AAJI Daily News - 28 Januari 2016
28 Januari 2016
HEADLINE NEWS
- Asuransi Jiwa Minta Pajak Kupon Obligasi Diturunkan
- Nyaman Berolahraga Ekstrem gara-gara Ini
- Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 5,3%
- BI Peringatkan Risiko Super-Dolar
MENGENAI AAJI
Asuransi Jiwa Minta Pajak Kupon Obligasi Diturunkan
Praktisi industri asuransi jiwa bersedia mematuhi arahan OJK tentang batas minimum penempatan investasi di surat berharga negara (SBN) tetapi di sisi lain industri juga menginginkan insentif pajak kupon yang dikenakan untuk SBN bisa diturunkan atau dihilangkan. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Hendrisman Rahim, menjelaskan, praktisi industri asuransi jiwa tidak mempermasalahkan arahan untuk menempatkan investasi di SBN sebesar 20% per tahun dan tidak menghalangi industri untuk mencapai target hasil investasi. Namun, penerapan aturan ini harus disertai insentif pajak dari pemerintah untuk memaksimalkan hasil investasi yang diterima pelaku industri asuransi jiwa. Insentif pajak yang diinginkan industri asuransi jiwa terletak pada pajak yang dikenakan pada kupon obligasi. Berdasarkan PP No. 100/2013, pajak penghasilan yang dikenakan dari bunga obligasi dengan kupon adalah 15% bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Tugu Mandiri berencana meningkatkan alokasi di SBN menjadi 20% tahun ini dan mengurangi investasi di saham. Pihak OJK belum bisa menjelaskan rinci besaran penurunan pajak kupon yang diusulkan industri asuransi jiwa kepada pemerintah. (Investor Daily, 28/1, Hal. 22)
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Nyaman Berolahraga Ekstrem gara-gara Ini
FWD Life memiliki perhatian pada olahraga ekstrem dikarenakan risiko kecelakaan yang tinggi dan kebanyakan dilakukan oleh mereka yang masih mudah atau yang berjiwa muda. Wakil Presiden Direktur FWD Life, Jens Reisch, mengatakan sejak Januari 2014, FWD Life memberikan perlindungan jiwa kepada para pelaku olahraga ekstrem seperti bersepeda BMX, olahraga skate board, menyelam, bungee jumping, serta berselancar. Pada peluncuran FWD Life Digital Agency. Manager Corporate Communication Marketing FWD Life, Duhita Rahma Mahatmi, mengatakan ada beberapa syarat bagi perlindungan jiwa FWD Life para pelaku olahraga ekstrem, salah satunya harus mengenakan peranti keamanan, seperti helm atau pelindung lutut maupun pelindung siku, saat melakukan aktivitas olahraga ekstrem tersebut. Dengan adanya jaminan asuransi jiwa, berolahraga ekstrem pun bisa menjadi lebih nyaman. (Kompas.com, 27/1)
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/01/27/170356526/Nyaman.Berolahraga.Ekstrem. gara-gara.Ini
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 5,3%
Bank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini akan berada di kisaran 5,1%-5,3% didasarkan pada tren peningkatan konsumsi domestik, investasi, dan penurunan inflasi yang stabil. Indonesia harus berfokus pada pengembangan mesin-mesin pertumbuhan baru seperti e-commerce dan turisme yang memiliki potensi pertumbuhan besar. Pasar e-commerce nasional diprediksi mencapai Rp25 triliun, meningkat dari Rp18 triliun tahun 2015 sementara turisme diharapkan tumbuh 5% dan menyerap 11,7% tenaga kerja. Diperlukan adanya reformasi untuk melawan dampak negatif penurunan populasi usia produktif di jangka menengah sehingga dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan ekosistem usaha. Untuk menghadapi kondisi ekonomi global yang makin melambat, Bank Indonesia telah menyiapkan kebijakan-kebijakan yang fokus untuk menjaga kestabilan ekonomi jangka panjang. Pada 2016, neraca transaksi berjalan diperkirakan cukup tertekan karena investasi dan pembangunan infrastruktur akan meningkatkan impor. (Seputar Indonesia, 28/1, Hal. 17)
BI Peringatkan Risiko Super-Dolar
Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, menuturkan akan adanya kondisi super- dolar dalam tiga tahun ke depan. Selain itu, ada potensi pengalihan portofolio negara-negara asing dari Indonesia ke AS setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) secara gradual sehingga dolar AS menguat. Perusahaan yang memiliki pinjaman dalam bentuk valuta asing harus waspada karena jika tenor pinjaman valuta asing tidak diperpanjang dengan kondisi dolar AS menguat, ada kemungkinan utang akan menjadi lebih mahal. Hingga kini ada sekitar 2.400 perusahaan yang sudah melaporkan kewajiban hedging dan 83 persennya telah melakukan hedging sesuai persyaratan bank sentral. Defisit neraca pembayaran tahun ini diperkirakan berada di kisaran US$2,6 miliar. Dengan kondisi inflasi sesuai target, masih ada ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter dalam bentuk penurunan suku bunga atau penyesuaian kembali giro wajib minimum. Dampak dari penurunan 25 bps BI rate belum berdampak pada pasar modal karena indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia masih berada di kisaran 4.500-4.600. (Koran Tempo, 28/1, hal. 14)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.876 |
|
IHSG |
4.583,63 |
|
BI Rate (per 14 Januari 2016) |
7,25% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
