AAJI Daily News - 19 Februari 2016


HEADLINE NEWS:

  1. Asuransi Minta Aturan Dituntaskan
  2. Gelar Kick-off, MNC Life Siap Menangi Persaingan
  3. Solvabilitas Jiwasraya Naik 31 Persen
  4. Penanaman Modal Asing Diharapkan 6 Persen
  5. IIC Siap Biayai Proyek Strategis
  6. Penurunan BI Rate Angkat IHSG dan Rupiah
  7. BI Rate Diturunkan Lagi
  8. BI Rate Turun Jadi 7%
  9. Dampak Penurunan BI Rate: Aliran Dana Asing Kian Deras
  10. BI Rate Pangkas Biaya Tinggi
  11. BI Rate Turun, Sukri 008 Semakin Menarik

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Asuransi Minta Aturan Dituntaskan

Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Adi Purnomo Wijaya menyatakan pelaku industri asuransi kesehatan menyambut baik usulan pemerintah terkait dengan pelaksanaan skema koordinasi manfaat atau coordination of benefit (CoB) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal ini dibuktikan melalui penandatanganan nota kesepahaman antara 51 perusahaan asuransi dan Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Ada beberapa hal dalam skema CoB yang belum dapat diimplementasikan antara lain pendaftaran peserta dan pembayaran iuran BPJS Kesehatan yang harus dilakukan langsung dan sistem rujukan berjenjang. Persoalan teknis lain yang perlu dikaji adalah keharusan peserta untuk naik kelas kamar perawatan dan tidak diberlakukannya CoB untuk asuransi individu. Mandiri Inhealth telah menjalankan skema CoB dengan menawarkan produk managed care yang jenis produknya hampir menyerupai BPJS Kesehatan. Produk managed care yang ditawarkan Mandiri Inhealth dapat menjadi pelengkap pelayanan BPJS Kesehatan. Total pendapatan premi perusahaan tahun lalu mencapai Rp1,43 triliun dan kontribusi managed care cukup besar yaitu sekitar 80% dan indemnity berkontribusi 15% dan 5% sisanya dari produk lain. (Bisnis Indonesia, 19/2, Hal. 21)

Gelar Kick-off, MNC Life Siap Menangi Persaingan

PT MNC Life Assurance (MNC Life) menyelenggarakan Kick-off Meeting bagi tim pemasaran di wilayah Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan sekitarnya di Salatiga. Kegiatan ini untuk menyatukan semangat, visi, dan misi seluruh lini MNC Life dalam mendukung pertumbuhan perusahaan ke depan. Tema yang diambil tahun ini adalah Fight and Win. Melalui kegiatan ini, pihak manajemen membeberkan target sekaligus membekali strategi bagi seluruh lini perusahaan dalam menghadapi persaingan yang makin ketat di industri asuransi jiwa nasional. Hingga Desember 2015, MNC Life memiliki aset senilai Rp495 miliar, meningkat 16% dari nilai aset 2014 senilai Rp425 miliar. Pertumbuhan ini tak lepas dari peran agen asuransi MNC Life yang saat ini berjumlah 10.000 orang. Dalam tiga tahun ke depan, nilai aset MNC Life ditargetkan menembus Rp1 triliun. MNC Life telah memiliki 28 kantor pemasaran di seluruh Indonesia dan ditargetkan terus bertambah hingga 33 kantor pada akhir 2016 nanti. (Koran Sindo, 19/2, Hal. 17)

Solvabilitas Jiwasraya Naik 31 Persen

PT Asuransi Jiwasraya mengalami tingkat kesehatan kinerja perusahaan cukup baik tahun 2015. Jumlah solvabilitas perusahaan ini mencapai Rp2,96 triliun di 2015. Dari sisi modal minimum berbasis risiko (MMBR) jumlahnya terjadi kenaikan menjadi Rp1,82 triliun pada 2015, dari Rp1,57 triliun. Selisih antara solvabilitas dengan MMBR ini menghasilkan kelebihan batas tingkat solvabilitasi Jiwasraya sebesar Rp113 triliun pada 2015, dengan kenaikan 76% dari tahun 2014. Rasio pencapaian solvabilitas sebesar 161,17% ini menandakan tingkat kesehatan keuangan yang sehat karena berada di atas ketentuan OJK sebesar 120%. Sekalipun kondisi ekonomi tahun lalu lesu, kinerja Jiwasraya tetap positif dengan pertumbuhan laba 61% mencapai Rp1,066 triliun. Pendapatan Jiwasraya pada 2015 naik 57% menjadi Rp11,08 triliun, terangkat dengan pemasukan premi yang naik 61% menjadi Rp10,21 triliun. Beban perusahaan naik 28% menjadi Rp9,98 triliun. Beban klaim dan manfaat yang dibayar tahun 2015 naik tipis menjadi Rp4,91 triliun dan Rp4,53 triliun tahun sebelumnya. Para produk tertentu seperti unitlink, banyak masyarakat yang melakukan top up atau peningkatan saldo karena harganya yang murah terkena efek IHSG yang menurun. (Indopos, 19/2, Hal. 5)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

Penanaman Modal Asing Diharapkan 6 Persen

Investasi asing yang masuk ke Indonesia hanya sekitar 1,9% dari nilai investasi di dunia atau global. Untuk menarik investasi, kebijakan membuka kepemilikan asing untuk bidang-bidang usaha tertentu atau daftar negatif investasi dibuka. Berdasarkan data 2014, Indonesia menempati peringkat ke-14 penanaman modal asing (PMA) global dengan nilai 23 miliar dolar AS. Porsi PMA ke Indonesia ini sekitar 1,87% dari total PMA global yang mencapai 1,23 triliun dolar AS. Dengan nilai tukar rupiah berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) sebesar Rp13.479 per dolar AS, PMA yang masuk ke Indonesia setara Rp310 triliun. Kebutuhan investasi tahun 2016 diperkirakan Rp4.500 triliun. Realisasi investasi PMA pada 2015 sebesar Rp365,9 triliun dan realisasi investasi penanaman modal dalam negeri (PMDN) sekitar Rp179,5 triliun. Upaya mendorong investasi, kawasan industri atau kawasan ekonomi khusus (KEK) sangat penting bagi investasi tetapi ada beberapa kendala yang harus dihadapi seperti kelembagaan yang menangani KEK, pembebasan lahan, dan infrastruktur. (Kompas, 19/2, Hal. 20)

IIC Siap Biayai Proyek Strategis

Lima asosiasi industri keuangan non-bank (IKNB) menyepakati pendirian Indonesia Investment Club untuk mempercepat pengerjaan proyek strategis. Lembaga ini akan menjadi wadah seluruh perusahaan IKNB untuk terlibat dalam pembangunan strategis. Kerja sama ini memungkinkan pelaku IKNB dengan skala kecil untuk memiliki pengalaman menangani proyek skala besar karena tergabung dalam konsorsium. Lima lembaga pendiri IIC yaitu Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia, Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, dan Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan. IKNB tercatat memiliki aset lebih dari Rp1.600 triliun hingga akhir 2015. Aset ini tersebar di industri asuransi Rp570 triliun, industri pembiayaan Rp425,72 triliun, dana pensiun Rp205,05 triliun dan selebihnya tersebar di asuransi wajib dan asuransi sosial. PT Taspen berkomitmen untuk membiayai proyek-proyek strategis dan telah membentuk strategic business unit untuk mempercepat investasi langsung. Berdasarkan aturan, Taspen dapat menempatkan 10% dana pensiun dan 5% dana tabungan hari tua ke dalam ekuitas. Kendati keikutsertaan diputuskan masing-masing perusahaan, seluruh perusahaan IKNB di Indonesia otomatis menjadi peserta. (Bisnis Indonesia, 19/2, Hal. 21)

Penurunan BI Rate Angkat IHSG dan Rupiah

Penurunan BI rate kedua kalinya tahun ini yang sudah diekspektasi mendorong IHSG maupun rupiah menguat sejak awal perdagangan, Kamis (18/2). Indeks di BEI ditutup menguat 0,28% ke level 4.778,79 dengan asing mencatatkan net buy Rp367,2 miliar. Rupiah di pasar spot naik 0,50% ke level Rp13.439 per dolar AS. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kemarin menurunkan 25 bps suku bunga acuan ke 7%, deposit facility ke 5%, dan lending facility ke 7,5%. BI juga kembali menurunkan giro wajib minimum (GWM) primer rupiah dari 7,5% ke 6,5% efektif per 16 Maret mendatang. Nilai tukar rupiah kini bergerak stabil dengan tren menguat, didorong oleh masuknya aliran modal asing, seiring risiko pasar keuangan global yang makin mereda dan persepsi positif terhadap ekonomi domestik. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, memasuki tahun 2016 dana asing masih mengalir ke SBN sebanyak Rp32,55 triliun, sehingga kepemilikan asing menembus Rp591,07 triliun per 17 Februari lalu. Dana asing juga masuk ke pasar saham dengan net buy pada Kamis (18/2) mencapai Rp367 miliar sehingga menambah akumulasi pembelian bersih dari awal Januari lalu hingga kemarin menjadi Rp2,74 triliun. Kenaikan IHSG didukung faktor global, terutama menguatnya kembali harga minyak yang mendorong hampir semua indeks harga saham bursa utama Asia meningkat. Keputusan BI menurunkan suku bunga akan membawa sentimen positif terhadap pasar saham dan menjadi indikasi ekonomi makro Indonesia dalam kondisi baik. Pelonggaran moneter ini juga akan menumbuhkan kredit tahun ini. Hingga akhir tahun lalu, penyaluran kredit perbankan hanya tumbuh 10,5% year on year, melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 11,4%. Penurunan GWM akan berdampak secara langsung terhadap likuiditas perbankan di tengah ketatnya likuiditas saat ini. Dibandingkan dengan negara ASEAN lain, suku bunga kredit perbankan Indonesia paling tinggi, yaitu di atas 12% untuk sektor korporasi dan ritel, dan lebih tinggi lagi untuk mikro, yang mencapai 18-20%. Tingginya suku bunga kredit ini membuat daya saing dunia usaha Indonesia menjadi rendah, sehingga sulit berkompetisi di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). (Investor Daily, 19/2, Hal. 1&11)

Berita serupa:

  • Republika, 19/2, Hal. 9, BI Rate Diturunkan Lagi
  • Koran Sindo, 19/2, Hal. 17, BI Rate Turun Jadi 7%
  • Bisnis Indonesia, 19/2, Hal. 14, Dampak Penurunan BI Rate: Aliran Dana Asing Kian Deras
  • Indopos, 19/2, Hal. 4, BI Rate Pangkas Biaya Tinggi BI Rate Turun, Sukri 008 Semakin Menarik

Terhitung mulai hari ini, pemerintah melego surat utang syariah negara alias sukuk ritel seri SR-008 dengan masa penawaran hingga 4 Maret 2016. Pemerintah akan menerbitkan Sukri SR-008 Rp25 triliun-Rp30 triliun, target ini lebih tinggi ketimbang realiasi penerbitan tahun lalu senilai Rp21,96 triliun. Surat utang ini bertenor tiga tahun dengan imbalan 8,3% per tahun. Penetapan kupon masih mengacu pada BI rate 7,25% dan memperhitungkan yield SUN tenor tiga tahun di pasar sekunder. Proyeksi permintaan sukri ini diperkirakan bakal mencapai Rp22,5 triliun-Rp27 triliun. Pasca penurunan BI rate, sukri makin menarik karena spread bunga acuan makin lebar. Investasi di SR-008 lebih menarik ketimbang deposito yang berbiak 7-8%. Investor dengan nominal investasi kecil akan masuk untuk menikmati kupon dan investor kelas kakap bakal mengejar kenaikan harga. Investor bisa memesan SR-008 dengan minimal Rp5 juta dan maksimal Rp5 miliar. (Kontan, 19/2, Hal. 1)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.503

IHSG

4.778,79

BI Rate (per 18 Febuari 2016)

7,00%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF