AAJI Daily News - 25 Februari 2016


HEADLINE NEWS:

  1. Menanti Pembalikan Arah Investasi
  2. Sequis Luncurkan Sequis eZ dan Sequis Online
  3. Bringin Life Bidik Pertumbuhan Bisnis 40%
  4. AIA Life Secure Lindungi Pekerja Aktif dan Independen
  5. Manulife: Investor Surabaya Habiskan 75% Pendapatan
  6. Generali: Umumkan Pemenang Undian Gebyar Gemilang
  7. [Foto] Beri Klaim Asuransi
  8. [Foto] Inovasi Asuransi
  9. Habis Makan, Uang Kembali 100 Persen
  10. Konsolidasi BUMN: Pegadaian dan Jiwasraya Belum Diproses
  11. OJK Minta Spin Off Dipercepat

MENGENAI AAJI

Menanti Pembalikan Arah Investasi

Industri asuransi jiwa terpukul sepanjang 2015 karena perolehan investasinya merosot. Rekor IHSG yang sempat menyentuh 5.500 pada 9 April, perlahan turun kembali. Gejolak pasar modal yang lebih banyak dipengaruhi sentimen global membuat indeks terus melorot hingga level terendah yaitu 4.100 pada 28 September 2015. Imbas jebloknya kondisi pasar modal langsung terasa pada hasil investasi asuransi jiwa. Pada kuartal pertama, hasil investasi -12,5% (merugi Rp10,44 triliun), pada kuartal kedua makin memburuk hingga -103,4% (Rp0,71 triliun), dan kian terjerembab pada kuartal ketiga sebesar -152,7% (Rp15,91 triliun). Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia Hendrisman Rahim tidak menampik kejatuhan hasil investasi tersebut lebih disebabkan oleh faktor ekonomi dan pasar modal yang sedang memburuk hingga kuartal ketiga lalu. Namun, ia melihat sisi positif yang ditunjukkan para pemegang polis dan masyarakat dalam merespon kondisi pasar yang melemah. Pertama, dari sisi pendapatan premi industri asuransi jiwa tetap tumbuh. Hingga kuartal ketiga, pendapatan premi justru naik 16% dari Rp88,92 triliun pada kuartal III 2014 menjadi Rp100,80 triliun. Pertumbuhan premi bisnis baru tumbuh 16,7% menjadi Rp57,60 triliun. Kedua, ada peningkatan dana investasi sebesar Rp14,58 triliun dari Rp292,61 triliun menjadi Rp307,29 triliun. Ketiga, jumlah tertanggung khususnya tertanggung individu bertambah dari 15,21 juta menjadi 16,74 juta orang. Saat terjadi penurunan hasil investasi karena indeks melemah, pemegang polis justru melakukan pembelian atau melakukan penambahan dana investasi (top up). Namun, perlambatan ekonomi hingga kuartal III 2015 mempengaruhi keputusan nasabah dalam klaim surrender dan partial withdrawal untuk memperoleh dana tunai, kata Maryoso Sumaryono, Ketua Bidang Regulasi dan Best Practice AAJI. Dalam menyikapi kondisi perekonomian saat ini, Presiden Direktur PT Prudential Life Assurance, Rinaldi Mudahar, meyakinkan para tenaga pemasar untuk tetap mencari kalangan  yang memang membutuhkan asuransi karena  penetrasi masih rendah. Menurut Presiden Direktur dan CEO PT Sequis Life, Tatang Widjaja, beberapa hal bisa dilakukan perusahaan antara lain memperbanyak penjualan asuransi tradisional dan perusahaan harus lebih kreatif dalam menyiasati produk berbasis investasi. Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Firdaus Djaelani menilai tahun ini industri asuransi bisa lebih baik seiring ekonomi Indonesia yang diperkirakan bisa tumbuh pada angka 5-5,2%. Kondisi pasar modal yang melesu membuat pelaku industri asuransi jiwa mulai mengalihkan portofolio investasi. Selain mengalihkan dana investasinya ke deposito, investasi properti juga mulai dilirik. Hingga kuartal ketiga tahun ini, investasi properti bertumbuh sebesar 38% dan nilainya sebesar Rp9 triliunan. Jumlah ini memang kecil jika dibandingkan dengan instrumen di pasar modal seperti reksadana yang mencapai Rp93,75 triliun. (Investor, ed. Februari, Hal. 26 & 28)

Narasumber:

  • Hendrisman Rahim, Ketua Umum, AAJI
  • Maryoso Sumaryono, Ketua Bidang Regulasi dan Best Practice, AAJI

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Sequis Luncurkan Sequis eZ dan Sequis Online

PT Asuransi Jiwa Sequis Life menargetkan mampu memperoleh 6000 polis pada tahun pertama dari jalur distribusi online. Distribusi online merupakan inovasi dalam bisnis dan menjadi alternatif agar produk-produk Sequis bisa diakses melalui berbagai distribusi. Perusahaan mencanangkan tahun 2020 untuk bisa menjadi perusahaan yang leading di bidang asuransi jiwa dan kesehatan. Sequis membekali tenaga pemasaran dengan Sequis eZ yaitu aplikasi multi-platform untuk mendukung kerja agen-agen dalam memasarkan produk. (Investor, ed. Februari, Hal. 14)

Bringin Life Bidik Pertumbuhan Bisnis 40%

PT Asuransi Jiwa Bringin Jiwa Sejahtera (Bringin Life) menargetkan pertumbuhan minimal 40% pada tahun 2016 dari pencapaian premi tahun 2015 sebesar Rp2,4 triliun. Tahun 2015, Bringin Life berhasil membukukan laba sebesar Rp409 miliar. Akuisisi yang dilakukan Bank Rakyat Indonesia dinilai sebagai langkah bisnis cerdas agar perusahaan bisa bertumbuh secara anorganik. (Investor, ed. Februari, Hal. 14)

AIA Life Secure Lindungi Pekerja Aktif dan Independen

Munculnya entrepreneur muda kini menjadi tren di kalangan bisnis Indonesia. Peluang ini ditangkap PT AIA Financial dengan merilis produk AIA Life Secure yang dikhususkan untuk kalangan individu aktif seperti para pengusaha muda ini. “Kami menyadari bahwa sektor usaha kecil menengah (UKM) saat ini menjadi salah satu prioritas pembangunan ekonomi pemerintah dan UKM merupakan salah satu kekuatan ekonomi baru di Indonesia,” kata Lim Chet Ming, Chief Marketing Official PT AIA Financial. (Investor, ed. Februari, Hal. 14 & 16)

Manulife: Investor Surabaya Habiskan 75% Pendapatan

Survei indeks sentimen investor Manulife (Manulife Investor Sentiment Index/MISI) yang terbaru terhadap responden di Surabaya menunjukkan 53% investor Surabaya menghabiskan 75% penghasilan mereka setiap bulan. Sementara 1 dari 10 investor menghabiskan lebih dari 90% penghasilan bulanannya. Lalu, 1 dari 4 investor meminjam uang dalam kurun 3 bulan jika kehilangan sumber penghasilan utamanya. Selain itu, 40% investor tidak memantau pengeluaran mereka sama sekali. Hampir sebagian besar pengeluaran ini dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari (42%) dan pendidikan anak (12%). Sedangkan, asuransi tidak menjadi prioritas utama dan hanya memiliki porsi 6% dari total pengeluaran mereka. Sebanyak 83% mengaku tidak memiliki target jumlah simpanan. Dari investor yang memiliki target simpanan, ternyata mereka hanya menargetkan untuk memiliki Rp265 juta dalam kurun 3 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Surabaya hanya fokus pada kebutuhan jangka pendek dan tidak menghiraukan tujuan keuangan jangka panjang. Secara umum, investor menyimpan pendapatannya untuk biaya pendidikan anak atau pernikahan anak. Biaya kesehatan berada di urutan pertama. Sedangkan simpanan dana pensiun hanya menempati urutan keempat. Dirut PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Legowo Kusumonegoro mengatakan 59% investor berharap memiliki perencanaan investasi yang lebih baik. Secara spesifik, 25% investor menyesali keputusannya menyimpan dana tunai di tabungan atau deposito, dan 28% lainnya menyesal tidak berinvestasi pada waktu yang tepat. Harapan investor terhadap imbal hasil investasi menjadi lebih realistis. Namun, investor masih terus menerapkan pendekatan tradisional dalam pengalokasian portofolio mereka. (Investor Daily, 25/2, Hal. 21)

Generali: Umumkan Pemenang Undian Gebyar Gemilang

PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia mengumumkan pemenang undian Gebyar Gemilang di Jakarta, Selasa (23/2). Program undian berhadiah total Rp200 juta lebih ini dilaksanakan sejak Februari 2015 bersamaan dengan peluncuran produk asuransi unit link Gemilang. Gemilang adalah produk unit link terjangkau dari Generali yang mengincar pasar aspiring dengan premi mulai Rp100 ribu per bulan. Gemilang ditujukan untuk memberikan perlindungan jangka panjang kepada masyarakat yang belum pernah memiliki asuransi. Penetrasi asuransi di Indonesia masih sangat rendah. Karena itu, Generali meluncurkan Gemilang untuk memperkenalkan asuransi ke masyarakat Indonesia. (Koran Tempo, 25/2, Hal. 16)

[Foto] Beri Klaim Asuransi

Perwakilan Marketing & Branding PT Astra Aviva Life Sari Pranoto secara simbolis memberikan klaim asuransi kepada peserta lari marathon di Jakarta, baru-baru ini. Dua peserta marathon 2XU Compression Run Jakarta 2015 menerima klaim asuransi dari Asuransi Astra Life selaku official life insurance partner. (Investor Daily, 25/2, Hal. 15)

[Foto] Inovasi Asuransi

Presiden Direktur PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) Christine Setya Budi didampingi Chief Distribution Officer Honggo Djojo bersama Founder PT Pendekar Bodoh pemilik jaringan makanan D’Cost Seafood Christian Sia dan Deputy CEO Darmawan Ekaputra seusai peluncurkan program 100% Cash Back di Jakarta, Selasa (23/2). Konsumen loyal D’Cost yang bertransaksi dengan menggunakan aplikasi D’Cost App akan mendapatkan perlindungan jiwa dengan nilai pertanggungan maksimal Rp200 juta. (Bisnis Indonesia, 25/2, Hal. 19)

Berita serupa:

  • Republika, 25/2, Hal. 22, Habis Makan, Uang Kembali 100 Persen

Konsolidasi BUMN: Pegadaian dan Jiwasraya Belum Diproses

Kementerian BUMN berencana menjual PT Asuransi Jiwasraya dan PT Pegadaian ke bank BUMN. Dua perusahaan BUMN ini bakal masuk menjadi anak usaha salah satu bank BUMN yang ditunjuk Kementerian BUMN. Pihak Bank Mandiri mengatakan bahwa tahun ini tidak memiliki rencana anorganik dan lebih fokus mengalokasikan permodalan untuk memperkuat perusahaan anak seperti Bank Syariah Mandiri, Mandiri AXA General Insurance, dan Mandiri Utama Finance. Direktur Keuangan BNI Rico Rizal Budimarmo mengatakan bahwa Pegadaian dan Jiwasraya sesuai dengan segmen bisnis BNI sehingga bisa meningkatkan nilai perusahaan. Kementerian BUMN mengatakan pemerintah tidak ingin Pegadaian berdiri sendiri terutama dalam mencari sumber pendanaan sehingga Kementerian BUMN mencarikan partner strategis untuk bisa menyokong sumber pendanaan Pegadaian. Jiwasraya diminati karena nasabahnya mencapai 7 juta. Tiga bank BUMN ini memang telah memiliki perusahaan asuransi jiwa. Rinciannya, BRI memiliki Bringin life, Bank Mandiri dengan AXA Mandiri, dan BNI dengan BNI Life. (Kontan, 25/2, Hal. 12)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

OJK Minta Spin Off Dipercepat

OJK meminta perusahaan asuransi yang sudah memenuhi ketentuan agar tidak menunda pemisahan unit syariah. Otoritas berdiskusi secara rutin dengan para pelaku industri asuransi yang memiliki unit usaha syariah (UUS) agar segera melakukan spin off tanpa harus menunggu hingga 2024. Dalam UU No. 40/2014 tentang Perasuransian disebutkan bahwa perusahaan asuransi atau reasuransi yang memiliki UUS dengan nilai tabarru dan dana investasi peserta telah mencapai setidaknya 50%, diwajibkan spin off selambat-lambatnya 10 tahun sejak UU tersebut diundangkan. OJK telah menerima pengajuan izin spin off UUS dari tiga perusahaan asuransi yaitu PT Asuransi Jiwa Manulife, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) dan Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera. Sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi antara lain anggaran dasar, susunan organisasi, modal disetor, dana jaminan, tenaga ahli, kelayakan rencana kerja, dan kesiapan produk. (Bisnis Indonesia, 25/2, Hal. 19)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.412

IHSG

4.657,22

BI Rate (per 18 Febuari 2016)

7,00%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF