AAJI Daily News - 13 Januari 2016
HEADLINE NEWS
- Tahun Ini Ada 5 Tantangan Industri Asuransi Jiwa
- Asuransi Jiwa Ingin Lebih Bertenaga
- Laba Asuransi Jiwa Melejit Jelang Tutup Tahun 2015
- Tak Cukup Berharap pada Kesadaran
- Tantangan MEA: Industri Asuransi Tidak Cukup Siap
- Sun Life Genjot Pendapatan Premi
- Sun Life Optimistis Raih Pertumbuhan Tinggi
- Sun Life Optimistis Capai Pertumbuhan Tinggi
- Tambah Agen dan Dekati Nasabah
- OJK Pacu Peningkatan Aset Industri Perasuransian
MENGENAI AAJI
Tahun Ini Ada 5 Tantangan Industri Asuransi Jiwa
Togar Pasaribu, Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) merinci tantangan-tantangan paling besar asuransi jiwa antara lain: pertama, kondisi pasar modal yang fluktuatif. Kedua, aturan main pajak khusus untuk asuransi jiwa. Ketiga, penetrasi asuransi terhadap jumlah penduduk Indonesia yang masih rendah dibawah 5%. Keempat, rendahnya literasi asuransi kepada masyarakat khususnya untuk masyarakat menengah ke bawah. Terakhir, penjualan asuransi mikro yang dinilai kurang massive. Meski begitu, peluang bisnis asuransi untuk tumbuh dalam kondisi ekonomi sulit masih terbuka. Misalnya dengan perusahaan asuransi kian giat dalam mengeluarkan produk barunya. Akhir tahun ini, AAJI memprediksi perolehan premi asuransi jiwa 2015 bisa mencapai Rp 120 triliun. Tahun ini, premi asuransi jiwa diperkirakan bisa tumbuh 20% hingga 30%. (Kontan.co.id, 12/1)
http://m.kontan.co.id/news/tahun-ini-ada-5-tantangan-industri-asuransi-jiwa
Narasumber:
- Togar Pasaribu, Plt. Direktur Eksekutif AAJI
Berita serupa:
- Kontan, 13/1, Hal. 24, Asuransi Jiwa Ingin Lebih Bertenaga Laba Asuransi Jiwa Melejit Jelang Tutup Tahun 2015
Laba perusahaan asuransi jiwa di akhir tahun 2015 rupanya masih baik sekalipun dalam kondisi ekonomi yang sulit. Namun dilihat dari bulan ke bulan, laba perusahaan asuransi jiwa tumbuh hingga 22%. Laba asuransi jiwa pada November 2015 sebesar Rp 7,76 triliun naik 22% sebesar Rp 6,3 triliun dibandingkan bulan sebelumnya, Oktober. November menjadi perolehan laba asuransi jiwa tertinggi sejak bulan September sebab dibandingkan bulan September dan Oktober pertumbuhan labanya hanya 12%. Perolehan laba asuransi jiwa pada November tertopang pendapatan asuransi jiwa yang naik 12,5% yakni sebesar Rp 99,02 triliun dari Rp 88,72 triliun pada Oktober. Sedangkan dari sisi beban juga terjadi kenaikan 11,2% menjadi Rp 89,22 triliun pada November. (Infovesta.com, 12/1)
https://www.infovesta.com/infovesta/news/readnews.jsp?id=d7df3231-3761-4e0e-967c- 288ce6738954
Narasumber:
- Togar Pasaribu, Plt. Direktur Eksekutif AAJI
Tak Cukup Berharap pada Kesadaran
Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI, mengatakan masyarakat harus diingatkan akan pentingnya berasuransi karena manfaat yang diterima lebih baik daripada pengeluaran yang disisihkan. Asuransi merupakan proteksi pertama yang diperlukan dalam suatu musibah seperti sakit, kecelakaan, bahkan kematian. Berdasarkan penelitian Munich Re-Economic, Indonesia termasuk satu dari 15 pasar industri asuransi jiwa terbesar di dunia dengan pertumbuhan premi tergolong tinggi antara 23-29% tetapi penetrasi pengguna masih rendah, di bawah angka 2,1%. Perusahaan asuransi juga perlu lebih agresif menjangkau pasar menengah ke bawah. Salah satu langkah yang perlu didorong adalah meningkatkan variasi dan kompleksitas produk asuransi. Asuransi jiwa dapat memperluas pasar dengan menyediakan variasi premi untuk setiap segmen konsumen, selain juga memanfaatkan perkembangan teknologi dengan menyediakan beberapa layanan digital. OJK bersama industri perlu melakukan terobosan untuk memperbaiki tingkat pemahaman masyarakat yang masih rendah terhadap asuransi karena rendahnya pemahaman membuat aksesibilitas dan distribusi produk asuransi ke masyarakat tidak maksimal. (Bisnis Indonesia, 13/1, Hal. 22)
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Tantangan MEA: Industri Asuransi Tidak Cukup Siap
Chief Corporate Affairs Officer PT AXA Indonesia, Benny Waworuntu, menilai pelaku industri asuransi lokal sebenarnya telah memiliki kesiapan untuk menjalani era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), antara lain dari sisi tenaga dan sistem pemasaran yang unggul. Begitu pula dengan bidang underwriting, karena pelaku asuransi lokal paling memahami risiko yang ada dari objek asuransi di Indonesia. Akan tetapi, industri perlu meningkatkan kapasitas di sejumlah bidang seperti aktuaria. Diharapkan, standar kerja kompetensi nasional Indonesia (SKKNI) di bidang asuransi dapat disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggaraan MEA. Selain itu, tantangan yang harus dihadapi adalah masalah kesetaraan antara strategi yang diterapkan di negara maju dan berkembang, kata Christine Setyabudhi, Presiden Direktur BCA Life. Regulator industri asuransi di kawasan ASEAN menyepakati pembentukan Asean Insurance Forum (AIF) untuk mendorong integrasi sektor tersebut dengan berlakunya MEA. AIF akan mulai bekerja pada tahun ini. (Bisnis Indonesia, 13/1, Hal. 22)
Sun Life Genjot Pendapatan Premi
Tahun ini Sun Life memulai gerak bisnisnya dengan mengumpulkan 1.200 tenaga penjual terbaik dari berbagai penjuru Nusantara. Presiden Direktur Sun Life Financial, Elin Waty, mengatakan, selama tiga tahun belakangan ini Sun Life selalu meraih pertumbuhan premi bisnis baru di atas yang dicapai industri asuransi di Indonesia. Tahun lalu Sun Life mencatat pendapatan premi hingga kuartal III/2015 tumbuh 16% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan premi bisnis baru naik 19%, jauh lebih tinggi dari pasar industri asuransi yang hanya sekitar 9%. Aset Sun Life juga meningkat 7%, sebesar Rp5,7 triliun pada kuartal III/2015. Seperti yang baru dibuka pada Sabtu (9/1) yakni dua kantor pemasaran konvensional di Malang dan satu kantor syariah di Gresik. Elin menambahkan, Jawa Timur menyumbangkan 14% pendapatan bagi Sun Life di 2015. Sun Life telah mencatat pertumbuhan jumlah tenaga penjual yang baik, saat ini jumlahnya melampaui 9.800. Angka itu naik 18,5% dibanding 2014. Dengan mengusung tema ”Year Start 2016 Im possible - Indonesia #lebihbaik” diharapkan, dapat mendorong tenaga penjual Sun Life untuk yakin bahwa mereka dapat mencapai target di 2016. Termasuk berkontribusi dalam meningkatkan standar kehidupan masyarakat untuk Indonesia yang lebih baik. Chief Agency Officer Sun Life Syariah, M Norman Nugraha, menjelaskan, Sun Life tahun ini makin memfokuskan pada pengembangan bisnis asuransi syariah. (Koran-sindo.com, 12/1)
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=2&n=8&date=2016-01-12
Berita serupa:
- Beritasatu.com, 12/1, 2016, Sun Life Optimistis Raih Pertumbuhan Tinggi http://www.beritasatu.com/ekonomi/340403-2016-sun-life-optimistis-raih-pertumbuhan- tinggi.html
- Suara Pembaruan, 12/1, Hal. 10, Sun Life Optimistis Capai Pertumbuhan Tinggi
- Jawa Pos, 13/1, Hal. 6, Tambah Agen dan Dekati Nasabah
EKONOMI MAKRO & REGULASI
OJK Pacu Peningkatan Aset Industri Perasuransian
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan memacu peningkatan aset industri asuransi untuk mendukung target OJK agar porsi aset industri keuangan nonbank (IKNB) mencapai 30% dari total aset industri keuangan. Hingga November 2015, porsi aset industri asuransi mencapai 50,15% dari total aset IKNB yakni Rp1.617,9 triliun. Ada dua inisiatif yang dilakukan OJK untuk memacu aset industri asuransi: 1) membentuk 10 juta agen; dan 2) program 1.000 aktuaris. Beberapa peraturan juga sudah diterbitkan terkait optimalisasi kapasitas asuransi dan dukungan reasuransi lokal. Upaya lainnya adalah membentuk Indonesia Investment Club (IIC) bersama pelaku industri untuk mempertemukan investor dan investee. Ada dua hal yang perlu diperbaiki industri asuransi untuk bersaing di tingkat domestik dan internasional: 1) memperkuat rasio kecukupan modal (RBC); dan 2) perusahaan asuransi harus memperkuat teknologi informasi untuk menyediakan layanan prima kepad anasabah. Menurut Ketua Bidang Riset Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Maryoso Sumaryono, persiapan kompetensi sumber daya manusia dan teknologi informasi menjadi penting agar bisa bersaing dengan perusahaan asing. (Investor Daily, 13/1, Hal. 22)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.910 |
|
IHSG |
4.512,52 |
|
BI Rate (per 17 Desember 2015) |
7,50% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
