko keuangan yang tiba-tiba terjadi, misalnya meninggal dunia, cacat tetap, ataupun sakit. Jika pencari nafkah utama dalam keluarga mengalami risiko tidak terduga seperti itu, tentu akan sangat mempengaruhi kondisi keuangan keluarga. Dengan memiliki produk unit link, Anda mendapatkan manfaat proteksi sekaligus investasi. Unit link menawarkan banyak pilihan investasi dengan potensi imbal hasil (return) yang bervariasi, dari yang rendah dan cenderung aman, hingga potensi imbal hasil yang tinggi. Ada variasi instrumen yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan pertimbangan risiko seperti instrumen saham, obligasi, campuran ataupun pasar uang. Hal inilah yang membuat produk unit link sangat menarik dan diminati karena menawarkan imbal hasil yang jauh di atas tabungan ataupun deposito. Salah satu produk unit link yang memiliki kinerja yang sangat bagus dan bersaing di pasar adalah produk MNC Link dari MNC Life. Terbukti, dua unit link MNC Life yaitu unit link MNC Aman dan MNC Konservatif Syariah mendapatkan predikat “Sangat Bagus” dari Majalah Infobank berdasarkan kinerja investasinya selama setahun pada 2015. Selain itu, unit link MNC Aman juga mendapatkan predikat “Sangat Bagus” untuk kinerja investasinya selama tiga tahun. Salah satu kelebihan dari unit link MNC Aman adalah karena tingkat likuiditasnya cukup tinggi dengan potensi risiko yang rendah. Unit link MNC Aman dapat unggul sepanjang tahun 2015 dengan memberikan imbal hasil hingga 7,06% kepada nasabahnya. (Koran-sindo.com, 2/3)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=6&n=15&date=2016-03-02
BCA Life Bukukan Premi hingga Rp 110,87 Miliar
PT Asuransi Jiwa BCA atau BCA Life pada tahun lalu membukukan premi asuransi sebesar Rp110,87 miliar, atau naik 1.133,5% dibandingkan tahun sebelumnya hanya Rp8,98 miliar. Presiden Direktur & CEO BCA Life, Christine Setyabudhi mengatakan, peningkatan premi tersebut didapat dari enam produk yang mulai dipasarkan sepanjang tahun 2015. BCA Life mendapatkan izin operasi pada 14 Juli 2014, dan sepanjang tahun 2015 telah memiliki tiga channel distribusi, yakni bundling product, kumpulan, dan telemarketing. Tahun ini BCA Life menargetkan perolehan premi dua kali lipat lebih besar dibandingkan tahun 2015 lalu. Rencananya tahun ini BCA Life akan meluncurkan delapan produk baru, melengkapi channel distribution dengan face to face channel dan bancassurance yang akan menyasar nasabah BCA. (Viva.co.id, 2/3)
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/742862-bca-life-bukukan-premi-hingga-rp110-87- miliar
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 3/3, Hal. 21, Premi BCA Life Melonjak
Pertumbuhan Premi Asuransi Anjlok
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sempat memprediksi pertumbuhan premi asuransi umum dikisaran 12-13 persen. Pasalnya hingga kuartal ke III, pertumbuhan premi bruto industri asuransi sempat menyentuh angka 10 persen. Namun di kuartal akhir 2015 pertumbuhannya justru anjlok hingga ke angka 6,7%. Premi bruto industri asuransi pada 2015 mencapai Rp58,9 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 6,7 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp55,2 triliun. Bahkan, kelas usaha kendaraan bermotor memperlihatkan penurunan paling tinggi sebesar 82% bila dibandingkan peningkatan tahun sebelumnya dengan pembukuan premi bruto Rp16,3 triliun. Di sisi lain, pertumbuhan terbesar dibukukan oleh lini asuransi kredit sebesar 52,8% dengan nominal Rp3,9 triliun. Penurunan dua kelas usaha terbesar disebabkan oleh adanya Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penetapan Tarif Premi atau Kontribusi Pada Lini Usaha Asuransi Harta Benda dan Asuransi Kendaraan Bermotor. Meski tumbuh diluar ekspektasi, namun OJK menargetkan pertumbuhan aset dari premi industri asuransi mencapai 15 hingga 20% pada 2016, didorong keyakinan akan pulihnya kondisi ekonomi yang akan memicu penarikan premi lanjutan dan baru. Menurut Firdaus Djaelani, Kepala Dewan Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK, dampak dari paket kebijakan pemerintah untuk menyelesaikan pelemahan ekonomi pada 2015 sudah terasa dan akan segara berdampak pada industri. Pemulihan daya beli masyarakat dan percepatan program pemerintah untuk infrastruktur, lanjutnya, akan mengerek permintaan kepada bisnis asuransi dan akhirnya menggenjot pendapatan perusahaan. Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero) Hendrisman Rahim optimistis premi di tahun ini bisa meningkat. Sebab tingkat kesadaran masyarakat untuk membeli asuransi semakin meningkat. Tahun ini, Jiwasraya menargetkan premi sebesar Rp13 triliun, lebih besar dari proyeksi pendapatan premi tahun lalu, Rp10 triliun. Wakil Direktur Utama PT BNI Life Insurance Geger Maulana juga memasang target pendapatan premi bruto lebih besar dua kali lipat dari tahun lalu. Tahun lalu, BNI Life meraih premi Rp3,2 triliun (unaudited). Dengan asumsi naik dua kali lipat, berarti target premi BNI Life tahun ini Rp6,4 triliun. (neraca.co.id, 2/3) http://www.neraca.co.id/article/66260/pertumbuhan-premi-asuransi-anjlok
[Foto] Aset Manulife
Manulife Indonesia mengelola aset total sebesar Rp12,6 triliun yang dimiliki oleh lebih dari 800 ribu karyawan di 4.898 perusahaan. (Bisnis Indonesia, 3/3, Hal. 21)
[Foto] Tim Futsal AIA Indonesia
Chief Marketing Officer PT AIA Financial Lim Chet Ming bersama kapten tim Bambang Pamungkas, saat konferensi pers tim futsal wakil Indonesia ke AIA Championship Regional Hong Kong. Tim dari Indonesia akan melawan perwakilan dari delapan negara Asia-Pasifik yang merupakan kawasan operasional AIA sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam mempromosikan hidup sehat. (Bisnis Indonesia, 3/3, hal. 21)
Survei Manulife: Masyarakat Belum Punya Perencanaan Keuangan Jangka Panjang
Masyarakat Indonesia dinilai masih gagal menyimpan dana untuk kebutuhan jangka panjang karena masih terfokus pada menabung di tabungan atau deposito. Hasil survei Manulife menunjukkan lebih dari 70% masyarakat atau investor tidak memiliki target dana simpanan. Lebih dari separuh investor (53%) menghabiskan 70% atau lebih penghasilannya setiap bulan. Sementara 1 dari 10 investor menghabiskan lebih dari 90% penghasilan bulanannya. Selain itu, 1 dari 4 investor akan meminjam uang dalam kurun waktu 3 bulan jika mereka kehilangan sumber penghasilan utama. Sebanyak 40% investor tidak memantau pengeluaran mereka sama sekali. Dan lebih dari 70% investor mengatakan bahwa mereka tidak memiliki target jumlah dana simpanan. Meski kurang disiplin dalam pengelolaan keuangan, sebagian besar investor menyadari bahwa mereka seharusnya mengelola keuangan dengan lebih baik, di mana 59% investor berharap memiliki perencanaan investasi yang lebih baik. Secara spesifik, 25% investor menyesali keputusan menyimpan dana tunai di tabungan atau deposito dan 28% lainnya menyesal tidak berinvestasi pada waktu yang tepat. OJK akan mengoptimalkan kapasitas dan peran IKNB seperti asuransi dan reasuransi, lembaga pembiayaan, dana pensiun, modal ventura dan lembaga keuangan khusus lain dalam mendukung pembiayaan. (HE Neraca, 3/3, Hal. 5)
Inbreng Jiwasraya ke Bank BUMN Terganjal Ketentuan SPP
Rencana pemerintah untuk inbreng (memasukkan harta nontunai) saham kepemilikan atas PT Asuransi Jiwasraya ke bank BUMN berpotensi terganjal ketentuan single presence policy (SPP) dan perlu ada kajian lebih lanjut, karena hampir semua bank BUMN telah memiliki perusahaan asuransi jiwa. Sejauh ini, ketentuan porsi minimal kepemilikan saham untuk pemegang saham pengendali (PSP) minimal 25%. Namun, dalam kasus tertentu, OJK dapat menetapkan langsung suatu institusi menjadi PSP. Kepemilikan dibagi rata 25% kepada empat bank BUMN pun tidak disarankan OJK karena harus ada yang menjadi PSP yang porsinya lebih besar dibanding yang lain. Berdasarkan laporan keuangan kuartal IV-2015, kepemilikan saham atas Jiwasraya sebesar 100% merupakan milik pemerintah RI. Sementara, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) belum lama ini telah menyelesaikan akuisisi atas PT Asuransi Jiwa Bringin Sejahtera (Bringin Life). Lalu, PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga sudah memiliki perusahaan asuransi jiwa. PT Bank Tabungan Negara (BTN) dan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) sedang memproses pembentukan perusahaan patungan berupa asuransi jiwa dan BTN akan menjadi pengendali bersama Dana Pensiun BTN sebesar 70%. Bank Mandiri pun terkena aturan SPP oleh OJK atas kepemilikan saham perusahaan asuransi patungan dengan Grup AXA. Bank Mandiri memiliki anak usaha PT Mandiri AXA Generali Insurance, PT AXA Mandiri Financial Services, dan PT Asuransi Jiwa Inhealth Indoensia. Bank Mandiri menguasai 60% saham Mandiri Inhealth maupun MAGI, sedangkan AXA Mandiri sebesar 51%. Deputi Bidang Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Jasa Konsultan Kementerian BUMN Gatot Trihargo menjelaskan, dalam road map kementerian BUMN, khusus untuk BUMN Jasa akan dibentuk empat holding. Adapun, Jiwasraya direncanakan untuk diinbrengkan dengan bank BUMN karena bank BUMN merupakan pihak yang potensial menjadi induk dan menyediakan pendanaan maupun permodalan bagi perusahaan asuransi itu. (Investor Daily, 3/3, Hal. 23)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Asuransi Bakal Kurangi Porsi Deposito
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor menjelaskan, likuiditas dan imbal hasil menjadi dua faktor utama dalam menentukan pilihan instrumen investasi. Data AAUI menunjukkan porsi investasi industri asuransi umum di deposito pada 2015 mencapai kisaran 48%. Instrumen lain yang cukup mendominasi portofolio yaitu obligasi korporasi dan surat berharga negara atau SBN (17%), reksadana (15%), dan penyertaan langsung (7%). Berlakunya POJK yang mewajibkan investasi SBN akan mendorong pelaku asuransi untuk mengubah strategi investasi. Namun, instrumen bertenor pendek masih menjadi pilihan dominan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas asuransi umum yang tinggi. AAUI berharap pemerintah dapat menyediakan suplai SBN yang lebih banyak dengan tenor lebih pendek. OJK berencana mengatur batas atas suku bunga simpanan berjangka atau deposito bagi kelompok bank umum kegiatan usaha IV dan III. OJK pada Januari 2016 meluncurkan POJK No. 1/2016 tentang Investasi Surat Berharga Negara bagi Lembaga Jasa Keuangan Non-Bank yang mewajibkan perusahaan asuransi jiwa memiliki portofolio SBN minimal 30% dari total investasi sedangkan perusahaan asuransi umum diberikan batasan 20%. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Togar Pasaribu, deposito tidak dipandang sebagai instrumen dengan tujuan investasi bagi asuransi jiwa. Instrumen tersebut disiapkan sebagai cadangan teknis, khususnya untuk menutup klaim nasabah asuransi jiwa. Kendati begitu, Togar menilai ada potensi penyesuaian porsi instrumen tersebut seiring dengan diterapkannya kewajiban suku bunga rendah. Data OJK menunjukkan nilai total investasi industri asuransi jiwa mencapai Rp283,20 triliun pada 2015. Saham dan reksadana masih mendominasi porsi investasi dengan sumbangsih masing- masing 29,13% dan 24,03%. Porsi investasi industri di deposito berjangka, sertifikat deposito, dan SBN masing-masing tercatat senilai Rp48,36 triliun (17,08%) dan Rp45,12 triliun (15,93%). (Bisnis Indonesia, 3/3, Hal. 21)
[Foto] Pertumbuhan Aset
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menargetkan pertumbuhan aset dari premi industri asuransi mencapai 15 hingga 20% pada 2016, didorong keyakinan akan pulihnya kondisi ekonomi yang akan memicu penarikan premi lanjutan dan baru. (Investor Daily, 3/3, Hal. 23)
IHSG Masih Bertahan di Zona Hijau
Pada Rabu (2/3), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 47,473 poin (0,99%) ke 4.827,458. Sementara indeks LQ45 ditutup menguat 9,651 poin (1,15%) ke 846.764. Penguatan tertinggi terjadi di sektor infrastruktur sebesar 1,30% disusul consumer goods 1,29% dan manufaktur 1,20%. Sebanyak 175 saham naik, 62 saham turun, dan 96 saham stagnan. Frekuensi saham yang ditransaksikan sebanyak 150.721 kali dengan total volume sebanyak 1,998 miliar saham senilai Rp2,839 triliun. Dana asing yang masuk sekitar Rp361,483 miliar. Penguatan ini didorong oleh laju bursa saham AS yang ditutup positif dan diikuti bursa saham Asia. Sentimen positif dari dalam negeri yaitu deflasi 0,09% untuk periode Februari 2016 yang mendorong mayoritas saham-saham dalam negeri mengalami penguatan, apalagi disertai mata uang rupiah yang menguat terhadap dolar AS. Analis Teknikal Mandiri Sekuritas Hadiyansyah menambahkan bahwa kondisi pasar saham di dalam negeri mulai memasuki fase tren penguatan. (HE Neraca, 3/3, Hal. 3)
BI Rate Ada Peluang Turun Lagi
Pada Februari 2016 terjadi inflasi negatif atau deflasi sebesar 0,09% secara bulanan. Laju inflasi ke depan diperkirakan tetap rendah, bahkan deflasi bisa berlanjut ke Maret dan April, sehingga inflasi tahun ini berpotensi di bawah 4%. Rendahnya inflasi membuka peluang bagi Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan (BI rate) yang saat ini dipatok 7%. Namun, pemerintah tetap mencermati tren inflasi rendah karena deflasi berkepanjangan dapat berdampak negatif terhadap perekonomian nasional. Dengan kemampuan pemerintah menekan inflasi hingga di bawah 4% BI rate bisa 2% di atas inflasi atau sekitar 6% hingga akhir tahun ini, kata Purbaya Yudhi Sadewa, ekonom. Menkeu Bambang Brodjonegoro mengatakan harga barang dan jasa pada Februari jauh lebih rendah dibandingkan Januari dan pemerintah masih berharap inflasi pada 2016 bergerak sesuai target APBN, tidak lebih dari 4%. Dalam rapat kerja bersama Banggar DPR, Menkeu mengatakan inflasi yang dipatok dalam APBN 2016 pada level 4,7% bisa turun dalam APBN-P. (Suara Pembaruan, 2/3, Hal. 8)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.301 |
|
IHSG |
4.836,20 |
|
BI Rate (per 18 Febuari 2016) |
7,00% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
