AAJI Daily News - 29 Januari 2016
29 Januari 2016
HEADLINE NEWS
- Pertumbuhan Aset Asuransi Jiwa Mepet
- [Foto] Target Bringin Life
- [Foto] Sun Life Edufair
- Sun Life Edufair 2016
- [Foto] Pendidikan Anak
- [Foto] Perencanaan Pendidikan
- Asuransi Dukung Perencanaan Keuangan Pendidikan Anak
- [Foto] Asuransi untuk Anak-anak
- [Foto] Mempersiapkan Pendidikan Anak
- Sun Life Pacu Kontribusi Syariah
- Bringin Life Targetkan Bisnis Tumbuh 40%
- Digitalisasi Optimalkan Penetrasi Asuransi
- Tugu Mandiri Targetkan Rp400 Miliar
- BI: Inflasi Januari Tinggi
MENGENAI AAJI
Pertumbuhan Aset Asuransi Jiwa Mepet
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sepanjang 2015 mencatat aset industri asuransi jiwa hanya tumbuh 2%, terendah dalam 5 tahun terakhir. Sejak 2010 hingga 2014, rata-rata pertumbuhan aset asuransi jiwa 18%. Data OJK menunjukkan aset perusahaan asuransi jiwa tumbuh dari Rp323,1 triliun pada 2014 menjadi Rp329,6 pada 2015. Penurunan aset industri asuransi jiwa terlihat kentara dalam dua instrumen yakni saham dan surat berharga negara (SBN). Pada Maret 2015, aset saham mencapai Rp93,9 triliun, menyuust ke Rp72,6 triliun pada September 2015 dan naik ke Rp82,5 triliun per Desember 2015. Pada instrumen SBN, akhir triwulan I/2015 tercatat Rp46,4 triliun dan pada Desember 2015 tinggal Rp45,1 triliun. Sepanjang 2015, asuransi jiwa mencatatkan liabilitas 1,96% year on year dari Rp253 triliun menjadi Rp258 triliun dan ekuitas perusahaan asuransi jiwa naik 1,53% dari Rp69,98 triliun menjadi Rp71,05 triliun. Investasi asuransi jiwa sebaiknya mendukung karakteristik bisnis yang kewajibannya bersifat jangka panjang. Premi Inhealth masih tumbuh 2,2% dibandingkan 2014. Menurut Hendrisman Rahim, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, perolehan premi tetap tumbuh sepanjang 2015 meski investasi tertekan dan tahun ini dia optimistis premi dapat tumbuh 20- 30%. OJK sedang menyiapkan aturan agar kinerja industri asuransi jiwa tidak terganggu, salah satunya mewajibkan pengelola perusahaan asuransi wajib menempatkan sebagian investasinya di SBN. (Bisnis Indonesia, 29/1, Hal. 21)
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI
INDUSTRI ASURANSI JIWA
[Foto] Target Bringin Life
Bringin Life menargetkan pertumbuhan minimal 40% pada 2016, dibandingkan dengan pencapaian 2015 sebesar Rp2,4 triliun. Pada 2015, Minimum Modal Berbasis Risiko (MMBR) asuransi tersebut sebesar 213,72% dengan pencapaian laba Rp409 miliar. (Bisnis Indonesia, 29/1, Hal. 21)
[Foto] Sun Life Edufair
Sun Life Edufair digelar pada Kamis (28/1) di Jakarta. Pameran pendidikan ini mempertemukan sekolah-sekolah, pakar pendidikan, orang tua, dan anak-anak yang bertujuan mengedukasi para orang tua akan pentingnya memulai dana pendidikan anak di masa depan sejak dini. (Bisnis Indonesia, 29/1, Hal. 21)
Berita serupa:
- Seputar Indonesia, 29/1, Hal. 19, Sun Life Edufair 2016
- Media Indonesia, 29/1, Hal. 12, [Foto] Pendidikan Anak
- Kontan, 29/1, Hal. 24, [Foto] Perencanaan Pendidikan
- Investor Daily, 29/1, Hal. 21 & 22, Asuransi Dukung Perencanaan Keuangan Pendidikan Anak
- The Jakarta Post, 29/1, Hal. 20, [Foto] Asuransi untuk Anak-anak
- Investor Daily, 29/1, Hal 21, [Foto] Mempersiapkan Pendidikan Anak
Sun Life Pacu Kontribusi Syariah
PT Sun Life Financial Indonesia akan memacu kontribusi produk asuransi syariah terhatap total penjualan menjadi 25% pada tahun ini yang sejauh ini baru mencapai 18%. Saat ini, unit usaha syariah (UUS) Sun Life memiliki 44 kantor pemasaran dan 1.300 agen. Mengenai rencana pemisahan UUS, Sun Life belum berencana mengajukan izin kepada OJK tahun ini dan pengajuan izin akan dilakukan setelah perkembangan bisnis asuransi syariah telah mencapai target yang ditetapkan perusahaan. Perusahaan juga masih berencana mengembangkan jalur distribusi keagenan dengan menambah jumlah agen hingga yang saat ini mencapai 9.800 orang. Sun Life membukukan laba Rp238,09 miliar, naik 4.919,86% dari realiasi September 2014 yakni Rp4,74 miliar. Namun, hasil investasi anjlok 117,02% karena pada September 2015 hasil investasi tercatat minus Rp90,63 miliar. Dua perusahaan lain yang berharap bisa memperoleh izin spin off OJK adalah PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia dan PT Asuransi Jasa Indonesia. (Bisnis Indonesia, 29/1, Hal. 21)
Bringin Life Targetkan Bisnis Tumbuh 40%
PT Asuransi Jiwa Bringin Sejahtera (Bringin Life) menargetkan pertumbuhan bisnis 40% pada 2014, dibandingkan pencapaian tahun lalu sebesar Rp2,4 triliun. Bringin Life telah melebur ke unit usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) pada 29 Desember 2015. Akuisisi BRI terhadap Bringin Life merupakan cara BRI memperoleh pertumbuhan anorganik. Dengan kekuatan kapital, manajemen, dan infrastruktur dari penggabungan perusahaan, serta jumlah nasabah BRI yang mencapai 52 juta nasabah, manajemen optimistis target bisnis dapat tercapai. Bringin Life akan lebih konsentrasi di unit usaha asuransi mikro, termasuk syariah. Teknologi informasi (TI) harus segera dibangun melalui konsep pengembangan proses bisnis model dengan menggunakan teknologi yang sama seperti perbankan. (Investor Daily, 29/1, Hal. 22)
Digitalisasi Optimalkan Penetrasi Asuransi
Tahun lalu, industri asuransi jiwa terpengaruh oleh perlambatan ekonomi sehingga laba tergerus. Per November 2015, total laba Rp5,46 triliun sedangkan di tahun 2014 mencapai Rp15,85 triliun. Proyeksi ekonomi Indonesia tahun ini diharapkan membaik. Ada lima tantangan yang dihadapi industri asuransi jiwa tahun ini: 1) kondisi pasar modal yang fluktuatif; 2) aturan main pajak khusus atas asuransi jiwa; 3) penetrasi asuransi yang masih rendah; 4) literasi asuransi masyarakat yang belum memuaskan; dan 5) penjualan asuransi mikro yang kurang masif. AAJI memperkirakan pertumbuhan premi tahun ini antara 20-30%. Pertumbuhan ini terjadi berkat penetrasi asuransi yang masih rendah, bonus demografi, dan peningkatan kelas menengah sebesar 35%. Asuransi harus mengikuti tren digitalisasi apalagi dengan pengguna ponsel cerdas mencapai 55 juta dan Internet 90 juta. Apllikasi pad aponsel pintar menjadi fokus perusahaan asuransi. Jaringan media sosial juga tak ketinggalan dimanfaatkan. Commonwealth Life tahun lalu meluncurkan fitur baru berupa kalkulator financial yang membantu siapa saja merencanakan dan memahami tujuan dan kebutuhan finansial mereka. Kalkulator Commonwealth Life dilengkapi tiga aspek perencanaan keuangan yaitu memahami perencanaan keuangan untuk pendidikan, masa depan, dan pensiun. Commonwealth Life juga menjalankan beberapa program literasi keuangan antara lain Born-to-Dominate untuk para mahasiswa. (Rakyat Merdeka, 27/1, Hal. 6)
Tugu Mandiri Targetkan Rp400 Miliar
Asuransi Jiwa Tugu Mandiri menargetkan pertumuhan premi 30% sepanjang 2016 ini. Tahun kemarin, Tugu Mandiri membukukan premi bruto Rp300 miliar dan tahun ini diperkirakan mencapai Rp400 miliar, kata Daneth Fitrianto, Direktur Keuangan dan Investasi, Tugu Mandiri. Sepanjang 2015, Tugu Mandiri berhasil menaikkan laba bersih lebih dari 2,5 kali lipat dari rencana kerja perusahaan. Imbal hasil investasi yang diperoleh tahun kemarin mencapai 10,5% dan tahun ini diperkirakan mencapai 8,3-8,5%. Untuk penempatan dana investasi, perseroan akan tetap dominan di reksa dana, saham, dan surat berharga negara (SBN). Potensi asuransi di Indonesia masih sangat besar dan dengan upaya edukasi ke berbagai segmen masyarakat akan meningkatkan penetrasi asuransi. Sementara itu, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Cabang Bandung menargetkan pertumbuhan kinerja hingga 38-40% tahun ini. Program BPJS telah membantu masyarakat dalam memahami pentingnya berasuransi dan masyarakat yang merasa tidak cukup terpenuhi kebutuhannya dalam program tersebut akan mencari produk lain yang memiliki manfaat lebih besar. Saat ini, jumlah nasabah Manulife Bandung sekitar 30.000 orang. (Bisnis Indonesia, 29/1, Hal. 22)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
BI: Inflasi Januari Tinggi
Laju inflasi hingga pekan ketiga Januari 2016 sudah mencapai 0,75 persen, disumbang oleh kenaikan harga produk hortikultura. Pemerintah berharap penurunan harga BBM pada awal tahun bisa berdampak positif terhadap pergerakan harga barang/jasa lain. Saat ini, konsumen makin cerdas dalam memilih produk, cenderung memilih ke produk alternatif saat harga suatu komoditas melonjak tinggi. Terkait ekspor komoditas, pelemahan nilai tukar rupiah belum banyak membantu sebab Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas mentah. (Republika, 29/1, Hal. 14)
INFORMASI KEUANGAN
|
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
