AAJI Daily News - 18 Februari 2016
HEADLINE NEWS:
- Reksa Dana Baru dari Manulife
- Manulife Luncurkan Reksa Dana Saham Syariah
- Manulife Bidik 11 Negara Asia Pasifik
- [Foto] Reksa Dana Syariah Manulife
- Manulife Aset Indonesia Luncurkan Reksadana Offshore
- [Foto] Premi Asuransi Jiwa Anjlok
- Kementerian Akan Melego Jiwasraya ke Bank BUMN
- Pemerintah Berencana Membesarkan Pegadaian dan Jiwasraya Inbreng dengan Bank BUMN
- Penurunan BI Rate Dimungkinkan
- BI Rate Tetap, Bunga Kredit Susah Turun
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Reksa Dana Baru dari Manulife
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia meluncurkan produk reksadana terbarunya yaitu Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (Mansyaf). Minimum pembelian awal produk yang ditawarkan sejak 15 Februari 2016 ini adalah 10.000 dollar AS. Mansyaf adalah reksadana syariah pertama di Indonesia yang berinvestasi pada efek luar negeri. Reksadana berdenominasi dollar AS ini memiliki portofolio yang terdiversifikasi dengan menempatkan dana pada saham-saham di beberapa negara Asia-Pasifik kecuali Jepang. Reksadana ini akan mengalokasikan 80-100% dari aset yang dikelola untuk diinvestasikan di instrumen saham syariah di kawasan tersebut. Sebanyak 0-20% dimasukkan di instrumen pendapatan tetap, sukuk, atau pasar uang. (Kompas, 18/2, Hal. 18)
Berita serupa:
- Koran Sindo, 18/2, Hal. 19, Manulife Luncurkan Reksa Dana Saham Syariah
- Bisnis Indonesia, 18/2, Hal. 1, Manulife Bidik 11 Negara Asia Pasifik
- Bisnis Indonesia, 18/2, Hal. 14, [Foto] Reksa Dana Syariah Manulife
- Investor Daily, 18/2, Hal. 14, Manulife Aset Indonesia Luncurkan Reksadana Offshore
[Foto] Premi Asuransi Jiwa Anjlok
Otoritas Jasa Keuangan dalam ikhtisar data keuangan perusahaan asuransi jiwa konvensional mencatat per Desember 2015 pendapatan premi industri asuransi jiwa senilai Rp102,42 triliun. Setelah menurun 0,3% pada 2014, perolehan premi industri asuransi jiwa anjlok hingga 9,3% pada 2015. (Bisnis Indonesia, 18/2, Hal. 21)
Kementerian Akan Melego Jiwasraya ke Bank BUMN
Kementerian BUMN akan mencarikan mitra strategis untuk PT Asuransi Jiwasraya. Rencananya, Jiwasraya akan diakuisisi atau menjadi anak usaha bank BUMN dengan tujuan memperkuat permodalan Jiwasraya. Kinerja Jiwasraya dinilai tidak maksimal ketimbang kinerja anak usaha asuransi milik bank BUMN misalnya AXA Mandiri Financial Services. Pada kuartal III 2015, laba Jiwasraya mencapai Rp1 triliun sedangkan laba AXA Mandiri Rp831 miliar padahal Jiwasraya telah beroperasi lebih lama dibandingkan AXA. Dengan memiliki induk usaha bank, Jiwasraya bisa memaksimalkan jalur distribusi penjualan lewat bank dan juga nasabah bank induk bisa digarap Jiwasraya. Berdasarkan laporan keuangan tahun 2015, rasio pencapaian solvabilitas Jiwasraya sebesar 162%, masih di atas ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mematok batas minimum 120%. Ada tiga bank yang siap mengakuisisi Jiwasraya antara lain Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Bank Negara Indonesia. Jiwasraya diminati karena nasabahnya mencapai 7 juta. (Kontan, 18/2, Hal. 24)
Berita serupa:
- Investor Daily, 18/2, Hal. 23, Pemerintah Berencana Membesarkan Pegadaian dan Jiwasraya Inbreng dengan Bank BUMN
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Penurunan BI Rate Dimungkinkan
Bank Indonesia (BI) menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada Rabu (17/2) hingga Kamis (18/2). Salah satu keputusan yang dinanti publik berkaitan dengan suku bunga acuan atau BI Rate yang setelah diturunkan 25 basis poin menjadi 7,25% pada pertengahan bulan lalu, BI Rate diyakini akan kembali turun. Ada kepercayaan pasar bahwa fundamental ekonomi Indonesia berjalan ke arah yang lebih baik. Fundamental yang baik tercermin dari susutnya defisit transaksi berjalan dan rendahnya tekanan inflasi. Imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) pun menurun diikuti inflasi inti yang rendah. Dari faktor eksternal, Bank Sentral AS (the Fed) diperkirakan masih akan menahan suku bunga acuannya atau Fed Funds Rate/FFR sebab ekonomi AS dinilai masih lemah. Sikap China dengan depresiasi mata uang yuan dan langkah AS yang menahan diri untuk tidak menaikkan FFR bisa memperkuat perekonomian. Pada perdagangan kemarin, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) naik sebesar 20,50 poin atau 0,43% menjadi 4.765,50. Dana investor asing ke pasar saham domestik mengalir sebesar Rp570,313 miliar kemarin. Penguatan IHSG juga ditopang oleh spekulasi dari kalangan ekonom dan investor pasar modal dalam negeri mengenai pemangkasan kembali BI Rate. (Republika, 18/2, Hal. 15)
BI Rate Tetap, Bunga Kredit Susah Turun
Suku bunga acuan BI diperkirakan bakal tetap atau berada di level 7,25% pada rapat bulanan BI yang berlangsung 17-18 Februari 2016. BNI, misalnya, belum akan menurunkan suku bunga kredit dalam waktu dekat dengan alasan perbankan menunggu penurunan BI rate sekaligus pemangkasan special rate bunga deposito. Sementara BRI mengantisipasi perubahan BI rate dengan terus mengurangi porsi deposito. Peluang penurunan bunga kredit makin sulit lantaran bankir yakin BI rate masih bakal tetap. Salah satu pertimbangan BI menetapkan suku bunga acuan adalah faktor likuiditas. Awal tahun ini, permintaan likuiditas tinggi untuk membiayai infrastruktur. BI juga diperkirakan bakal mempertahankan BI rate karena masih menunggu kepastian arah bunga dari Bank Sentral AS pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Maret 2016. Bank Tabungan Negara juga belum akan menurunkan bunga kredit meski BI rate nantinya terpangkas karena harus diputuskan berdasarkan rekomendasi tim asset liabilities committee (ALCO). Berdasarkan hitungan Bukopin, bunga kredit berpotensi turun pada Maret nanti. (Kontan, 18/2, hal. 12)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.507 |
|
IHSG |
4.765,51 |
|
BI Rate (per 14 Januari 2016) |
7,25% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
