AAJI Daily News - 29 Maret 2016
HEADLINE NEWS:
- Tahun Ini Perasuransian Akan Rekrut 750.000 Agen, Ini Rinciannya
- Pendapatan Asuransi Jiwa Anjlok 20,9 Persen
- Asuransi Khawatirkan Ketersediaan Investasi SBN
- Laba Industri Asuransi Jiwa Turun 39% di Awal Tahun
- Asuransi Jiwa Incar Mitra Strategis
- Commonwealth Life Perkenalkan Produk Unit Link Baru
- [Foto] Regional AIA Championship
- Premi Takaful Rp 540 Miliar
- BPJS Kesehatan Pasrah
- Pemerintah Mulai Ragu Menaikkan Iuran BPJS
MENGENAI AAJI
Tahun Ini Perasuransian Akan Rekrut 750.000 Agen, Ini Rinciannya
Sepanjang tahun ini tenaga pemasar atau agen asuransi ditargetkan jumlahnya akan bertambah sekitar 750.000 agen. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim mengatakan setiap tahunnya jumlah tenaga pemasar asuransi terus menunjukkan tren peningkatan. Berdasarkan data AAJI, jumlah agen berlisensi pada 2015 meningkat sebesar 23,7% dibandingkan tahun 2014 yaitu dari 414.595 orang menjadi 512.657 orang. Kendati jumlah agen berlisensi akan terus ditingkatkan jumlahnya, tetapi Hendrisman menegaskan bahwa AAJI akan tetap memperhatikan kualitas dan profesionalitas para tenaga pemasar. Dia menuturkan, para agen akan tetap diwajibkan memiliki sertifikasi profesi. Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu menyatakan agen masih menjadi kontributor terbesar terhadap total pendapatan premi. Menurutnya, sekitar 60% pendapatan premi industri asuransi jiwa masih ditopang oleh jalur keagenan, sedangkan 40% sisanya berasal dari jalur distribusi alternatif lainnya. Sepanjang 2015, industri asuransi jiwa berhasil membukukan pertumbuhan premi sebesar 5,8% dibandingkan tahun 2014 yaitu dari Rp121,62 triliun menjadi Rp128,66 triliun. Angka tersebut ditopang oleh pertumbuhan yang cukup signifikan dari premi lanjutan yaitu sebesar 12,9% dari Rp51,59 triliun menjadi Rp58,24 triliun, sedangkan pertumbuhan premi baru hanya sebesar 0,6% yaitu dari Rp70,04 triliun menjadi Rp70,42 triliun. (Bisnis.com, 28/3) http://finansial.bisnis.com/read/20160328/215/531740/tahun-ini-perasuransian-akan-rekrut- 750.000-agen-ini-rinciannya
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum,AAJI
- Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif,AAJI
Pendapatan Asuransi Jiwa Anjlok 20,9 Persen
Total pendapatan asuransi jiwa pada kuartal IV tahun 2015 turun 20,9% dibandingkan kuartal IV tahun 2014, dari Rp167,76 triliun menjadi Rp132,74 triliun, menurut Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim mengatakan penurunan itu utamanya disebabkan hasil investasi asuransi jiwa yang defisit hingga Rp1,66 triliun atau menurun 104,1% dari 2014 yang berada di nilai Rp40,83 triliun. Adapun angka yang belum diaudit ini didapatkan dari 51 perusahaan dari 54 perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI. Meskipun menurun dibandingkan kuartal IV 2014, total pendapatan asuransi jiwa di kuartal sama 2015 jauh lebih baik dibandingkan dengan kuartal ketiga 2015. Pada kuartal ketiga 2015, pendapatan asuransi jiwa tercatat Rp89,1 triliun sementara pada kuartal keempatnya bertumbuh Rp132,74 triliun atau meningkat 49%. Peningkatan ini ditopang oleh pendapatan premi, yang meningkat 5,8% dari kuartal IV 2014, dari Rp121,62 triliun menjadi Rp128,66 triliun. Angka ini didapatkan dari total premi bisnis baru di tiga bulan terakhir 2015 tercatat meningkat 0,6% di rentang yang sama tahun 2014, dari Rp70,04 triliun menjadi Rp70,42 triliun. (Moneter.co.id, 28/3) http://moneter.co.id/pendapatan-asuransi-jiwa-anjlok-209-persen/
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum, AAJI
Asuransi Khawatirkan Ketersediaan Investasi SBN
Industri asuransi jiwa dan umum mengharapkan penundaan terkait pemenuhan peningkatan investasi di surat berharga negara (SBN) tahap kedua sebab ada kekhawatiran mengenai ketersediaan atau supply SBN serta kesiapan perusahaan asuransi. Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 1/POJK.05/2016, perusahaan asuransi umum diwajibkan berinvestasi di instrumen SBN minimal 10% dan pada 2017 persentase ini menjadi 20%. Direktur Eksekutif AAJI Togar Pasaribu berharap OJK dapat memberikan kelonggaran berupa peningkatan secara bertahap untuk investasi SBN ke level 30%. Selain itu, sanksi tidak dikenakan bagi perusahaan asuransi jika sampai ada yang tidak dapat memenuhi ketentuan karena keterbatasan supply SBN pada 2017. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Yasril Y Rasyid mengatakan, kewajiban peningkatan investasi di SBN oleh lembaga jasa keuangan nonbank dapat membuat surat utang negara lebih banyak dimiliki investor dalam negeri dan AAUI siap memenuhi dengan fokus memilih SBN bertenor pendek. Kewajiban peningkatan investasi di SBN pun dikenakan terhadap BPJS Kesehatan dengan porsi minimal 30%. (Investor Daily, 29/3, Hal. 23)
Narasumber:
- Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif, AAJI
Laba Industri Asuransi Jiwa Turun 39% di Awal Tahun
Bisnis perusahaan asuransi jiwa masih seret di awal tahun ini, tercermin dari perolehan laba perusahaan asuransi jiwa yang menurun. Data keuangan OJK mencatat, laba asuransi jiwa turun 39% year on year (yoy) menjadi Rp282,47 miliar pada Januari 2016. Turunnya laba terjadi karena penurunan premi sementara klaim dan manfaat yang harus dibayarkan meningkat. Total pendapatan premi bersih perusahaan asuransi jiwa turun 2,5% menjadi Rp7,74 triliun pada Januari 2016 sementara klaim dan manfaat per Januari 2015 naik 0,1% menjadi Rp6,08 triliun. Di Jiwasraya, sebagian nasabah yang berasal dari segmen korporasi baru melakukan pembayaran tagihan premi biasanya di pertengahan tahun. Hendrisman Rahim, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya, yakin di akhir tahun perolehan premi asuransi bakal tumbuh 10% hingga 15% dibandingkan tahun lalu. Meskipun premi turun, penetrasi asuransi jiwa diklaim naik. Tahun lalu, angkanya 6% dari total penduduk Indonesia sedangkan di 2014 baru 4%. Perolehan hasil investasi perusahaan asuransi jiwa di awal 2016 membaik. Hasil investasi Januari 2016 naik 7% menjadi Rp2,9 triliun. (Kontan, 29/3, Hal. 24)
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum, AAJI
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Asuransi Jiwa Incar Mitra Strategis
Sejumlah asuransi jiwa tengah merampungkan aksi korporasi menggandeng mitra strategis seperti PT Asuransi Jiwa Taspen (Taspen Life), PT AJS Amanahjiwa Giri Artha (Amanah Githa), PT Sun Life Financial Indonesia (SLI). Sedangkan dari pemerintah tengah menyiapkan skema memperbesar PT Asuransi Jiwasraya dengan menggabungkan ke dalam holding. Pask Suartha, Direktur Keuangan dan Umum Taspen Life, mengatakan keberadaan mitra strategis berfungsi untuk memperbesar perusahaan. Dia menekankan saat ini merupakan tahun ketiga perusahaan beroperasi, maka jika pemilik menggandeng mitra strategis diharapkan membawa nilai lebih bagi perusahaan. Awal 2015 lalu, Taspen yang berniat menggandeng investor dari Jepang atau Korea memastikan masuknya mitra strategis ditunda. Perusahaan lebih mendahulukan pemindahan bisnis dari Taspen ke Taspen Life sehingga menghasilkan nilai buku yang lebih besar. Triwulan II/2015 proses itu selesai. Amanah Githa juga memastikan mitra strategis akan masuk. Perusahaan juga membutuhkan mitra yang dapat mempercepat penetrasi asuransi di tengah masyarakat. (Bisnis.com, 28/3) http://finansial.bisnis.com/read/20160328/215/531765/asuransi-jiwa-incar-mitra-strategis
Commonwealth Life Perkenalkan Produk Unit Link Baru
Commonwealth Life memperkenalkan dan meluncurkan produk terbarunya yakni Investra Titanium, sebuah produk unit link terbaru dengan imbal hasil perlindungan jiwa dan investasi yang optimal yang sesuai bagi kebutuhan gaya hidup aktif masyarakat Indonesia. Produk terbaru ini disertai dengan nilai investasi yang telah terbentuk sejak tahun pertama serta beragam manfaat perlindungan. Investra Titanium juga menyediakan beragam fleksibilitas kepada nasabah antara lain dengan kebebasan untuk memilih besarnya uang pertanggungan berdasarkan kebutuhan dan rencana masa depan mereka. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini penetrasi asuransi di Indonesia masih relatif rendah, yakni hanya sebesar 2,51% per akhir September 2015. Angka ini terbilang masih rendah jika dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand yang sudah berkisar antara 4,5%-6,5% terhadap pendapatan domestik bruto (PDB). Adapun pilihan asuransi tambahan yang tersedia untuk produk ini menyediakan proteksi lengkap seperti tersedianya pilihan perlindungan terhadap 53 penyakit kritis dan layanan darurat medis di seluruh dunia apabila terjadi sakit akibat kecelakaan atau sakit saat berpergian. (Wartaekonomi.co.id, 28/3) http://m.wartaekonomi.co.id/berita95107/commonwealth-life-perkenalkan-produk-unit-link- baru.html
[Foto] Regional AIA Championship
Tim perwakilan PT AIA Financial dipimpin Bambang Pamungkas melaju ke babak selanjutnya dalam kompetisi regional AIA Championship di Hong Kong beberapa waktu lalu. Tim bernama Real Garuda ini dalam babak final melawan New Zealand di White Hart Lane, London, markas resmi Tottenham Hotspur. (Investor Daily, 29/3, Hal. 23)
Premi Takaful Rp 540 Miliar
PT Asuransi Takaful Keluarga menargetkan pertumbuhan premi 40% tahun ini, didorong oleh perluasan jalur distribusi. Pihak perusahaan memasang target premi Rp540 miliar di 2016. Takaful berencana memaksimalkan jalur distribusi dari agen untuk mengejar target tersebut. Selain menambah agen hingga 2.800 agen dari 1.000 agen, Takaful bakal menambah manfaat pada produk asuransi jiwa yang dimiliki. Jalur distribusi telemarketing juga akan dioptimalkan tahun ini. (Kontan, 29/3, Hal. 24)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
BPJS Kesehatan Pasrah
Sejauh ini belum ada kepastian apakah pemerintah akan menunda kenaikan iuran atau tetap berlaku pada 1 April 2016. BPJS sebagai badan hukum publik siap melaksanakan semua perundangan yang berlaku dan secara resmi belum ada pemberitahuan untuk menunda kenaikan tarif, kata Irfan Humaidi, Juru Bicara BPJS Kesehatan. Saat ini, pemerintah memilih opsi nomor dua dan tiga yakni penyesuaian tarif dan penyertaan negara. Bila opsi penundaan yang dipilih maka akan ada perubahan dalam persentase penyertaan negara. Wacana penundaan kenaikan iuran BPJS Kesehatan mengemuka setelah Presiden Joko Widodo menyatakan akan memanggil direksi BPJS Kesehatan pasca kenaikan ditetapkan. Kepastian tarif baru akan ditetapkan setelah audit Jaminan Kesehatan Nasional tahun 2015 selesai dilakukan. Komisi IX DPR RI menolak kenaikan iuran tersebut dan DPR bakal melaksanakan hak konstitusionalnya jika pemerintah tetap menaikkan iuran BPJS Kesehatan. DPR juga merasa ada temuan janggal dalam penyaluran dana BPJS Kesehatan dan meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) untuk melakukan audit investigasi terhadap penyaluran dana BPJS tersebut. BPJS Kesehatan mencatat kenaikan bagi peserta mandiri hanya akan berdampak pada 9,9% peserta. Saat ini, dari total 163,32 juta peserta, sebanyak 103,73 juta peserta merupakan PBI baik ditanggung APBN maupun APBD. Sebanyak 38,59 juta peserta adalah pekerja formal yang meliputi pegawai BUMN, TNI, Polri, dan pekerja swasta. Adapun yang terdampak aturan penaikan melingkupi 16,18 juta peserta. Saat ini, JKN justru berjalan karena dukungan masyarakat miskin yang iurannya ditanggung pemerintah. Klaim kelas ini juga lebih rendah sehingga menjaga keberlangsungan program. (Bisnis Indonesia, 29/3, Hal. 21)
Berita serupa:
- Kontan, 29/3, Hal. 20, Pemerintah Mulai Ragu Menaikkan Iuran BPJS
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.343 |
|
IHSG |
4.773,63 |
|
BI Rate (per 17 Maret 2016) |
6,75% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
