AAJI Daily News - 30 Maret 2016


HEADLINE NEWS

  1. Soal Peningkatan Investasi SBN, Industri Asuransi Harapkan Tindakan Pendukung
  2. Asuransi Harapkan Premi Penjaminan Berdasarkan Modal
  3. [Foto] Proteksi Keluarga
  4. [Foto] Proteksi Finansial Keluarga
  5. [Foto] Panin Dai-Ichi Luncurkan Produk Baru
  6. [Foto] Produk Baru
  7. Commonwealth Life Luncurkan Produk Unitlink Investra Titanium
  8. OJK Panggil Direksi Taspen Jelaskan Kinerja
  9. Inflasi Terkendali, BI Rate Berpeluang Turun Lagi

MENGENAI AAJI

Soal Peningkatan Investasi SBN, Industri Asuransi Harapkan Tindakan Pendukung

Industri asuransi jiwa dan umum menyatakan kekhawatiran terhadap ketersediaan surat berharga negara (SBN) yang tidak akan mencukupi kebutuhan ke depan. Padahal, kedua industri tersebut bersama industri keuangan nonbank (IKNB) lainnya pun diwajibkan regulator meningkatkan portofolio di instrumen tersebut. Berdasarkan itu, diharapkan ada tindak lanjut yang mendukung realisasi peningkatan investasi di SBN. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Yasril Y. Rasyid, mengatakan, saat ini selain pelaku di IKNB juga ada investor dalam negeri lain dan luar negeri yang meminati instrumen SBN. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Togar Pasaribu, menyatakan, industri mengharapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat memberikan kelonggaran berupa peningkatan secara bertahap untuk investasi SBN ke level 30%. Pasalnya itu, peningkatan dari 20% menuju 30% bukan suatu hal mudah di tengah situasi lembaga jasa keuangan (LJK) nonbank  selain  asuransi juga diwajibkan meningkatkan investasi di SBN. Hingga akhir tahun lalu porsi  portofolio investasi perusahaan asuransi jiwa di SBN mencapai 14,5% dari total investasi yang sebesar Rp 134,58 triliun. Menurut Togar, selain opsi penundaaan industri juga ada harapan  lain berupa peniadaan sanksi jika sampai ada perusahaan yang tidak dapat memenuhi ketentuan SBN pada 2017. Berdasarkan Peraturan OJK Nomor 1/POJK.05/2016, selain perusahaan asuransi jiwa dan umum juga ditetapkan oleh OJK bahwa dana pensiun pemberi kerja harus berinvestasi di SBN minimal 30%. Kemudian, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan diwajibkan memiliki investasi di portofolio SBN minimal 50% atas seluruh jumlah investasi dan jaminan sosial ketenagakerjaan. (Beritasatu.com, 29/3) http://www.beritasatu.com/ekonomi/357243-soal-peningkatan-investasi-sbn-industri-asuransi- harapkan-tindakan-pendukung.html

Narasumber:

-     Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI

Asuransi Harapkan Premi Penjaminan Berdasarkan Modal

Industri asuransi umum dan jiwa tanah air mengharapkan lembaga penjamin polis (LPP) segera terbentuk dan penarikan premi penjaminan tidak diberlakukan dengan besaran yang sama tetapi berdasarkan indikator seperti modal atau cadangan perusahaan asuransi. Direktur Eksekutif AAJI, Togar Pasaribu, mengharapkan besaran premi penjaminan tidak diterapkan flat pada semua perusahaan asuransi jiwa karena setiap produk asuransi yang dibuat memiliki karakteristik yang berbeda dan perlu ada pembahasan mendetail terkait produk asuransi dengan investasi (unit linked). LPP perlu memberlakukan persyaratan detail seperti tingkat risk based capital (RBC) maupun besaran cadangan teknis tertentu yang harus dimiliki perusahaan asuransi. Industri asuransi menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada pemerintah terkait pendirian badan yang bertindak sebagai LPP. Ada negara yang menerapkan tugas penjaminan polis maupun simpanan ditanggung oleh satu badan, dan ada juga yang memiliki dua badan dengan tugas spesifik. (Investor Daily, 30/3, Hal. 23)

Narasumber:

-     Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI

INDUSTRI ASURANSI JIWA

[Foto] Proteksi Keluarga

Wakil Presiden Direktur PT Panin Dai-ichi Life Simon Imanto bersama Direktur Jutany Japit meluncurkan Premier Heritage Plan, solusi proteksi finansial dengan manfaat finansial yang pasti. Premier Heritage Plan merupakan produk asuransi jiwa seumur hidup untuk perlindungan nasabah hingga usia 99 tahun. (Media Indonesia, 30/3, Hal. 19)

Berita serupa:

  • Investor Daily, 30/3, Hal. 23, [Foto] Proteksi Finansial Keluarga
  • Kontan, 30/3, Hal. 24, [Foto] Panin Dai-ichi Luncurkan Produk Baru
  • The Jakarta Post, 30/3, Hal. 20, [Foto] Produk Baru

Commonwealth Life Luncurkan Produk Unitlink Investra Titanium

Commonwealth Life mengumumkan peluncuran produk Investra Titanium, sebuah produk unitlink imbal hasil perlindungan jiwa dan investasi yang optimal bagi kebutuhan gaya hidup  aktif masyarakat Indonesia. Produk ini memiliki nilai investasi yang telah terbentuk sejak tahun pertama serta beragam manfaat perlindungan sehingga masyarakat akan mendapatkan keamanan dan ketenangan sehingga dapat fokus dalam merencanakan tujuan masa depan mereka. Investra Titanium juga menyediakan beragam fleksibilitas kepada nasabah antara lain kebebasan memilih uang pertanggungan berdasarkan kebutuhan dan rencana masa depan mereka. Produk ini memberikan hasil investasi yang lebih optimal dengan 50% dari dana investasi premi berkala sudah diinvestasikan sejak tahun pertama. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini penetrasi asuransi di Indonesia masih relatif rendah, baru 2,51% per akhir September 2015, masih rendah dibandingkan negara-negara tetangga. (Rakyat Merdeka, 30/3, Hal. 18)

OJK Panggil Direksi Taspen Jelaskan Kinerja

OJK memanggil direksi PT Taspen untuk menjelaskan kinerja tahun 2015 karena laba pengelola dana pensiunan PNS tersebut merosot drastis. Direksi Taspen menjelaskan, penurunan laba akibat perubahan batas usia pensiun dari 56 tahun menjadi 58 tahun dan berdampak pada kenaikan cadangan tahun 2015. Dua tahun berturut-turut, laba Taspen melesat tak keruan. Tahun 2013, laba Taspen melejit 215% menjadi Rp1,3 triliun. Tahun 2014, laba Taspen melambung 161,5% menjadi Rp3,47 triliun. Namun, tahun lalu, laba Taspen turun 83,84% menjadi Rp577 miliar. Merujuk laporan keuangan Taspen 2015, ada sejumlah beban yang meningkat dan perubahan yang signifikan. Misalnya, beban kenaikan liabilitas manfaat polis mada depan dan cadangan teknis naik 69,42% menjadi Rp10,64 triliun. Selain itu, ada penurunan nilai investasi yang tersedia untuk dijual. Tahun 2014, nilai tersebut mencapai Rp1,24 triliun dan tahun lalu turun menjadi minus Rp2,99 triliun. Premi dan iuran Taspen naik 16,37% menjadi Rp6,68 triliun. Pendapatan hasil investasi Rp5,41 triliun atau naik tipis 2,07% dari tahun 2014. Sementara Pendapatan PSL pemberi kerja tercatat Rp3,67 triliun atau naik 13,6%. Ada pos pendapatan Taspen yang berubah signifikan. Tahun lalu, pos pendapatan lain- lain Rp171,5 miliar, melejit 188% dari Rp59,6 miliar tahun 2014. Sumber pendapatan lain-lain berasal dari pengelolaan hasil investasi. (Kontan, 30/3, Hal. 24)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

Inflasi Terkendali, BI Rate Berpeluang Turun Lagi

Laju inflasi tahun ini diperkirakan lebih terkendali daripada tahun sebelumnya. Hingga akhir 2016, inflasi diprediksi berada di kisaran 4-4,5% dengan catatan pemerintah tetap menjaga pasokan pangan jelang Idul Fitri dan Natal. BI masih berpeluang menurunkan suku bunga acuan hingga level 6-6,5%, dengan syarat inflasi harus terkendali di kisaran 3,5-4%. Dengan BI rate turun, suku bunga bank BUKU 3 dan BUKU 4 juga akan mengalami penurunan bertahap. Saat ini, administered prices sudah jauh terkendali antara lain disebabkan oleh penghapusan subsidi bahan bakar minyak, harga listrik, dan lain-lain. Sejauh ini, perkembangan ekonomi Indonesia jauh lebih baik karena adanya pengendalian inflasi, di mana pada 2013-2014 inflasi berada di level 8,3% dan tahun 2015 turun menjadi 3,35% yang didukung oleh neraca perdagangan Indonesia yang membaik. (Koran Sindo, 30/3, Hal. 17)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.397

IHSG

4.781,30

BI Rate (per 17 Maret 2016)

6,75%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF