AAJI Daily News - 9 - 11 Januari 2016


HEADLINE NEWS

  1. Bernilai Tinggi, Berpendapatan Tinggi
  2. Kewajiban Investasi SBN – Pelaku Tak Setuju Batas Minimal
  3. Asuransi Penting untuk Bekal Masa Depan
  4. DBS-Manulife Kembangkan Layanan Digital
  5. Sun Life Buka Dua Kantor di Jawa Timur
  6. Sun Life Tambah Kantor
  7. [Foto] Pasar Potensial
  8. Perluas Pasar Syariah
  9. Investor Asing Ingin Masuk Bringin Life
  10. Reindo Syariah Ingin Tumbuh 30%
  11. Pasar Asuransi Syariah Sangat Besar
  12. [Foto] IHSG Menguat

MENGENAI AAJI

Bernilai Tinggi, Berpendapatan Tinggi

Lilis Halim, Consultant Director Towers Watson Indonesia, menyebutkan profesi yang menjadi buruan, antara lain, aktuaris, underwriter, geologist, tenaga drilling, sales & marketing, researcher, dan profesi teknologi informasi (TI). Ada beberapa alasan yang menjadi indikator profesi-profesi tersebut menjadi buruan. Aktuaris dan underwriter menjadi buruan karena banyak perusahaan asuransi yang sedang tumbuh pesat. Kesadaran masyarakat untuk memproteksi diri dan berinvestasi mulai meluas. Apabila melihat kinerja industri ini hingga kuartal II-2015, total pendapatan premi industri asuransi jiwa meningkat 26,6% menjadi Rp67,82 triliun. Peningkatan total pendapatan premi dipengaruhi oleh pertumbuhan premi bisnis baru sebesar 28,2% dan premi lanjutan sebesar 24,4%. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menilai pertumbuhan premi lanjutan sebesar itu merupakan indikator makin banyak masyarakat Indonesia yang memahami sifat jangka panjang perlindungan asuransi jiwa, sehingga mereka berkomitmen terus mempertahankan kepemilikan polis mereka untuk melindungi keuangan saat risiko terjadi di masa depan. Adapun pertumbuhan premi baru mengindikasikan sinyal positif kepercayaan masyarakat kepada industri asuransi jiwa sebagai penyedia sarana proteksi keuangan jangka panjang bagi masyarakat. Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu mengatakan profesi agen memiliki prospek yang sangat cerah ke depan. Menurut dia, profesi ini mampu menghasilkan pendapatan yang signifikan bagi orang-orang yang menekuni profesi ini dengan serius. Ada  perkumpulan Million Dollar Round Table (MDRT) Indonesia di mana seorang agen asuransi yang ingin masuk ke klub ini harus mengantongi premi sebesar Rp543,48 juta per tahun. Sementara itu, untuk masuk ke dalam kualifikasi yang lebih tinggi yakni Court of The Table (COT), agen harus memperoleh premi sebesar Rp1,63 miliar per tahun. Ada pula Top of The Table (TOT) sebagai klub yang lebih tinggi. Syaratnya, para agen harus mengumpulkan premi Rp3,26 miliar per tahun. (Wartaekonomi.co.id, 11/1) http://wartaekonomi.co.id/read/2016/01/11/86476/bernilai-tinggi-berpendapatan-tinggi.html

Narasumber:

  • Togar Pasaribu, Pjs Direktur Eksekutif, AAJI
  • Lilis Halim, Consultant Director Towers Watson Indonesia
  • Mirta Amaranti, Human Resources Expert, PPM Manajemen

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Kewajiban Investasi SBN – Pelaku Tak Setuju Batas Minimal

Sejumlah pelaku industri asuransi meminta Otoritas Jasa Keuangan tidak menentukan batas minimal porsi surat berharga negara (SBN) dalam portofolio investasi perusahaan. Chris Bendl, CEO PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia menyatakan SBN merupakan instrument investasi berkualitas dengan potensi imbal hasil yang terjaga, sehingga pelaku usaha tidak perlu diarahkan untuk memiliki instrumen tersebut melalui pembatasan porsi tertentu. Dengan nada yang sama, Nicolaus Prawiro dari PT Asuransi Cakrawala Proteksi berharap otoritas membatalkan kewajiban tersebut, terutama bagi pelaku industri asuransi umum dengan set dan nilai investasi yang relatif kecil. Penetapan batas minimal portofolio investasi dilihat sebagai bentuk intervensi regulator dan akan memengaruhi iklim investasi. Yasril Y Rasyid, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia melihat, kewajiban mengalokasikan investasi sebesar 10% pada SBN akan mendorong porsi kepemilikan instrument tersebut oleh investor lokal, sehingga akan menciptakan ketahanan sumber dana dan peningkatan ekonomi nasional. (Bisnis Indonesia, 8/1)

Asuransi Penting untuk Bekal Masa Depan

Berdasarkan data Retirement Well Study yang dilakukan DBS dan Manulife, 56% penduduk Indonesia khawatir ketika menghadapi masa pensiun, dan 28% di antaranya khawatir terhadap kemampuan membayar biaya medis dan sisanya khawatir siapa yang akan merawat mereka saat memasuki masa pensiun. Asuransi bisa dipilih untuk mempersiapkan diri memasuki masa pensiun dengan dua alasan: 1) proteksi terhadap diri sendiri; dan 2) proteksi untuk keluarga. Asuransi sebaiknya dimiliki sejak awal, karena makin bertambahnya usia seseorang, risiko asuransinya makin meningkat dan preminya pun bertambah. (Investor Daily, 9/1, hal. 9)

DBS-Manulife Kembangkan Layanan Digital

PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia dan PT Bank DBS Indonesia menginvestasikan dana senilai $100 juta untuk pengembangan layanan digital. Dana ini diinvestasikan secara bertahap dalam waktu 15 tahun. Investasi ini disumbang masing-masing 50% oleh Manulife dan DBS dan mencakup pengembangan kawasan regional terdiri dari empat negara  termasuk Indonesia. (Media Indonesia, 9/1, hal. 14)

Sun Life Buka Dua Kantor di Jawa Timur

PT Sun Life Financial Indonesia meresmikan dua kantor pemasaran di Malang dan Gresik  dan menjadi bagian dari ekspansi perusahaan tahun ini. Jawa Timur menyumbangkan 14% pendapatan bagi Sun Life tahun 2015. Tahun lalu, Sun Life juga telah memindahkan kantor Agency Recruitment and Development Center (ARDC) di Surabaya ke lokasi yang lebih strategis. Tanggal 10-12 Januari ini, sebanyak 1.200 tenaga penjual Sun Life dari seluruh Indonesia akan berkumpul di Surabaya untuk mengikuti program Year Start 2016. Sun Life saat ini memiliki 102 kantor pemasaran konvensional dan 47 kantor pemasaran syariah di 60 kota di Indonesia.  (Investor Daily, 11/1, hal. 22)

Berita serupa dapat ditemukan di:

  • Kontan, 11/1, hal. 24. Sun Life Tambah Kantor
  • Bisnis Indonesia, 11/1,  hal. 21. [Foto] Pasar Potensial
  • Jawa Pos, 11/1, hal. 5. Perluas Pasar Syariah

Investor Asing Ingin Masuk Bringin Life

Bank Rakyat Indonesia (BRI) dipastikan memiliki 91% saham PT Asuransi Jiwa Bringin Jiwa Sejahtera (Bringin Life) tetapi beredar kabar bahwa BRI juga mengajak sejumlah investor strategis masuk ke Bringin Life. BRI disebut-sebut menawarkan 40% saham Bringin Life kepada sejumlah investor asing antara lain Richard Li (membawahi FWD Group), Hanwha Life Insurance Co, dan BNP Paribas Cardif. Akta jual beli antara Dana Pensiun BRI dengan BRI telah ditandatangani 29 Desember 2015 yang menghasilkan kesepakatan kepemilikan saham Bringin Life 91% oleh BRI dan 9% oleh Yayasan Kesejahteraan BRI. Bringin Life menetapkan target perolehan premi sebesar Rp3,5 triliun, meningkat 45% dibandingkan perolehan tahun 2015 (Rp2,4 triliun). Sekitar 50% premi akan disumbang oleh produk unitlink tahun ini. Tahun 2015, kontribusi unitlink hanya 20% dari total premi. (Kontan, 11/1, hal. 24)

Reindo Syariah Ingin Tumbuh 30%

PT Reasuransi Internasional Indonesia optimistis premi bruto dari divisi syariah dapat tumbuh hingga 25-30% sepanjang 2016. Hingga November 2015, perseroan telah memperoleh premi Rp250 miliar, tumbuh 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Total premi Reindo Syariah akan mencapai Rp280 miliar saat tutup buku. Jika target terealisasi tahun ini, maka aset Reindo Syariah akan tumbuh 35-40% dan market share bisa mencapai 65-70%. Industri syariah diharapkan mampu tumbuh hingga dua digit tahun ini kendati dalam dua tahun terakhir kinerja asuransi syariah melambat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Rencana Aksi Utama akan mengembangkan IKNB Syariah 2015-2019 melalui program edukasi, sosialisasi dan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait. Berdasarkan data OJK per Oktober 2015, total premi asuransi syariah mencapai Rp8,5 triliun, naik 13% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Sedangkan aset industri sampai Okotber 2015 mencapai Rp24,7 triliun dan diperkirakan akhir 2015 mencapai Rp26 triliun. (Bisnis Indonesia, 11/1, hal. 21)

Pasar Asuransi Syariah Sangat Besar

Manulife bekerja sama dengan Bank DBS untuk asuransi untlink dan masih menunggu izin spin off OJK untuk unit usaha syariah. Manulife memiliki target membangun bisnis asuransi syariah yang sangat kuat hingga bisa diekspor ke Malaysia, China atau negara-negara lain. Untuk mengembangkan produk syariah, Manulife bekerja sama dengan Bank Danamon dan Bank Muamalat. Kontribusi asuransi syariah masih kecil sekitar 5% tetapi Manulife optimistis tahun ini pasar asuransi syariah akan sangat besar. Untuk asuransi mikro, Manulife telah memiliki produk bernama PrimaJaga dengan premi Rp10.000 per bulan. Hingga saat ini, porsi Surat Utang Berharga Negara (SBN) mencapai 70% dari porsi investasi dan Manulife belum tertarik dalam mengambil profit atau imbal hasil. (Bisnis Indonesia, 11/1, hal. 21)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

[Foto] IHSG Menguat

IHSG ditutup menguat 0,35% atau naik 15,84 poin ke level 4.546,29. Investor asing kembali mencatatkan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp696,21 miliar. (Bisnis Indonesia, 9/1, hal. 4)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.923

IHSG

4.546,29

BI Rate (per 17 Desember 2015)

7,50%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF