AAJI Daily News - 22 Maret 2016


HEADLINE NEWS:

  1. Jiwasraya Ditargetkan Kuasai 40% Pasar Asuransi Jiwa
  2. Jiwasraya Yakini Strategi Dapat Penuhi yang Ditargetkan Pemerintah
  3. Pilih Yang Tidak Terlalu Ramai
  4. Pangsa Pasar Asuransi Syariah Bakal Stagnan
  5. [Foto] Rapat Anggota ASSI
  6. Asuransi Agresif Gandeng Bank
  7. Takaful Life Incar Rp 540 Miliar
  8. Spin Off Diminati
  9. Premi Nas Re Naik38%
  10. Pelayanan Minim, Warga Tolak Kenaikan Iuran
  11. Kenaikan Iuran Karena BPJS Kesehatan Defisit
  12. Penaikan Premi Tutupi Defisit
  13. [Foto] Kenaikan Tarif BPJS Kesehatan

 

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Jiwasraya Ditargetkan Kuasai 40% Pasar Asuransi Jiwa

Pemerintah menargetkan Badan Usaha Milik Negara PT Asuransi Jiwasraya menguasai 40% market industri asuransi jiwa di 2019. De Jong Adrian, Direktur PT Asuransi    Jiwasraya, mengatakan untuk merealisasikan target ini pihaknya mengoptimalkan seluruh kapasitas perusahaan. Untuk merealisasikan target ini pihaknya telah menerapkan sejumlah strategi dengan memilih pasar yang tidak terlalu ramai dan perluasan channel distribusi, selain bermitra dengan perbankan pihaknya juga        menyasar komunitas yang  memiliki jaringan secara nasional. Dengan penambahan mitra ini, Jiwasraya menargetkan dapat meningkatkan pemasaran hingga 120%. Perusahaan berharap dapat membukukan premi Rp11 triliun dari lini ini. Pemasaran lini perbankan dari capaian akhir 2015 sebesar Rp5 triliun lebih. Tahun ini perusahaan juga akan meningkatkan tenaga pemasaran dari 13.000 tenaga pemasaran menjadi 27.000 di akhir 2016. Selain itu perusahaan menyasar pasar tenaga aktif yang usianya menjelang pensiun. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan perusahaan asuransi pelat merah baik umum maupun jiwa menguasai 40% industri. Untuk merealisasikan ini dilakukan sinergi antar perusahaan negara. Selain itu juga dilakukan penggabungan untuk usaha sejenis dengan membentuk holding. (Bisnis.com, 20/3) http://finansial.bisnis.com/read/20160320/215/529913/jiwasraya-ditargetkan-kuasai- 40-pasar-asuransi-jiwa

Berita serupa:

  • Indopos, 22/3, Hal. 5, Pilih yang Tidak Terlalu Ramai

Pangsa Pasar Asuransi Syariah Bakal Stagnan

Pangsa pasar industri asuransi syariah tahun ini diperkirakan bakal stagnan. Sentimen positif bagi asuransi syariah terbilang terbatas, sehingga pertumbuhan bisnis asuransi syariah diproyeksi tertahan. Plt Ketua Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Taufik Marjuniadi mengatakan, perolehan premi asuransi syariah amat bergantung pada lembaga keuangan seperti perbankan dan perusahaan pembiayaan (multi- finance). Tahun ini, market share asuransi syariah diperkirakan di kisaran 6%. Artinya tidak ada perubahan dibandingkan tahun lalu. Sekedar gambaran, market share asuransi syariah pada 2015 sebesar 6,5%, sedangkan tahun 2014 di level 5,25%. Tidak banyak sentimen positif bagi bisnis asuransi syariah tahun ini. Kecuali, perusahaan melakukan diversifikasi. Industri otomotif saja turun 20%, sehingga memukul asuransi umum syariah. Lalu, kredit bank syariah yang pada 2014 bisa tumbuh 30%, namun pada 2015 hanya tumbuh 10% sehingga berdampak pada perolehan asuransi jiwa. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, aset asuransi syariah pada 2015 mencapai Rp26,51 triliun, naik 18% dibandingkan posisi 2014 sebesar Rp22,36 triliun. (Kontan.co.id, 21/3) http://keuangan.kontan.co.id/news/pangsa-pasar-asuransi-syariah-bakal-stagnan

[Foto] Rapat Anggota AASI

Plt. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AAI) Taufik Marjuniadi bersama Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) OJK Firdaus Djaelani dan Mantan Ketua Umum AASI Adi Pramana, selepas membuka Rapat Anggota AASI, Senin (21/3). Hingga akhir 2015, pendapatan kontribusi asuransi syariah meningkat menjadi 6,55% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 5,25%. (Bisnis Indonesia, 22/3, Hal. 22)

Asuransi Agresif Gandeng Bank

Sejumlah perusahaan asuransi jiwa meningkatkan kerja sama dengan bank untuk memacu penjualan produk asuransi melalui jalur distribusi bancassurance. PT Asuransi Jiwasraya telah menjalin kemitraan dengan tujuh bank hingga akhir tahun lalu dan tahun ini berencana meningkatkan kemitraan dengan enam bank baru. Jiwasraya menargetkan kontribusi premi dari bancassurance bisa tumbuh 120% dari Rp5 triliun lebih pada tahun lalu menjadi Rp11 triliun tahun ini. MNC Life juga tengah mengembangkan jalur distribusi bancassurance sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mencapai target pertumbuhan premi sebesar 80% dari total premi tahun 2015 yang ditaksir mencapai Rp300 miliar. PT FWD Life menargetkan pertumbuhan premi hingga empat kali lipat dari perolehan premi tahun lalu dan untuk mencapai target tersebut perusahaan akan mengembangkan jalur distribusi dengan meresmikan kerja sama penjualan produk asuransi lewat bank dan menambah jumlah agen. PT Commonwealth Life menargetkan dapat meraup premi Rp2 triliun tahun ini dan untuk mendorong kinerja 2016, perseroan menggandeng tiga bisnis baru yaitu PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, PT Adira Finance, dan PT Bank QNB Kesawan Tbk. (Bisnis Indonesia, 22/3, Hal. 22)

Takaful Life Incar Rp540 Miliar

PT Asuransi Takaful Keluarga akan memperluas jalur distribusi untuk mencapai target pertumbuhan premi sebesar 40% menjadi Rp540 miliar tahun ini. Perusahaan akan mengoptimalkan jalur distribusi yang ada dan menambah jalur distribusi baru. Baru- baru ini, perusahaan mulai memasarkan produk asuransi (Hospitality Cash Plan) melalui telemarketing dan mendapat respon cukup lumayan. Hingga akhir tahun lalu, jumlah agen perusahaan telah mencapai 1.800 agen dan tahun ini ditargetkan menjadi 2.800 agen. Jalur keagenan menyumbang sekitar 60% dari total premi dan sisanya berasal dari jalur bancassurance dan corporate channel. Berdasarkan data OJK tahun lalu, total kontribusi bruto dari asuransi jiwa syariah tercatat mencapai Rp8,81 triliun, meningkat dari capaian tahun 2014. OJK bersama industri keuangan syariah telah meluncurkan working group Sinergi Komunikasi dan Pemasaran Bersama Keuangan Syariah, yang merupakan program kerja sama antara bank dan asuransi dalam memasarkan produk dan jasa keuangan syariah. (Bisnis Indonesia, 22/3, Hal. 22)

Spin Off Diminati

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menyatakan minat perusahaan asuransi konvensional untuk mengembangkan bisnis syariah cukup tinggi baik melalui pendirian unit usaha syariah (UUS) maupun spin off. Market share asuransi syariah dari sisi aset dan investasi diperkirakan meningkat dari sebelumnya 5,43% menjadi 6% tahun ini. Upaya edukasi, pengembangan produk, dan saluran distribusi mampu mendorong pertumbuhan market share asuransi syariah. OJK menyatakan PT FWD Life Indonesia dan PT Asuransi Ekspor Indonesia telah mengajukan izin pendirian UUS. Tahun ini, OJK juga telah resmi menerima pengajuan izin pemisahan UUS atau spin off dari tiga perusahaan asuransi yaitu PT Asuransi Jiwa Manulife, PT Asuransi Jasa Indonesia, dan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera. (Bisnis Indonesia, 22/3, Hal. 22)

