AAJI Daily News - 24 Maret 2016
HEADLINE NEWS:
- Tren Penurunan Hasil Investasi Asuransi Jiwa Masih Berlanjut
- AAJI Bahas Kemungkinan Agen Jual Reksadana
- AAJI Targetkan Rekrut 750 Ribu Agen
- AAJI Bahas Kemungkinan Agen Jual Reksadana
- AAJI Bahas Kemungkinan Agen Jual Reksadana
- Tahun Lalu, Premi Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 5,8%
- Total Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 5,8%
- Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Naik Tipis 5,8%
- 2015, Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 5,8%
- [Foto] Kinerja Asuransi
- Pendapatan Asuransi Jiwa di Kuartal IV 2015 Turun 20,9 Persen
- Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Jeblok, Minus Rp1,66 Triliun
- Kinerja Asuransi Jiwa: Hasil Investasi Jeblok
- Investasi Industri Asuransi Jiwa Merosot
- Hasil Investasi Triwulan IV-2015 Turun 100 Persen
- Return Investasi Asuransi Jiwa Bisa Membaik
- Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 20,9 Persen
- Pendapatan Asuransi Jiwa Anjlok 20%
- AAJI Targetkan Pertumbuhan Premi 15%
- Asuransi Jiwa Bukukan Premi Rp128 Triliun
- Melambat, Industri Asuransi Jiwa Bayar Klaim Capai Rp 72,57 Triliun
- AAJI: Asuransi Unit Link Makin Diminati Masyarakat
- Asuransi Siapkan Layanan Digital
- Manulife Indonesia dan Bank Muamalat Luncurkan Zafirah Proteksi Sejahtera
- Allianz Berbagi Pengetahuan Literasi Keuangan kepada Generasi Muda
- [Foto] Kinerja Taspen Meningkat
- [Foto] Kinerja Taspen Life Meningkat
- [Foto] Kinerja TaspenLife
- Pendapatan Taspen Life Tumbuh92%
- [Foto] PegangKertas
- Imbal Hasil Investasi Ditargetkan8,8%
- Premi Taspen Tumbuh43%
- Asuransi: Garap Captive Market
- CIMB Group Divestasi 51% Saham di CIMB SunLife
- Sun Life Rogoh Rp550Miliar
- Perluas Bisnis, Sun Life Akuisisi 51% Saham CSL
- Manulife Incar 13.500Investor
- Pemerintah Kaji Inbreng Empat BUMN ke Bank BUMN
- Kenaikan Premi BPJS Kesehatan Diusulkan Setelah Audit
MENGENAI AAJI
Tren Penurunan Hasil Investasi Asuransi Jiwa Masih Berlanjut
Industri Asuransi Jiwa membukukan hasil investasi di level minus sebesar Rp1,66 triliun pada akhir 2015, atau menurun 104,1% dari realisasi pada 2014 yang mencapai Rp40,83 triliun. Dibandingkan realisasi pada kuartal III-2015, besaran penurunan hasil investasi industri ini secara quarter to quarter mulai membaik. Sebab, pada September 2015 laju hasil investasi industri asuransi jiwa berada di level minus sebesar 152,75% secara year on year. Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim, mengatakan, sepanjang tahun lalu alokasi portofolio industri di investasi saham menurun sebesar 11% (yoy). Pasalnya, sampai akhir tahun 2015 tren pergeseran portolio di industri masih berlanjut demi meraih hasil investasi (yield) yang memuaskan. Aksi tersebut tidak terlepas karena perusahaan asuransi menilai kondisi pasar modal masih kurang stabil sejak kuartal II-2015. Adapun, kenaikan 5,8% (yoy) di total pendapatan premi industri asuransi jiwa ditopang dari premi lanjutan yang naik 12,9% (yoy) dan premi bisnis baru sebesar 0,6%. Hingga akhir tahun lalu, premi bisnis baru asuransi jiwa berada di posisi Rp70,42 triliun. Mengenai new business premium, Ketua Bidang Keuangan, Keanggotaan, dan Kepatuhan AAJI Edy Tuhirman, menyatakan pertumbuhan sebesar 20% (yoy) masih cukup masuk akal diraih pada akhir 2016. Sementara itu, Edy memaparkan sampai saat ini komposisi portofolio asuransi jiwa antara lain terdiri dari reksadana 29,1%, saham 26,1%, deposito 17,8%, dan surat berharga negara (SBN) sebesar 14,5%. (Beritasatu.com, 23/3) http://www.beritasatu.com/ekonomi/356424-tren-penurunan-hasil-investasi-asuransi-jiwa- masih-berlanjut.html
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua UmumAAJI
- Edy Tuhirman, Ketua Bidang Keuangan, Keanggotaan, dan KepatuhanAAJI
AAJI Bahas Kemungkinan Agen Jual Reksadana
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyatakan masih membahas kemungkinan agen asuransi menjual reksadana, seperti yang diwacanakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim, Rabu mengatakan pada dasarnya AAJI menganggap rencana itu baik, tetapi hal tersebut perlu kajian lebih mendalam. Pasalnya, lanjut dia, bisa saja agen menjadi tidak fokus karena menjual dua produk keuangan yang berbeda. Dalam jangka panjang, ini dapat berujung pada "nyaman atau tidak nyamannya" agen pada produk yang dijualnya. Meskipun demikian, AAJI menyatakan siap mematuhi jika rencana itu diterapkan oleh pemerintah. Asosiasi yang menaungi 54 perusahaan asuransi jiwa tersebut bahkan sudah mempertimbangkan apakah juga menyediakan sertifikasi untuk agen reksadana. Terkait jumlah agen asuransi jiwa pada tahun 2016, AAJI menargetkan akan ada agen, meningkat dari 512.657 agen asuransi pada tahun 2015. Untuk menyukseskan target tersebut, sejak kuartal IV 2015 AAJI sudah gencar mengampanyekan bahwa setiap orang bisa menjadi agen asuransi dengan tema "semua pasti bisa". (Antaranews.com, 23/3) http://www.antaranews.com/berita/551537/aaji-bahas-kemungkinan-agen-jual-reksadana
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua UmumAAJI
- Togar Pasaribu, Direktur EksekutifAAJI
Berita serupa:
- Infobanknews.com, 23/3, AAJI Targetkan Rekrut 750 Ribu Agenhttp://infobanknews.com/aaji-targetkan-rekrut-750-ribu-agen/
- , 23/3, AAJI Bahas Kemungkinan Agen Jual Reksa Dana http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/keuangan/16/03/23/o4hqg6383-aaji-bahas- kemungkinan-agen-jual-reksa-dana
- , 23/3, AAJI Bahas Kemungkinan Agen Jual Reksadana http://keuangan.kontan.co.id/news/aaji-bahas-kemungkinan-agen-jual-reksadana
Tahun Lalu, Premi Industri Asuransi Jiwa Tumbuh 5,8%
Industri asuransi jiwa mencatat pertumbuhan premi sebesar 5,8% atau menjadi Rp128,6 triliun sepanjang tahun 2015. Berdasarkan data yang dirilis Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) tercatat total pendapatan premi industri asuransi jiwa pada tahun lalu mengalami pertumbuhan sebesar 5,8% yaitu dari Rp121,62 triliun menjadi Rp128,66 triliun. Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim menyatakan pertumbuhan tersebut didorong dari kenaikan pendapatan premi lanjutan yang cukup signifikan yaitu sebesar 12,9%. Secara terperinci premi bisnis baru sepanjang 2015 tercatat tumbuh 0,6% atau mencapai Rp70,42 triliun, sedangkan premi lanjutan tumbuh 12,9% menjadi Rp58,24 triliun. Sementara itu, total pendapatan industri asuransi jiwa justru tercatat mengalami penurunan 20,9% yaitu dari Rp167,76 triliun menjadi Rp132,74 triliun. Hendrisman mengungkapkan penurunan pendapatan tersebut dipengaruhi oleh pendapatan hasil investasi yang anjlok hingga 104,1%. Berdasarkan catatan kinerja industri asuransi jiwa sepanjang tahun 2015 yang dirilis AAJI, menunjukkan bahwa nilai investasi dari 51 perusahaan asuransi jiwa ialah –Rp1,66 triliun atau turun 104,1% dibandingkan hasil investasi pada 2014 lalu yaitu Rp40,83 triliun. Akan tetapi, penurunan tersebut tidak sedalam angka pada kuartal III/2015 yang penurunannya mencapai 152,7%. (Bisnis.com, 23/3) http://finansial.bisnis.com/read/20160323/215/531023/tahun-lalu-premi-industri-asuransi-jiwa- tumbuh-58
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum AAJI
Berita serupa:
- Infobanknews.com, 23/3, Total Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 5,8% http://infobanknews.com/total-pendapatan-premi-asuransi-jiwa-tumbuh-58/
- Metrotvnews.com, 23/3, Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Naik Tipis 5,8% http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2016/03/23/502829/pendapatan-presmi-asuransi- jiwa-naik-tipis-5-8
- Investor Daily, 24/3, Hal. 23, 2015, Premi Asuransi Jiwa Tumbuh 5,8%
- Republika, 24/3, Hal. 15, [Foto] Kinerja Asuransi
Pendapatan Asuransi Jiwa di Kuartal IV 2015 Turun 20,9 Persen
Total pendapatan asuransi jiwa pada kuartal IV tahun 2015 turun 20,9% dibandingkan kuartal IV tahun 2014, dari Rp167,76 triliun menjadi Rp132,74 triliun. Pernyataan ini dikemukakan oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Ketua Umum AAJI Hendrisman Rahim mengatakan penurunan itu utamanya disebabkan hasil investasi asuransi jiwa yang defisit hingga Rp1,66 triliun atau menurun 104,1% dari 2014 yang berada di nilai Rp40,83 triliun. Adapun angka yang belum diaudit ini didapatkan dari 51 perusahaan dari 54 perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI. Dia melanjutkan, walau menurun dibandingkan kuartal IV 2014, total pendapatan asuransi jiwa di kuartal sama 2015 jauh lebih baik dibandingkan dengan kuartal ketiga 2015. Pada kuartal ketiga 2015, pendapatan asuransi jiwa tercatat Rp89,1 triliun sementara pada kuartal keempat bertumbuh Rp132,74 triliun atau meningkat 49%. Peningkatan ini ditopang oleh pendapatan premi, yang meningkat 5,8% dari kuartal IV 2014, dari Rp121,62 triliun menjadi Rp128,66 triliun. Angka ini didapatkan dari total premi bisnis baru di tiga bulan terakhir 2015 tercatat meningkat 0,6% di rentang yang sama tahun 2014, dari Rp70,04 triliun menjadi Rp70,42 triliun. Sementara itu total premi lanjutan meningkat 12,9% dari Rp51,9 triliun menjadi Rp58,24 triliun. Total investasi industri asuransi jiwa pun menurun 1,3% dari Rp318,87 triliun di kuartal IV 2014, menjadi Rp314,58 triliun pada 2015. (Suara.com, 23/3) http://www.suara.com/bisnis/2016/03/23/163948/pendapatan-asuransi-jiwa-di-kuartal-iv-2015- turun-209-persen
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum,AAJI
- Edy Tuhirman, Ketua Bidang Keuangan, Keanggotaan, dan KepatuhanAAJI
Berita serupa:
- Money.id, 23/3, Pendapatan Industri Asuransi Jiwa Jeblok, Minus Rp1,66 Triliun http://www.money.id/finance/hasil-investasi-asuransi-pada-kuartal-4-2015-minus-rp166- triliun-160323l.html
- Bisnis Indonesia, 24/3, Hal. 21, Kinerja Asuransi Jiwa: Hasil Investasi Jeblok
- Kompas, 24/3, Hal. 20, Investasi Industri Asuransi Jiwa Merosot
- Koran Jakarta, 24/3, Hal. 5, Hasil Investasi Triwulan IV-2015 Turun 100 Persen
- Kontan, 24/3, Hal. 24, Return Investasi Asuransi Jiwa Bisa Membaik
- Suara Karya, 24/3, Hal. 9, Pendapatan Asuransi Jiwa Turun 20,9 Persen
- HE Neraca, 24/3, Hal. 5, Pendapatan Asuransi Jiwa Anjlok 20%
AAJI Targetkan Pertumbuhan Premi 15%
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menargetkan pertumbuhan premi industri asuransi jiwa 15% dibandingkan tahun lalu. Tahun lalu industri asuransi jiwa mencatat pendapatan premi Rp128,66 triliun terdiri dari premi bisnis baru Rp70,42 triliun dan premi lanjutan Rp58,24 triliun. Faktor pendorongnya menurut Hendrisman adalah rezim suku bunga rendah yang sedang dirintis pemerintah dan regulator. Jika suku bunga simpanan rendah, yield produk unitlink sebagai produk proteksi dan investasi diyakini akan menarik. Selain soal daya tarik produk unitlink, menurutnya asuransi mikro juga akan berperan dalam pertumbuhan industri asuransi. (Infobanknews.com, 23/3) http://infobanknews.com/aaji-targetkan-pertumbuhan-premi-15/
