AAJI Daily News - 15 Januari 2016


HEADLINE NEWS

  1. BCA Life Genjot Premi 2 Kali Lipat
  2. AIA targets SMEs to boost policy holders / AIA Menyasar UKM untuk Menambah Pemegang Polis
  3. [Foto] Produk Asuransi Jiwa
  4. AIA Luncurkan Proteksi untuk Individu Aktif
  5. AIA Rilis Unitlink Anyar
  6. AIA Luncurkan AIA Life Secure
  7. Target Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri
  8. Mengukur Peran Asuransi Jiwa untuk Perekonomian Nasional
  9. Bank Mandiri Siapkan AXA Mandiri  Jadi Asuransi Terbesar
  10. Saatnya Terbitkan Obligasi
  11. BI Berhati-hati Turunkan BI Rate
  12. BI Rate Turun, Bunga Kredit Nanti Dulu
  13. Sinyal Baik bagi Perekonomian
  14. Sinyal Baik bagi Perekonomian

INDUSTRI ASURANSI JIWA

BCA Life Genjot Premi 2 Kali Lipat

PT Asuransi Jiwa BCA (BCA Life) menargetkan premi tahun ini tumbuh dua kali lipat dari tahun lalu yang mencapai Rp111,8 miliar. Langkah-langkah strategis yang akan diambil BCA Life antara lain menambah jalur distribusi penjualan dengan menggandeng perbankan yang akan diluncurkan pada kuartal I/2016. Sebelumnya, BCA Life hanya memasarkan produk melalui tiga jalur distribusi yaitu bundled dengan produk induknya PT Bank Central Asia Tbk, telemarketing, dan corporate channel. BCA Life juga akan meluncurkan delapan produk baru terdiri dari asuransi tradisional dan unit-linked. Tahun lalu, nasabah BCA Life masih didominasi nasabah jiwa kumpulan yang mencapai 84.000 nasabah, dan asuransi jiwa individu masih di bawah 500 orang. Ketua Umum AAJI, Hendrisman Rahim, optimistis perolehan premi asuransi jiwa tahun ini bisa tumbuh di kisaran 20-30%. (Bisnis Indonesia, 15/1, hal. 21)

Narasumber:

  • Christine Setyabudhi, Presiden Direktur, PT Asuransi Jiwa BCA
  • Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI

AIA targets SMEs to boost policy holders / AIA Menyasar UKM untuk Menambah Pemegang Polis

PT AIA Financial menyasar pemilik usaha kecil dan menengah (UKM) untuk mendukung rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan penetrasi asuransi di tanah air. Hingga September 2015, OJK baru 2,5 persen dari 250 juta penduduk Indonesia yang membeli produk asuransi. Rendahnya penetrasi ini sebagian diakibatkan oleh mahalnya premi. OJK menyarankan perusahaan asuransi untuk menciptakan produk dengan premi lebih terjangkau. Pusat UKM UI mencatat bahwa 98 persen dari 58 juta UKM memperoleh omzet kurang dari Rp25 juta per bulan. Produk baru AIA, Life Secure, akan dipasarkan kepada pemilik UKM dengan premi mulai dari Rp450.000 per bulan. AIA mencatat pertumbuhan premi baru dari Rp2,7 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp3,2 triliun tahun 2015. Total premi tumuh 23 persen dari Rp7,17 triliun menjadi Rp8,8 triliun dalam periode yang sama. (The Jakarta Post, 15/1, hal. 14)

Berita serupa dapat ditemukan di:

  • Bisnis Indonesia, 15/1, hal. 21. [Foto] Produk Asuransi Jiwa
  • Investor Daily, 15/1, hal. 22. AIA Luncurkan Proteksi untuk Individu Aktif
  • Kontan, 15/1, hal. 24. AIA Rilis Unitlink Anyar
  • Media Indonesia, 15/1, hal. 17. AIA Luncurkan AIA Life Secure

Target Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

Bagi pelaku industri asuransi nasional, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menyediakan pasar yang lebih luas untuk digarap khususnya di sejumlah negara berkembang. Alasannya, perusahaan asuransi lokal punya pengetahuan dan pengalaman yang lebih menyeluruh mengenai potensi pasar asuransi mereka. Indonesia juga sudah unggul dari sisi tenaga dan sistem pemasaran serta bidang underwriting karena paling memahami risiko yang ada dari objek asuransi di Indonesia. Ada hal penting yang perlu dibenahi pelaku asuransi nasional untuk tetap menjadi tuan di negeri sendiri. Pelaku industri di Indonesia masih tertinggal dalam pemanfaatan teknologi. Menurut Christine Setyabudhi, presiden direktur BCA Life, perusahaan asuransi lokal ditantang untuk bisa menyamai kapasitas perusahaan asuransi luar negeri. Sisi lain yang perlu dibenahi adalah bidang aktuaria, karena Indonesia masih kekurangan tenaga aktuaris dan hingga pertengahan 2015 baru ada 200 aktuaris aktif. OJK terus mengampanyekan peningkatan jumlah aktuaris hingga 1.000 tenaga aktuaris dengan mengajukan ilmu aktuaria sebagai program studi baru (Bisnis Indonesia, 15/1, hal. 21)

Mengukur Peran Asuransi Jiwa untuk Perekonomian Nasional

Banyak yang tak mengira, industri yang nilai asetnya baru mencapai 7% dari produk domestik bruto (PDB) berperan penting dalam perekonomian, terutama dari sisi penyediaan  dana jangka panjang untuk kebutuhan infrastruktur. Bentuk keterlibatan industri asuransi jiwa  dalam menyediakan dana bagi infrastruktur berbeda dengan bank yang melakukan pembiayaan langsung. Bisnis asuransi mengharuskan adanya penyediaan dana jangka panjang untuk membackup risiko asuransi yang umumnya beternor panjang. Potensi penyediaan dana jangka panjang industri asuransi jiwa mencapai Rp300 triliun dan industri bisa langsung terlibat dengan melakukan penyertaan langsung dalam bentuk reksa dana penyertaan terbatas (RDPT) atau membeli obligasi atau sukuk yang diterbitkan pemerintah. OJK akan mengatur modal minimum penempatan investasi di instrumen surat berharga negara (SBN) menjadi 20-30%. Dalam membantu UKM, PT AIA Financial telah meluncurkan produk AIA Life Secure. Selain itu, PT Manulife juga menawarkan porduk  proteksi  bagi pemilik UKM, bekerja sama dengan PT Bank DBS Indonesia. AAJI bersama pelaku industri asuransi jiwa telah meluncurkan produk asuransi mikro khusus bernama Si Peci. (Investor Daily, 15/1, hal. 22)

Narasumber:

  • Lim Chet Ming, Chief Marketing Officer, PT AIA Financial
  • Dumoly F. Pardede, Deputi Komisioner Pengawas IKNB, OJK
  • Hotbonar Sinaga, Pengamat Asuransi
  • Maryoso Sumaryono, Direktur Utama, PT Taspen Life
  • Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif, AAJI

Bank Mandiri Siapkan AXA Mandiri  Jadi Asuransi Terbesar

PT Bank Mandiri Tbk berencana menjadikan perusahaan asuransi jiwa patungan dengan  AXA Group, yakni AXA Mandiri, sebagai asuransi jiwa terbesar di Indonesia dengan  menjaring nasabah Bank Mandiri dan di luar captive market. Sesuai kebijakan Ojk   mengenai single presence policy, perseroan hanya boleh memiliki satu perusahaan asuransi jiwa atau umum. Bank Mandiri terkena aturan tersebut karena memiliki dua perusahaan asuransi jiwa dengan kepemilikan mayoritas.. Perusahaan asuransi jiwa pertama yang dimiliki Bank Mandiri adalah PT AXA Mandiri Financial Services. Selain AXA Mandiri, AXA memiliki lebih dari satu perusahaan asuransi di lini yang sama. Untuk tahap pertama, yang didahulukan adalah konsolidasi dengan pihak AXA, lalu menjadikan AXA Mandiri sebagai perusahaan terbuka. Asuransi jiwa Bank Mandiri yang lain, PT Asuransi Jiwa Inhealth Indoensia akan dipertahankan. Opsi yang diambil untuk Mandiri Inhealth adalah dengan membentuk konstelasi dengan AXA Mandiri. (Investor Daily, 15/1, hal. 22)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

