AAJI Daily News - 23 Maret 2016


HEADLINE NEWS

  1. Commonwealth Life Targetkan Premi Rp 2 Triliun
  2. Bisnis Asuransi Jiwa Makin Menjanjikan
  3. Wajib Membeli Asuransi Jiwa di Usia Muda
  4. Jiwasraya Bidik Pasar yang Tak Ramai
  5. Indonesia Re Incar Premi Rp 5,9Triliun
  6. [Foto] Penghargaan Perilaku Pasar
  7. BI Rate Turun, Pasar Surat Utang Cerah

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Commonwealth Life Targetkan Premi Rp2 Trilliun

Commonwealth Life menargetkan pendapatan premi secara nasional sebesar Rp2 triliun hingga akhir 2016. Sejumlah strategi disiapkan, di antaranya fokus menggarap potensi daerah. Demikian dikemukakan oleh Pieter Wattimena, Alternative Distribution Channel Director di sela- sela peresmian kantor pemasaran Bandung, pekan lalu. Untuk mengoptimalkan potensi di Bandung dan sekitarnya, lanjut dia, perseroan didukung 2.000 agen berlisensi. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), kata Pieter, keagenan menyumbang 44,5% dari total premi nasional. Dibandingkan dengan tahun lalu, menurut dia, sebenarnya pendapatan premi tumbuh tak terlalu tinggi. Kondisi pasar masih sulit diprediksi. Meski demikian, pihaknya optimistis target bakal terpenuhi. Realisasi tahun lalu, lanjut dia, perolehan premi perusahaan asuransi asal Australia itu sekitar Rp1,8 triliun. Raihan itu dinilai cukup baik di tengah situasi perekonomian yang tak menggembirakan. Memasuki 2016, Commonwealth Life melihat pasar mulai membaik. Masyarakat makin menyadari kepentingan proteksi asuransi sebagai bagian gaya hidupnya. Merujuk data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penetrasi industri asuransi di Indonesia masih sekitar 2,5% per September 2015. (Suaramerdeka.com, 22/3) http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/commonwealth-life-targetkan-premi-rp-2-triliun/

Berita serupa:

Wajib Membeli Asuransi Jiwa di Usia Muda

Tahukah Anda, membeli asuransi jiwa di usia 20-an adalah salah satu pembelian terbaik? Banyak perencana keuangan menyarankan generasi 1990-an membeli asuransi jiwa saat ini juga. Membeli asuransi jiwa mungkin hal yang belum Anda pikirkan sekarang. Namun, pembelian ini bisa jadi penggunaan uang paling strategis yang pernah Anda lakukan dalam hidup. Premi asuransi jiwa akan bertambah mahal seiring bertambahnya usia. David Marlett, seorang  profesor  di  Department  of   Finance,   Banking   and  Insurance  Appalachian State University, Boone, North Carolina, menyatakan ada beberapa perhitungan yang harus masuk pertimbangan. Menurut dia, satu yang terpenting adalah Anda harus setidaknya memiliki gambaran jumlah dana yang mungkin keluar untuk tetap berkontribusi pada keluarga ketika Anda sudah tidak ada lagi. Dengan memiliki asuransi jiwa sejak sekarang, Anda tidak hanya akan mendapatkan benefit perlindungan selama 20-30 tahun, melainkan tabungan yang bisa dinikmati di kemudian hari. Anda bisa menggunakan uang ini untuk membeli kendaraan, rumah kedua atau pembelian mobil. (Viva.co.id, 23/3) http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/751005-wajib-membeli-asuransi-jiwa-di-usia-muda/2

Jiwasraya Bidik Pasar yang Tak Ramai

PT Asuransi Jiwasraya akan mengoptimalkan seluruh kapasitas perusahaan untuk merealisasikan target pemerintah menguasai 40% market industri asuransi jiwa sampai 2019. Untuk merealisasikan target ini, Jiwasraya telah menerapkan sejumlah strategi. Salah satunya memilih pasar yang tidak telalu ramai. Pada saat industri ramai menyasar pasar unitlink, Jiwasraya memaksimalkan produk dwiguna yang memberikan kepastian imbal hasil dan perlindungan jiwa. Strategi lain yang diterapkan adalah perluasan channel distribusi. Selain bermitra dengan perbankan, juga menyasar komunitas yang memiliki jaringan secara nasional. (Jpnn.com, 22/3) http://m.jpnn.com/read/2016/03/22/365166/Jiwasraya-Bidik-Pasar-yang-Tak-Ramai-

Indonesia Re Incar Premi Rp5,9 Triliun

PT Reasuransi Indonesia Utama optimistis menetapkan target bisnis tahun ini dengan mengincar premi reasuransi sebesar Rp5,9 triliun yang berasal dari dua anak usahanya yakni PT Asei Reasuransi Indonesia dan PT Reasuransi Umum Indonesia (Reindo). Tahun lalu, Rp3,8 triliun premi disumbang kedua anak usaha ini, Rp3 triliun dari Reindo dan sisanya dari Asei Re. Hasil underwriting tahun ini ditargetkan mencapai Rp573,7 miliar dan hasil investasi yang dikejar sebanyak Rp319,2 miliar sehingga ditargetkan memperoleh laba sebesar Rp294,3 miliar tahun ini. Tahun ini, Indonesia Re masih mengandalkan kinerja anak usaha  dalam meraup premi sembari menunggu proses konsolidasi usai. Indonesia Re sendiri akan beroperasi penuh pada 2017 mendatang. Pada Januari 2015, dua anak usaha Indonesia Re mengantongi premi Rp200 miliar dan pada periode yang sama tahun ini, perolehan premi telah naik 50%. (Kontan, 23/3, Hal. 24)

[Foto] Penghargaan Perilaku Pasar

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kusumaningtuti S. Soetiono, menyerahkan penghargaan Market Conduct kepada Direktur PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Apriliani T. Siregar, pada Selasa (22/3). Penghargaan ini diberikan kepada Manulife Indonesia sebagai pelaku usaha jasa keuangan yang telah melaksanakan prinsip perlindungan konsumen dan melaporkan hasilnya secara tepat waktu melalui sistem informasi pelaporan edukasi dan perlindungan konsumen. (Bisnis Indonesia, 22/3, Hal. 22)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

BI Rate Turun, Pasar Surat Utang Cerah

Pasar obligasi bullish pasca penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI rate ke level 6,75%. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pekan 14 Maret-18 Maret 2016 mencatatkan return positif sebesar 7,56%. Rata-rata yield obligasi pemerintah sepanjang tenor 1-30 tahun turun 13,81 basis poin secara week on week, sedangkan rata-rata yield obligasi korporasi pada pekan tersebut turun 16,31% week on week. Total transaksi dan total frekuensi obligasi meningkat drastis pada Kamis (17/3) dibandingka hari sebelumnya. Transaksi didominasi oleh obligasi bertenor 10 tahun hingga 15 tahun diikuti tenor 15 tahun hingga 20 tahun dan tujuh hingga 10 tahun. Obligasi berdurasi jangka menengah hingga panjang masih mendominasi karena memberikan yield yang menarik. Pada Kamis (17/3), total frekuensi obligasi meningkat 72,75% menjadi 824 kali dan total volume meningkat 56,33% menjadi Rp20,74 triliun dibandingkan hari sebelumnya. Pasar obligasi diperkirakan masih akan cerah sepanjang semester I dipicu oleh meningkatnya keyakinan akan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan inflasi rendah. Namun, pasar obligasi secara jangka panjang masih akan menghadapi sejumlah tantangan seperti data ekonomi AS yang belum stabil, quantitative easing Eropa, dan perlambatan ekonomi Tiongkok. (Kontan, 23/3, Hal. 6)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.184

IHSG

4.856,10

BI Rate (per 17 Maret 2016)

6,75%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF