AAJI Daily News - 1 Maret 2016
HEADLINE NEWS:
- Tahun 2020, Investasi Industri Asuransi Jiwa di Properti Rp8,91 Triliun
- Porsi Properti Bakal Meninggi
- Indonesia Paling Buncit Soal Pemahaman Gaya Hidup Sehat
- [Foto] Hasil Survei Cigna
- [Foto] Survei Kesejahteraan
- Survei Cigna: Indeks Kepercayaan Masyarakat Indonesia Terendah
- [Foto] Hasil Survei
- Masyarakat Cemaskan Biaya Kesehatan Mahal
- Asuransi Kerek Kontribusi Premi Unitlink
- Penguatan Rupiah Angkat IHSG
- OJK Siapkan Aturan untuk Mediasi
MENGENAI AAJI
Tahun 2020, Investasi Industri Asuransi Jiwa di Properti Rp8,91 Triliun
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memprediksi total investasi dari industri asuransi jiwa di instrumen properti berpotensi mencapai Rp8,91 triliun pada 2020. Salah satu peluang industri asuransi jiwa mencapai hal tersebut adalah dengan berinvestasi di instrumen dana investasi real estate (DIRE). Kepala Departemen Pajak, Keuangan, dan Investasi AAJI Simon Imanto mengatakan, sampai akhir tahun 2014 total investasi industri asuransi jiwa di properti mencapai Rp8,36 triliun. Namun, porsi investasi tersebut menurun hingga menjadi Rp6,04 trilun pada akhir 2015. Dengan proyeksi AAJI terkait investasi di properti pada 2020, ada potensi kenaikan sebesar 47,52%, dibanding realisasi pada akhir 2015. Terkait DIRE, Simon menilai, secara karakteristik instrumen tersebut sesuai dengan karakteristik dana di asuransi jiwa yang merupakan liability jangka panjang. Oleh sebab itu, saat ini AAJI menunggu dan berharap kalau pemerintah jadi memberikan penurunan pajak PPh dari 5% menjadi 1%. (Beritasatu.com, 29/2)
http://www.beritasatu.com/ekonomi/352045-tahun-2020-investasi-industri-asuransi- jiwa-di-properti-rp-891-triliun.html
Narasumber:
- Simon Imanto, Kepala Departemen Pajak, Keuangan, dan Investasi, AAJI
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 1/3, Hal. 21, Porsi Properti Bakal Meninggi
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Indonesia Paling Buncit Soal Pemahaman Gaya Hidup Sehat
Indonesia menempati posisi buncit dalam kesadaran dan pemahaman tentang gaya hidup sehat. Demikian hasil survei yang dilakukan perusahaan asuransi global Cigna tahun 2015 yang dipublikasikan Senin (29/2/2016). Survei tersebut digelar secara online di 11 negara dengan jumlah responden mencapai 15.000 orang. Khusus di Indonesia, survei dilakukan di sembilan kota yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar, Semarang, Solo, Balikpapan, dan Bandar Lampung dengan total responden berjumlah 1.000 orang. Hasil survei tersebut kemudian dinyatakan dalam skor Index of Belief atau Indeks Keyakinan. Skor Indonesia dalam survei tersebut adalah 49,3, yang merupakan skor terendah dari 11 negara. Sebagai perbandingan, Korea Selatan memiliki skor Indeks Keyakinan sebesar 56,4, Tiongkok sebesar 51, dan Selandia Baru sebesar 62,4. Sejauh ini, penetrasi asuransi kesehatan dan asuransi jiwa di Indonesia masih tergolong rendah. Kendati demikian, menurut Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim, kesadaran masyarakat akan pentingnya asuransi kesehatan dan jiwa cenderung meningkat. (Kompas.com, 29/2) http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/02/29/234718826/Indonesia.Paling.Bu ncit.Soal.Pemahaman.Gaya.Hidup.Sehat
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 1/3, Hal. 21, [Foto] Hasil Survei Cigna
- Kontan, 1/3, Hal. 24, [Foto] Survei Kesejahteraan
- Investor Daily, 1/3, Hal. 23, Survei Cigna: Indeks Kepercayaan Masyarakat Indonesia Terendah
- Investor Daily, 1/3, Hal. 24, [Foto] Hasil Survei Cigna
- Media Indonesia, 1/3, Hal. 19, [Foto] Hasil Survei
- Koran Jakarta, 1/3, Hal. 5, Masyarakat Cemaskan Biaya Kesehatan Mahal
- Republika, 1/3, Hal. 16, [Foto] Survei Kesejahteraan
Asuransi Kerek Kontribusi Premi Unitlink
Setelah melewati masa cukup berat di 2015, produk unitlink diperkirakan kembali diminati tahun ini, terlihat dari sejumlah perusahaan asuransi jiwa yang mengerek kontribusi segmen unitlink. Hendrisman Rahim, Direktur Utama, PT Asuransi Jiwasraya, optimistis porsi unitlink di tahun ini bakal tumbuh menjadi dua digit dari total premi yang ditargetkan. Hingga 2015, porsi produk asuransi berbalut proteksi baru mencapai 5% dari total premi Jiwasraya dan tahun ini akan dinaikkan menjadi 10%. Pada 2015, Jiwasraya mengantongi premi Rp10,2 triliun, Rp510 miliar di antaranya dari produk unitlink. Dengan target total premi Rp12,5 triliun tahun ini, maka pendapatan premi Jiwasraya akan mencapai Rp1,25 triliun dari unitlink. Kepercayaan dari Jiwasraya meningkat lantaran kondisi pasar modal yang membaik. Selain itu, Jiwasraya juga akan menambah dua-tiga produk tahun ini dan menambah jumlah agen dari 17.000 tahun 2015 menjadi 30.000 orang akhir tahun ini. Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera juga ingin mengerek kontribusi pendapatan premi dari unitlink dan menargetkan porsi premi dari unitlink menembus 9%, naik dari tahun lalu sebesar 4,3%. Perolehan premi dari unitlink Rp252,2 miliar pada 2015 dan tahun ini ditargetkan mencapai Rp630 miliar. Secara total, target premi Bumiputera tahun ini sebesar Rp7 triliun, lebih tinggi 20,6% dari realisasi 2015 sebanyak Rp5,8 triliun. Untuk mengerek premi unitlink, Bumiputera bakal memodernisasi sistem melalui pembayaran non tunai untuk premi dan klaim menggandeng sejumlah bank. Saat ini, Bumiputera telah bekerja sama dengan Bank Mandiri, BNI, dan CIMB Niaga untuk pembayaran premi menggunakan kartu debit dan kredit, mesin EDC, internet banking, dan layanan bank lain. Bumiputera juga menerapkan sistem cashless untuk penerimaan klaim secara direct to client. PT Asuransi Jiwa Sequis Life yakin premi unitlink bisa berkontribusi 90% dari total premi. Tahun lalu, kontribusi unitlink mencapai 65%. Tahun ini, Sequis menargetkan pendapatan premi bisnis baru bisa tumbuh 20-30% menjadi Rp648-702 miliar dari Rp540 miliar tahun lalu. Strategi Sequis menggenjot premi adalah menambah jumlah agen dari 14.000 agen di 2015 menjadi 16.000 agen tahun ini. (Kontan, 1/3, Hal. 24)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Penguatan Rupiah Angkat IHSG
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi menguat pekan ini. Kondisi ini dipicu oleh stabilnya harga komoditas minyak dunia yang ikut mengerek nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Akhir pekan lalu, IHSG ditutup menguat 1,60% ke posisi 4.733,14. Investor asing mencetak beli bersih senilai Rp152,9 miliar sehingga net buy sepanjang tahun berjalan menjadi Rp1,52 triliun. Seluruh bursa Asia berakhir di teritori positif dengan penguatan tertinggi dialami indeks Hang Seng Hong Kong 2,52% ke posisi 19.364,15 lalu FTSE ST Singapura menguat 1,77% ke 2.649,38 dan SSE Composite Tiongkok positif 0,95% ke level 2.767,21. Di bursa AS, Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,34% ke level 16.639,97, Indeks S&P 500 ditutup anjlok 0,19% ke level 1.948,05. IHSG diprediksikan menguat ke kisaran 4.695-4.750 pekan ini, dipengaruhi oleh penguatan rupiah yang bergerak di rentang Rp13.350-13.400 per dolar AS. Akhir pekan lalu, harga minyak patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), untuk pengiriman April turun 29 sen menjadi US$32,78 per barel di New York Mercantile Exchange (Nymex) sementara minyak mentah Brent North Sea di London untuk pengiriman April menetap di US$35,10 per barel, turun 19 sen dari penutupan Kamis. Harga minyak global diperkirakan akan menguji level US$35 per barel awal Maret ini. Jika posisi ini berhasil ditembus, maka posisi selanjutnya adalah US$38 per barel. Kondisi ini memicu saham pertambangan yang sebelumnya terkoreksi mengalami penguatan. Sentimen global juga tertuju pada hasil pertemuan anggota G20 terkait kebijakan fiskal. (Suara Pembaruan, 29/2, Hal. 9)
OJK Siapkan Aturan untuk Mediasi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyiapkan peraturan baru untuk menengahi polemik pelaksanaan skema koordinasi manfaat atau coordination of benefit (CoB) antara BPJS Kesehatan dan asuransi swasta. OJK akan memediasi perbedaan pendapatan dalam penerapan konsep tersebut yang hasilnya dapat diketahui pada Maret 2015. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Yasril Y. Rasyid mengatakan pihaknya bersama AAJI baru-baru ini bertemu dengan OJK untuk melaporkan mentoknya pelaksanaan CoB. Saat ini, asosiasi masih menunggu panduan atau arahan dari OJK terkait pelaksanaan mediasi. Sejak 2013, AAUI bersama AAJI telah mengajukan usulan CoB kepada BPJS Kesehatan tetapi belum ada respon dari BPJS Kesehatan atas usulan tersebut. Kesepahaman dalam pelaksanaan CoB tidak mudah tercapai karena BPJS Kesehatan menerapkan skema rujukan berjenjang (managed care) sedangkan asuransi swasta menggunakan skema indemnity. Salah satu substansi yang akan diatur adalah peluang bagi nasabah asuransi swasta yang tidak ingin menerapkan skema managed care untuk berobat langsung ke rumah sakit tetapi dengan catatan pengobatan yang dimaksudkan adalah untuk pengobatan non- spesialis dan seluruh klaim juga harus ditanggung asuransi swasta. (Bisnis Indonesia, 1/3, Hal. 21)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13.375 |
|
IHSG |
4.770,96 |
|
BI Rate (per 18 Febuari 2016) |
7,00% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