Saatnya Terbitkan Obligasi

Periode Januari-Maret 2016 dinilai merupakan waktu yang tepat bagi korporasi untuk menerbitkan obligasi seiring turunnya BI rate dan tren inflasi yang bakal melandai. Pada  tahun ini, pasar saham Indonesia masih terbelenggu gejolak moneter China dan sentimen negatif investor asing terhadap ekonomi emerging market. Akibatnya, investor cenderung memburu investasi risiko rendah seperti obligasi pemerintah dan korporasi. Pergerakan yield Surat Utang Negara (SUN) akan dipengaruhi yield obligasi AS yang berangsur naik seiring normalisasi Fed Fund Rate ke kisaran 0,8%-1,5% pada akhir 2016. Yield SUN 10 tahun diproyeksikan bergerak dari 7,71% pada kuartal I/206 menjadi berturut-turut 8,03%, 8,19%, dan 8,37% pada kuartal II hingga IV/2016. Yield yang rendah pada kuartal I bisa dimanfaatkan untuk menerbitkan obliasi karena minat investor terhadap instrumen low risk relatif tinggi. Penurunan BI rate berpotensi menurunkan yield obligasi korporasi secara perlahan, apalagi jika diikti penurunan suku bunga perbankan, suku bunga deposito, dan lending rate. Penurunan BI rate juga akan berdampak positif terhadap risiko refinancing korporasi yang obligasi jatuh temponya mencapai Rp46-48 triliun tahun ini. PT Pemeringkat Efek Indonesia telah mengantongi mandat emisi obligasi korporasi untuk semester I/2016 sebesar Rp8,1 triliun. (Bisnis Indonesia, 15/1, hal. 14)

BI Berhati-hati Turunkan BI Rate

Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok pada Januari bisa mendongkrak inflasi. Jika inflasi tahun ini tembus 6%, penurunan BI rate akan terganjal. BI juga mesti mewaspadai arus modal keluar akibat kenaikan suku bunga Fed Funds Rate yang dapat menekan rupiah. Setidaknya ada dua pertimbangan bagi bank sentral untuk berhati-hati menetapkan BI Rate. Pertama, menjaga selisih BI rate dengan FFR, dan kedua mengantisipasi inflasi akibat kenaikan harga pangan. Keputusan soal BI rate baru akan difinalisasi dalam rapat dewan gubernur (RDG)  hari ini. BI idealnya mulai menurunkan BI rate setidaknya 50 bps (0,5%) menjadi 7% dari saat ini 7,5% untuk mendorong daya saing industri nasional dalam menghadapi MEA dan pasar ekspor luar ASEAN.  (Suara Pembaruan, 14/1, hal. 10)

BI Rate Turun, Bunga Kredit Nanti Dulu

Bank Indonesia akhirnya menurunkan BI rate sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%. Sejumlah bank masih akan menimbang banyak hal sebelum memangkas bunga kredit, dengan alasan kondisi likuiditas sebagai trigger penurunan diprediksi relatif cukup ketat akibat pertumbuhan dana pihak ketiga tidak bisa seperti pada tahun 2015. Penurunan BI rate menjadi sinyal positif bagi ekonomi, ditambah program kredit usaha rakyat bebunga 9% tahun 2016. Namun, ada bank yang menurunkan bunga kreditnya, salah satunya adalah Bank Tabungan Negara tetapi baru akan menurunkan suku bunga simpanan. Bank Negara Indonesia juga akan lebih dahulu memangkas bunga simpanan. Bunga kredit, terutama bagi modal kerja dan investasi masih tinggi, di kisaran 23,75% (Bank Permata).  (Kontan, 15/1, hal. 24)

Sinyal Baik bagi Perekonomian

Bank  Indonesia  (BI)  melonggarkan  kebijakan  moneter  dengan  menurunkan  suku   bunga acuan dari 7,5% sejak Februari 2015 menjadi 7,25% dengan mempertimbangkan stabilitas makroekonomi dan ketidakpastian pasar keuangan global mereda. Awal tahun ini investor memiliki kepercayaan diri tinggi untuk berinvestasi seiring dengan turunnya suku  bunga acuan BI tersebut. BI akan menjaga inflasi pada sasaran yang ditetapkan sebesar 4 +/- 1% hingga 2017 dan 3,5% +/- 1% pada 2018. Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) telah diantisipasi pasar sehingga tidak menimbulkan gejolak secara global. Kenaikan defisit transaksi berjalan masih cukup sehat, berada di kisaran 2,5-2,7% sepanjang 2016. Akan tetpai, BI mesti mewaspadai kenaikan harga pangan yang  cenderung  tinggi  sepanjang  Desember-  Januari.  (Bisnis Indonesia, 15/1, hal. 3)

Berita serupa dapat ditemukan di:

  • Kontan, 15/1, hal. 4. BI Rate Dipangkas, Emiten Bank Diburu

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.907

IHSG

4.513,18

BI Rate (per 14 Januari 2016)

7,25%

 

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF