AAJI Daily News - 27 Januari 2016
HEADLINE NEWS
- Jumlah Aktuaris Minim, Bukti Ketidaksiapan Arungi MEA
- FWD Life Hadirkan Terobosan Baru
- [Foto] Solusi Digital FWD
- [Foto] Tunjuk
- Dua Asuransi Jiwa Perbesar Portofolio SBN
- Aturan Modal Berjenjang Disiapkan
- BI Rate Terlalu Rendah Picu Aksi Borong Dolar
MENGENAI AAJI
Jumlah Aktuaris Minim, Bukti Ketidaksiapan Arungi MEA
Aktuaris berperan penting dalam menyediakan analisis risiko dalam pengambilan keputusan di industri asuransi. Namun, memasuki era pasar bebas tingkat regional, bidang aktuaria di Indonesia ternyata masih jauh dari kata siap. Persatuan Aktuaris Indonesia (PAI) menyatakan hingga awal tahun ini baru memiliki 399 anggota. Dari jumlah tersebut, 206 anggota telah meraih gelar Aktuaris atau Fellow of the Society of Actuaries of Indonesia (FSAI), sedangkan, 193 anggota lainnya masih berstatus sebagai Ajun Aktuaris atau Associate of the Society of Actuaries of Indonesia (ASAI). Sebanyak 142 anggota fellow dan 99 anggota associate dari PAI bekerja di industri asuransi jiwa di Indonesia. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat hingga saat ini terdapat 51 perusahaan anggota. Dengan asumsi ideal perusahaan asuransi jiwa membutuhkan kira-kira empat aktuaris fellow dan enam aktuaris associate, seharusnya ada 204 aktuaris fellow and 306 aktuaris associate. Minimnya suplai aktuaris membuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya merelaksasi aturan yang mewajibkan pelaku industri asuransi umum untuk menggunakan jasa aktuaris. Peraturan Menteri Keuangan No.53/PMK.010/2012 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi mewajibkan penilaian terhadap liabilitas dalam bentuk cadangan teknis wajib dilakukan oleh aktuaris perusahaan. Guna mendorong pemenuhan tenaga ahli itu, Edy Setiadi mengatakan otoritas bekerja sama dengan pemerintah Kanada. Universitas Waterloo di Kanada akan bekerja sama dengan tujuh universitas di Indonesia untuk mengembangkan tenaga aktuaris. (Bisnis.com, 26/1)
http://finansial.bisnis.com/read/20160126/215/513113/jumlah-akturis-minim-bukti-ketidaksiapan- arungi-mea
INDUSTRI ASURANSI JIWA
FWD Life Hadirkan Terobosan Baru
PT FWD Life Indonesia menciptakan terobosan baru dalam digital agency dengan meluncurkan M-Recruitment, aplikasi mobile yang mendukung agen FWD Life untuk melakukan proses perekrutan yang lebih cepat dalam berasuransi. FWD Life menerapkan diferensiasi unik, di mana semua agen mampu melakukan proses asuransi secara real time melalui penggunaan tablet dan portal pembayaran. Pengembangan bisnis digital agency FWD Life merupakan bagian perjalanan perusahaan mendukung agen dalam peningkatan produktivitas dan pengoptimalan peluang bisnis. FWD Life juga menjalin kemitraan dengan Excelso (di 60 outlet) dengan memperkenalkan FWD Anywhere, konsep meeting point baru bagi agen FWD Life dan pelanggan. FWD Anywhere memungkinkan ekosistem digital yang paling user-friendly sesuai dengan tren gaya hidup dan kebutuhan yang dinamis saat ini sehingga dapat memberikan pengalaman yang berbeda dalam berasuransi. (Seputar Indonesia, 27/1, Hal. 19)
Berita serupa:
- Suara Pembaruan, 26/1, Hal. 11, [Foto] Solusi Digital FWD
- Rakyat Merdeka, 27/1, Hal. 14, [Foto] Tunjuk Dua Asuransi Jiwa Perbesar Portofolio SBN
Dua perusahaan asuransi jiwa yaitu Sequis Life dan Commonwealth Life memilih membesarkan portofolio investasi di instrumen surat berharga negara (SBN) sebagai upaya meraih hasil investasi yang baik dan kecukupan atas rasio risk based capital (RBC). Tahun lalu, imbal hasil yang diraih Sequis mencapai 9%. Sejauh ini, persentase investasi terbesar (70%) adalah SBN. Tahun lalu, hasil investasi asuransi jiwa menurun 152,7% ke minus Rp15,91 triliun pada kuartal III-2015 padahal total dana investasi industri meningkat 5% menjadi Rp307,29 triliun. Commonwealth Life menanamkan 50% investasinya di bonds, dan 80-90% dari itu merupakan investasi di SBN karena terbilang aman dan terjamin oleh pemerintah. Tahun lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan relaksasi bersifat sementara berupa perubahan formula perhitungan RBC bagi perusahaan asuransi yang membutuhkan dalam bentuk pelonggaran atas ketentuan penyesuaian modal minimum berbasis risiko dari 100% menjadi 50%. (Investor Daily, 27/1, Hal. 22)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Aturan Modal Berjenjang Disiapkan
Otoritas Jasa Keuangan akan melonggarkan ketentuan modal minimal dalam pendirian asuransi yang beroperasi di tingkat provinsi dan kabupaten. OJK optimistis bahwa aturan ini dapat mendorong pertumbuhan asuransi dan meningkatkan densitas. Melalui regionalisasi ini, para pengusaha yang mendirikan usaha asuransi untuk wilayah tertentu dengan segmen khusus tidak harus menyediakan modal yang berlaku saat ini yakni minimal Rp100 miliar. Melalui kelonggaran ini, banyak pemerintah daerah yang tertarik mendirikan perusahaan asuransi. Selain itu, perusahaan skala kabupaten atau provinsi akan mempercepat penetrasi asuransi mikro karena lebih dekat dengan masyarakat. Hendrisman Rahim, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), menuturkan pelonggaran ini akan berdampak positif dan membuat daerah turut mengembangkan asuransi. AAJI terus mendorong penjualan asuransi mikro. Meskipun belum dapat menjual 10.000 polis per perusahaan per tahun, AAJI telah membentuk konsorsium untuk mempermudah penetrasi ke berbagai daerah. (Bisnis Indonesia, 27/1, Hal. 21)
BI Rate Terlalu Rendah Picu Aksi Borong Dolar
Bank Indonesia (BI) sebaiknya tidak menurunkan lagi BI rate karena bisa menjadi pil pahit bagi rupiah, kata Tony Prasetiantono, Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM). Jika suku bunga diturunkan dengan cepat, maka orang akan berbondong-bondong menukar dolar AS. Pemerintah Indonesia sepertinya ingin mencontoh kebijakan AS dengan menurunkan suku bunga. Kehati-hatian ini perlu karena Indonesia masih bergantung dengan dolar. Sebaliknya, Aldian Taloputra, Ekonom Senior Standard Chartered Bank, berpendapat bahwa guna mempertahankan dan memacu sisi konsumsi sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi, BI akan memangkas lagi BI rate 50 Bps sepanjang tahun ini. Diperkirakan kenaikan Fed Fund Rate hanya sekali sebesar 25 basis poin di Maret 2016 dengan pertimbangan ekonomi AS yang bakal lebih memburuk tahun ini. (Rakyat Merdeka, 27/1, Hal. 18)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.886 |
|
IHSG |
4.510,47 |
|
BI Rate (per 14 Januari 2016) |
7,25% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