Premi Nas Re Naik 38%

PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nas Re) memasang target premi tumbuh 38% tahun ini, disokong ekspansi bisnis Nas Re ke Myanmar. Tahun ini, Nas Re telah menggarap pasar Myanmar untuk reasuransi dan tahun ini premi yang ditargetkan bisa mencapai Rp4,7 triliun atau tumbuh 38% dibandingkan tahun lalu. POJK No. 14/POJK.05/2015 dan Surat Edaran OJK No. 31/SEOJK.05/2015 diharapkan membawa dampak positif ke bisnis perusahaan reasuransi. Meskipun begitu daya saing harus ditingkatkan. (Kontan, 22/3, Hal. 24)

 

EKONOMI MAKRO & REGULASI

Pelayanan Minim, Warga Tolak Kenaikan Iuran

Rencana kenaikan iuran Jaminan Kesehatan Nasional mulai 1 April 2016 kembali menuai protes karena tidak sepadan dengan pelayanan yang diberikan. Dewan Kesehatan Rakyat Kota Depok menolak kenaikan iuran ini Senin (21/3) di depan kantor BPJS Kesehatan Kota Depok. Selama ini, fasilitas kesehatan dan peran BPJS Kesehatan dinilai masih minim dalam memproteksi kebutuhan peserta. Perpres No. 19/2016 menyatakan besaran iuran pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja naik Rp4.500 hingga Rp20.000, tergantung kelas perawatan. Peserta BPJS Kesehatan  kerap  ditolak  di  banyak  rumah  sakit  dengan  alasan tidak  ada kamar kosong. Anggota Komisi D DPRD Kota Depok Rudi Kurniawan mengatakan, kenaikan iuran BPJS Kesehatan seharusnya ditunda karena belum optimalnya pelayanan kesehatan. Depok dengan penduduk 2 juta jiwa selama ini hanya memiliki satu RSUD di Sawangan dan hanya menyediakan 71 tempat tidur. Sedangkan RS swasta baru 50% yang melayani peserta BPJS Kesehatan. Peserta mandiri yang menunggak harus menyelesaikan kewajiban sebelum mendapatkan layanan kesehatan. (Kompas, 22/3, Hal. 29)

Kenaikan Iuran Karena BPJS Kesehatan Defisit

Pertimbangan kenaikan iuran bagi peserta BPJS Kesehatan pada April 2016 lebih didasarkan pada adanya defisit keuangan antara penerimaan iuran dan pembayaran klaim, kata Kepala Kantor Cabang BPJS Kesehatan Provinsi NTT, Fransiscus Parera. Tahun lalu, defisit diperkirakan mencapai Rp4 triliun dan jumlah iuran yang diterima BPJS Kesehatan Rp54 triliun sementara klaim yang dibayarkan Rp58,07 triliun. Jika besaran iuran tidak naik, maka potensi defisit tahun ini bisa mencapai Rp9,79 triliun. Hingga Februari 2016, peserta BPJS mencapai 162,78 juta jiwa dan peserta mandiri masih minim dengan 9,052 juta jiwa sedangkan peserta non-mandiri (penerima subsidi, pegawai, dan bukan pegawai) mencapai 124,37 juta. Komisi IX DPR meminta pemerintah menunda pelaksanaan Perpres No. 19/2016 yang menyatakan adanya kenaikan iuran peserta BPJS mandiri. Iuran untuk peserta mandiri naik. Untuk ruang perawatan kelas III menjadi Rp30.000 dari Rp25.500, kelas II dari Rp42.500 menjadi Rp51.000 dan kelas I menjadi Rp80.000 dari Rp59.500. (Koran Jakarta, 22/3, Hal. 4)

Berita serupa:

  • Media Indonesia, 22/3, Hal. 11, Penaikan Premi Tutupi Defisit
  • Kontan, 22/3, Hal. 24, [Foto] Kenaikan Tarif BPJS Kesehatan

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13,152

IHSG

4,885,16

BI Rate (per 17 Maret 2016)

6,75%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF