AAJI Daily News - 16 Februari 2016


HEADLINE NEWS

  1. 2015, Premi Bruto AJB Bumiputera 1912 Capai Rp5,8 Triliun
  2. AJB Bumiputera Bukukan Premi Rp5,8 Triliun
  3. AJB Bumiputera 1912: Raih Pertumbuhan Premi 5,14 Persen
  4. Tersaingi BPJS, Premi Mandiri Inhealth Tumbuh Mini
  5. Pembeli Hanya Itu-itu Saja

INDUSTRI ASURANSI JIWA

2015, Premi Bruto AJB Bumiputera 1912 Capai Rp5,8 Triliun

Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 meraih kinerja positif dengan mencatatkan pertumbuhan premi bruto hingga Rp5,8 triliun atau tumbuh 5,14% dibandingkan perolehan premi pada tahun sebelumnya. Kontribusi premi perusahaan didominasi oleh lini bisnis asuransi perorangan konvensional yang mencapai Rp4,22 triliun setara 72,7%, asuransi kumpulan Rp1,1 triliun setara 18,8% dan produk unit link Rp252,2 miliar atau 4,3%. Selama tahun 2015 Bumiputera telah membayarkan klaim netto sebesar 5,6 triliun atau mengalami peningkatan sebesar 11,29% bila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2014. Selain mencatat pertumbuhan positif, Bumiputera terus meningkatkan pelayanan kepada 4 (empat) juta pemegang polisnya dengan kemudahan pembayaran premi dari cash atau melalui agen/Financial Consulting (FC) atau kantor pemasaran Bumiputera, menjadi Cashless System atau Banking Service. Sistem yang diterapkan mulai 2016 ini bekerja sama dengan Bank Mandiri, Bank BNI, dan CIMB Niaga. Dengan demikian pemegang polis Bumiputera dapat melakukan pembayaran premi menggunakan debit card, credit card, mesin EDC (Electronic Digital Card), internet banking dan layanan perbankan lainnya. Pada awal 2016 ini lini operasional Bumiputera juga mengalami perubahan sistem yaitu dari Branch Office System (BOS) menjadi General Agency System Hybrid (GASH). Perubahan ini merupakan salah satu upaya untuk menghimpun 100.000 agen berlisensi hingga akhir tahun 2016. Saat ini Bumiputera telah memiliki 24.000 agen berlisensi dari AAJI. (Beritasatu.com, 15/2)

http://www.beritasatu.com/ekonomi/349388-2015-premi-bruto-ajb-bumiputera-1912- capai-rp-58-triliun.html

Berita serupa:

  • Investor Daily, 16/2, Hal 23, AJB Bumiputera Bukukan Premi Rp5,8 Triliun
  • Koran Tempo, 16/2, Hal. 8, AJB Bumiputera 1912: Raih Pertumbuhan Premi 5,14 Persen

Tersaingi BPJS, Premi Mandiri Inhealth Tumbuh Mini

Pertumbuhan bisnis asuransi kesehatan mulai tertatih sejak kehadiran BPJS Kesehatan. PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia (Mandiri Inhealth) juga terkena imbasnya. Ada dua tantangan yang menghambat pertumbuhan asuransi kesehatan tahun lalu, yaitu pelaksanaan Sistem Jaminan Sosial Nasional melalui lahirnya BPJS Kesehatan dan kondisi ekonomi yang lesu membatasi kemampuan korporasi membeli produk dengan harga di atas BPJS Kesehatan. Premi Mandiri Inhealth hanya tumbuh 2% menjadi Rp1,43 triliun. Tahun ini, perseroan berusaha mencari produk-produk baru yang bisa dipadupadankan dengan BPJS Kesehatan sehingga dapat digabungkan dengan skema koordinasi manfaat atau coordination of benefit (CoB) BPJS. Tahun lalu, 154 perusahaan telah terdaftar sebagai nasabah Mandiri Inhealth melalui skema CoB. Skema CoB merupakan perawatan berjenjang. Jadi, bila pasien sakit maka tidak bisa diperkenankan langsung ke dokter spesialis tetapi apabila dirujuk ke rumah sakit, berapa pun biayanya akan diganti. Inovasi lain juga diciptakan untuk tetap eksis di bisnis asuransi. Perseroan mulai menggalakkan sistem e-rawat jalan tingkat pertama (e-RJTP). Mandiri Inhealth juga mengembangkan  rumah   sakit   online   untuk   membantu   proses   verifikasi klaim.  (Kontan, 16/2, Hal. 24)

Pembeli Hanya Itu-itu Saja

Penetrasi dan densitas menjadi tolok ukur performa industri perasuransian sebuah negara. Pada 2015, tingkat penetrasi industri asuransi di Indonesia mencapai 2,26%. Nilai ini diperoleh dari perbandingan antara nilai total premi industri perasuransian, yang menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar Rp261,08 triliun, dan produk domestik bruto nasional senilai Rp11.541 triliun. Dengan proyeksi penduduk Indonesia pada 2010-2035 dengan asumsi pertumbuhan penduduk per tahun 1,39%, maka densitas asuransi nasional mencapai Rp1,02 juta. Meningkatnya densitas yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan penetrasi asuransi dinilai sebagai fenomena yang ganjil bagi industri karena kondisi ini menunjukkan peningkatan premi asuransi yang cenderung terjadi pada masyarakat yang sebelumnya sudah memiliki jaminan, kata Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim. Data World Insurance Outlook 2012 menunjukkan Indonesia berada pada ranking ke-78 dari sisi penetrasi, tetapi urutan 34 soal jumlah premi. Ketua Komisioner OJK, Muliaman D Hadad menyatakan minat masyarakat untuk berasuransi masih tergolong rendah dan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura bahkan memiliki penetrasi asuransi berkisar 4,5%-6,5%. OJK mengidentifikasi sejumlah tantangan utama industri perasuransian di Indonesia antara lain rendahnya tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya berasuransi, rendahnya aksesibilitas dan distribusi produk asuransi di masyarakat, serta rendahnya inovasi produk asuransi. Perkembangan penetrasi asuransi menjadi tanda bagi pertumbuhan kesejahteraan masyarakat karena berbanding lurus dengan perkembangan kesadaran masyarakat untuk memproteksi diri, kata Patricia Rolla, Presiden Direktur PT MNC Life Assurance. Menurutnya, edukasi layanan jasa finansial melalui berbagai sarana menjadi syarat utama dan para pelaku mesti terus menggenjot pemasaran dengan menjemput bola. (Bisnis Indonesia, 16/2, Hal. 21)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.379

IHSG

4.740,73

BI Rate (per 14 Januari 2016)

7,25%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF