AAJI Daily News - 4 Februari 2016
HEADLINE NEWS
- Rata-rata Hasil Unitlink Hanya Tumbuh Mini
- Perusahaan Wajib Menjual 600 Polis Asuransi Mikro
- [Foto] Astra Life Ajak Hidup Sehat
- [Foto] Bijak Mengelola Keuangan
- [Foto] Mengajak Gaya Hidup Sehat
- Asuransi: Sasar Konsumen Pemula
- OJK Gandeng Pengusaha dan Pemerintah Daerah
- OJK Perhatikan Emiten Berharga Rp50
MENGENAI AAJI
Rata-rata Hasil Unitlink Hanya Tumbuh Mini
Selama Januari 2016, imbal hasil unitlink pendapatan tetap sebesar 1,41%. Sementara itu, rata-rata imbal hasil unitlink berbasis saham hanya 0,26% diakibatkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik 0,48%. Sedangkan return unitlink campuran pada Januari 2016 tercatat 0,79%. Imbal hasil unitlink diperkirakan masih akan positif hingga Maret 2016 karena akan adanya rilis kinerja emiten dan pembagian dividen selain juga efek penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI). Hingga kuartal I-2016, unitlink berbasis saham dinilai akan menghasilkan return paling tinggi, mencapai 2,5-3% dengan asumsi IHSG sepanjang kuartal I- 2016 menguat 2,6%. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim meyakini minat nasabah pada unitlink masih besar, berkaca dari tahun lalu di mana laporan penarikan dana nasabah justru tidak terlalu besar bahkan lebih kecil dari yang diperkirakan. (Investor Daily, 4/2, Hal. 24)
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI
Perusahaan Wajib Menjual 600 Polis Asuransi Mikro
OJK dan asosiasi asuransi akan mengerek jumlah polis asuransi mikro dan tahun ini berharap setiap perusahaan bisa menjual 600 polis asuransi mikro. Per Desember 2015, ada 134 perusahaan asuransi yang ikut menjual asuransi mikro, terdiri dari 50 perusahaan asuransi jiwa, 76 asuransi umum dan 8 asuransi syariah sehingga minimal akan ada 80.400 polis terjual. OJK juga meminta 5% dari total polis per perusahaan berasal dari asuransi mikro. AAJI mengakui ada keseulitan menjual asuransi mikro apalagi dengan premi rendah, sulit bagi asuransi jiwa meraih pemasukan besar padahal pemasarannya membutuhkan biaya tinggi. Dengan hitungan bisnis yang tidak cocok, hanya segelintir perusahaan yang serius menggarap asuransi mikro dan tahun lalu preminya hanya sebesar Rp10 miliar, sangat kecil jika dibandingkan dengan total premi industri yang mencapai Rp102,4 triliun pada tahun 2015, kata Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI. Meski demikian, pertumbuhan asuransi mikro bisa mencapai 20-30% per tahun dan tahun ini minimal tumbuh 40%. PT Asuransi Sinar Mas (ASM) mengakui perusahaan asuransi tidak efisien jika mengandalkan tenaga internal untuk mendongkrak penjualan asuransi mikro. Oleh karena itu, PT ASM bekerja sama dengan minimarket dan koperasi desa. PT ASM mendapatkan pasar asuransi mikro dari organisasi dengan massa besar seperti asosiasi pedagang asongan Pekalongan, paguyuban petani dan peternak sapi di Garut. ASM yakin akan menjual 10.000 polis asuransi mikro di 2016. Sebelumnya, PT ASM membagikan polis secara gratis untuk program corporate social responsibility. (Investor Daily, 4/2, Hal. 24)
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI
INDUSTRI ASURANSI JIWA
[Foto] Astra Life Ajak Hidup Sehat
Astra Life mengadakan seminar “Tahun Baru Penuh dengan Kesehatan”, bekerja sama dengan Lions Club Jakarta Selatan & Yayasan Mengabdi Lions Indonesia dalam menyambut Tahun Baru Imlek 2567 & Hari Valentine 2016 di Jakarta, Rabu (3/2). Astra Life mengajak masyarakat bergaya hidup sehat dan pintar mengelola keuangan dengan pandai memilih produk asuransi yang baik. (Investor Daily, 4/2, Hal. 24)
Berita serupa:
- Kontan, 4/2, Hal. 24, [Foto] Bijak Mengelola Keuangan
- Bisnis Indonesia, 4/2, Hal. 21, [Foto] Mengajak Gaya Hidup Sehat
Asuransi: Sasar Konsumen Pemula
PT Avrist Assurance mengadakan program literasi bertema Avrist Asuransi Sejak Dini yang menjadi salah satu komitmen perusahaan terhadap program pemerintah yaitu edukasi literasi keuangan. Literasi keuangan ini ditujukan bagi siswa kelas I sampai IV SD karena dianggap waktu terbaik bagi mereka untuk mendapatkan pemahaman tentang asuransi dengan daya serap dan rasa keingintahuan yang tinggi. Jika anak-anak diberikan pemahaman asuransi sejak dini, maka saat memasuki dunia profesional sudah menganggap asuransi sebagai kebutuhan. Tahun ini, Avrist ingin menggenjot pemasukan dari asuransi pendidikan. (Jawa Pos, 4/2, Hal. 6)
OJK Gandeng Pengusaha dan Pemerintah Daerah
OJK tengah mempertimbangkan penciptaan produk asuransi mikro dalam wilayah terbatas di satu provinsi dan kabupaten/kota. Kerja sama OJK dengan pengusaha dan pemerintah daerah tersebut bertujuan meningkatkan premi sekaligus jumlah nasabah asuransi secara nasional. Kerja sama pengusaha di daerah dan pemerintah daerah akan dikelola dalam bentuk ekuitas. Modal awal yang direncanakan minimal Rp5 miliar untuk tingkat kabupaten dan Rp20 miliar untuk tingkat provinsi. Definisi asuransi mikro menurut OJK adalah produk asuransi bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang fitur dan administrasinya sederhana. Produk asuransi ini mudah diperoleh, harganya ekonomis, dan klaim atau santunannya bisa segera diselesaikan. Harga premi tengah asuransi mikro Rp10.000 hingga Rp20.000 per premi, dengan maksimal premi Rp50.000 dan nilai pertanggungan maksimal per premi sebesar Rp50 juta. Asuransi mikro merupakan produk generik khusus yang dibuat OJK bersama Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) yang terdiri dari empat jenis: kecelakaan diri, asuransi jiwa berjangka, asuransi terhentinya kegiatan usaha, dan asuransi kebakaran rumah tinggal. Kepala Departemen Komunikasi AAJI, Nini Sumohandoyo, menjelaskan bahwa peluang pengembangan industri asuransi mikro masih terbuka lebar dan akses masyarakat terhadap asuransi juga makin mudah. Sun Life memiliki satu produk asuransi mikro dengan layanan tambahan kecelakaan diri. (Kompas, 4/2, Hal. 20)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
OJK Perhatikan Emiten Berharga Rp50
Anggota Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Pengawasan Pasar Modal, Nurhaida, menyebutkan masih ada 30 emiten dengan harga saham di bawah Rp50 per lembar. OJK akan berkoordinasi dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mengambil kebijakan terhadap 30 emiten itu dan mengharapkan adanya sinkronisasi kebijakan antara OJK dan Bursa Efek. Salah satu prioritas OJK dan BEI tahun ini adalah meningkatkan jumlah emiten serta mendorong anak usaha perusahaan milik negara untuk masuk menjadi emiten bursa. Selain itu, BEI juga mencermati emiten yang belum memenuhi syarat pelepasan 7,5 persen saham ke publik (free float) dan BEI baru memberikan surat peringatan kepada enam emiten yang belum memenuhi aturan free float. Tak hanya itu, BEI juga mendata emiten-emiten yang jumlah pemegang sahamnya kurang dari 300 investor. (Koran Tempo, 4/2, Hal. 15)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.770 |
|
IHSG |
4.596,11 |
|
BI Rate (per 14 Januari 2016) |
7,25% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