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum, AAJI
Berita serupa:
- Rakyat Merdeka, 24/3, Hal. 18, Asuransi Jiwa Bukukan Premi Rp128 Triliun
Melambat, Industri Asuransi Jiwa Bayar Klaim Capai Rp72,57 Triliun
Industri asuransi jiwa telah membayarkan klaim dan manfaat sebesar Rp72,57 triliun sepanjang 2015. Angka itu melambat sebesar 2,8% bila dibanding Rp74,65 triliun di kuartal IV- 2014. Proporsi terbesar pembayaran klaim dan manfaat merupakan klaim nilai tebus (surrender) yang mencapai 48,4%. Klaim nilai tebus meningkat sebesar 4%, jika dibandingkan tahun sebelumnya mencapai Rp35,12 triliun. Perlambatan ekonomi juga mempengaruhi keputusan nasabah dalam mengajukan klaim penebusan, agar tersedia dana tunai untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan hidup. Proporsi kedua terbesar pembayaran klaim adalah klaim penarikan sebagian (partial withdrawal) yang berkontribusi sebesar 17,4% terhadap total klaim dan manfaat yang dibayarkan pada kuartal IV-2015. Sementara itu, Ketua Bidang Keuangan, Keanggotaan, dan Kepatuhan AAJI, Edy Tuhirman menambahkan jumlah tertanggung industri asuransi jiwa tercatat tumbuh 2,3% menjadi 54,96 juta orang dari 53,73 juta orang pada periode yang sama tahun sebelumnya. (Metrotvnews.com, 23/3) http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2016/03/23/502956/melambat-industri-asuransi-jiwa- bayar-klaim-capai-rp72-
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua Umum,AAJI
- Edy Tuhirman, Ketua Bidang Keuangan, Keanggotaan, dan KepatuhanAAJI
AAJI: Asuransi Unit Link Makin Diminati Masyarakat
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyatakan asuransi unit link, yang menggabungkan fungsi perlindungan dan investasi, semakin diminati oleh masyarakat. Hal ini terlihat dari hasil kinerja perusahaan asuransi pada kuartal IV 2015, di mana kontribusi pendapatan premi terbesar datang dari unit link dengan 56,2%, lebih tinggi dibandingkan asuransi konvensional yaitu 43,8%. Adapun total pendapatan premi perusahaan-perusahaan asuransi jiwa di bawah naungan AAJI pada kuartal IV 2015 meningkat 5,8% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2014. Nilainya meningkat dari Rp121,62 triliun menjadi Rp128,66 triliun. Sementara itu total premi lanjutan meningkat 12,9% dari Rp 51,9 triliun menjadi Rp 58,24 triliun. Dalam periode tersebut, asuransi unit link bertumbuh sebesar 6,7% menjadi Rp72,34 triliun. Asuransi konvensional mengalami pertumbuhan yang lebih sedikit, yaitu 4,7% menjadi Rp56,32 triliun. Terkait pembayaran klaim asuransi, pembayaran pada kuartal IV tahun 2015 mengalami degradasi dibandingkan tiga bulan terakhir 2014. (Kontan.co.id, 23/3) http://keuangan.kontan.co.id/news/aaji-asuransi-unit-link-makin-diminati-masyarakat
Narasumber:
- Hendrisman Rahim, Ketua UmumAAJI
- Edy Tuhirman, Ketua Bidang Keuangan, Keanggotaan, dan KepatuhanAAJI
Asuransi Siapkan Layanan Digital
Perusahaan asuransi jiwa bersiap melakukan digitalisasi bisnis mulai dari yang sederhana yaitu pembelian produk asuransi jiwa. Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI, mengatakan anggota AAJI telah memulai digitalisasi bisnis untuk penawaran produk asuransi hingga isi polis asuransi. Cara rekruitmen agen secara online, penjualan produk lewat website hingga pengiriman polis secara digital mulai digarap perusahaan asuransi. Selain lebih cepat, layanan digital dapat memangkas ongkos operasional perusahaan seperti biaya kurir, transportasi hingga biaya cetak polis hingga 50%. AAJI mendesak OJK untuk segera memberikan kepastian penggunaan e-polis sehingga masyarakat dapat mencetak sendiri polisnya. Soal legalitas ini pula yang menjadi kendala PT Asuransi Jiwasraya untuk mengembangkan e-polis selain pertimbangan masyarakat belum menjadikan asuransi sebagai kebutuhan. (Kontan, 24/3, Hal. 24)
Narasumber:
- Togar Pasaribu, Direktur EksekutifAAJI
- Hendrisman Rahim, Direktur Utama AsuransiJiwasraya
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Manulife Indonesia dan Bank Muamalat Luncurkan Zafirah Proteksi Sejahtera
Manulife Indonesia dan Bank Muamalat meluncurkan Zafirah Proteksi Sejahtera. Produk asuransi berbasis syariah ini dirancang untuk memberikan perlindungan kepada nasabah terhadap risiko hilangnya pendapatan serta dampak finansial yang muncul akibat kejadian tak terduga seperti cacat total dan meninggal dunia. Zafirah Proteksi Sejahtera ditawarkan melalui jalur perbankan korporasi, perbankan ritel, usaha kecil menengah (UKM) dan unit keuangan mikro Bank Muamalat. Zafirah Proteksi Sejahtera menawarkan manfaat perlindungan senilai mulai dari Rp25.000.000 hingga Rp1.000.000.000 atau 500 kali kontribusi bulanan. Jumlah kontribusi yang harus dibayarkan juga fleksibel dan terjangkau mulai dari Rp50.000 per bulan. (Sindoweekly, 21/3, Hal. 96)
Allianz Berbagi Pengetahuan Literasi Keuangan kepada Generasi Muda
Bertepatan dengan Global Money Week pada 14-20 Maret 2016, Allianz Indonesia mengajak 100 remaja prasejahtera dari Kelas Belajar Oky untuk berbagi pengetahuan dengan cara menyenangkan lewat kegiatan edukasi dan literasi keuangan. Allianz Indonesia bekerja sama dengan Youth Finance Indonesia, lembaga nonprofit yang memberikan literasi keuangan untuk generasi muda yang berbagi kisah inspiratif dan permainan interaktif kepada para peserta acara. Selain mendapatkan pendidikan informal tentang pelajaran dan keterampilan di Kelas Belajar Oky, para remaja usia 12-17 tahun peserta pelatihan ini di antaranya bersekolah formal, berkegiatan sebagai pemulung, pengamen, pencuci mobil taksi, dan pengupas kerang hijau. Tahun lalu, Allianz Indonesia telah memberikan pelatihan keuangan dasar mengenai cara pintar mengelola keuangan bagi para remaja. Tahun ini materi pelatihan lanjutan yang akan diberikan adalah cara menabung yang pintar. (Investor Daily, 23/3, Hal. 23)
[Foto] Kinerja Taspen Meningkat
Direktur Utama PT Asuransi Jiwa Taspen, Maryoso Sumaryono, bersama Direktur Keuangan Pask Suartha dan Direktur Teknologi dan Operasional Nelson di sela Paparan Kinerja 2015 di Jakarta, Rabu (23/3). Sepanjang 2015, Taspen Life mencatat pendapatan sebesar Rp290,2 miliar atau tumbuh 92% dibandingkan tahun sebelumnya dan telah masuk peringkat kelas menengah di industri asuransi jiwa berdasarkan nilai aset sebesar Rp2,7 triliun atau meningkat 528% dari tahun sebelumnya. (Investor Daily, 24/3, Hal. 23)
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 24/3, Hal. 22, [Foto] Kinerja Taspen Life Meningkat
- Kontan, 24/3, Hal. 24, [Foto] Kinerja Taspen Life
- Investor Daily, 24/3, Hal. 23, Pendapatan Taspen Life Tumbuh 92%
- Rakyat Merdeka, 24/3, Hal. 18, [Foto] Pegang Kertas
Imbal Hasil Investasi Ditargetkan 8,8%
PT Asuransi Jiwa Taspen mengincar imbal hasil investasi rata-rata 8,8% sepanjang 2016. Investasi Taspen Life sebagian besar ditempatkan pada instrumen deposito. Saat ini, aset kelolaan Taspen Life mencapai Rp2,7 triliun dan Rp2,6 triliun ditempatkan pada deposito sedangkan sisanya obligasi. Setidaknya ada lima instrumen investasi yang akan digenggam dalam rebalancing asset ini antara lain peningkatan obligasi hingga 30% sesuai ketetapan OJK, reksadana, dan saham, sisanya akan ditempatkan pada deposito sehingga porsi deposito akan menyusut menjadi 25-30%. Target imbal hasil investasi 2016 lebih rendah daripada realisasi 2015 yang tercatat lebih dari 9% karena perseroan lebih mengutamakan keamanan penempatan investasi terutama pada lembaga yang memiliki rating tinggi. Taspen Life juga mengincar premi tumbuh 43% tahun ini dan akan menggarap pasar ritel sepanjang 2016. (Bisnis Indonesia, 24/3, Hal. 23)
Berita serupa:
- Kontan, 24/3, Hal. 24, Premi Taspen Tumbuh 43%
- Indopos, 24/3, Hal. 5, Asuransi: Garap Captive Market
CIMB Group Divestasi 51% Saham di CIMB Sun Life
CIMB Group Holdings Berhad menandatangani perjanjian jual beli bersyarat untuk pelepasan 51% saham yang dimiliki di PT CIMB Sun Life dengan nilai transaksi Rp550 miliar. CIMB Group memiliki 51% saham CIMB Sun Life melalui CIG Berhad sebesar 47,24% dan PT Bank CIMB Niaga Tbk (3,76%). Divestasi akan dilakukan melalui penjualan saham yang dimiliki CIMB Group untuk selanjutnya dibeli secara langsung maupun tidak langsung oleh Sun life Assurance Company. Kemitraan antara CIMB Group dan Sun Life telah terjalin sejak 2009 dan 2013. Divestasi ini merupakan langkah lain dalam rangka konsolidasi usaha dan optimalisasi sumber daya sejalan dengan strategi rekalibrasi untuk mencapai aspirasi T18. Aliansi Bank CIMB Niaga di bidang bancassurance dengan Sun Life bersifat sinergis karena perseroan dapat terus menawarkan produk berkualitas kepada nasabah sekaligus meningkatkan kemampuan Sun Life dalam mendistribusikan produk tersebut dengan memanfaatkan jaringan CIMB Niaga di Indonesia. Sun Life telah mengantisipasi dan memposisikan diri dalam menghadapi kebijakan kepemilikan tunggal di bawah Sun Life Indonesia (SLF). (Investor Daily, 24/3, Hal. 23)
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 24/3, Hal. 21, Sun Life Rogoh Rp550 Miliar
- Media Indonesia, 24/3, Hal. 17, Perluas Bisnis, Sun Life Akuisisi 51% Saham CSL
Manulife Incar 13.500 Investor
PT Manulife Asset Management Indonesia menargetkan jumlah investor reksadana bisa bertambah 13.500 orang tahun ini. Hingga saat ini, jumlah investor di Indonesia kurang dari 400.000 orang dan secara umum investor modal masih mendominasi. Dari hasil survei 2011, diketahui utilisasi pasar modal hanya 0,11% sedangkan perbankan hampir 60%. Manulife tahun lalu memperoleh 13.500 nasabah baru reksadana sehingga total investor saat ini mencapai 66.000 orang yang terkonsentrasi di Jakarta, Surabaya, Semarang, Bandung, dan Medan. Dana kelolaan per Desember 2015 telah mencapai Rp44,6 triliun dengan kontribusi dari Jawa Tengah Rp31 miliar. Manulife tahun lalu memperoleh investor baru sebanyak 4.500 orang dari mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dalam acara sosialisasi yang diikuti 5.300 mahasiswa. (Bisnis Indonesia, 24/3, Hal. 22)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Pemerintah Kaji Inbreng Empat BUMN ke Bank BUMN
Pemerintah mengkaji inbreng (penyertaan modal nontunai) sejumlah BUMN ke bank BUMN. BUMN yang sudah dipastikan adalah PT Bahana Pembangunan Usaha Indonesia (BPUI) dan PT Asuransi Jiwasraya. Pada tahap awal pembentukan holding BUMN perbankan, Kementerian BUMN akan menginbrengkan saham pemerintah di BPUI dan Jiwasraya ke bank BUMN. Inbreng BUMN atau anak usaha BUMN tersebut ke bank BUMN diharapkan akan meningkatkan nilai bisnis dari BUMN tersebut. Adapun target pembentukan holding bank BUMN rampung tahun 2018. Selain empat bank BUMN, pegadaian, dan PNM, holding bank BUMN akan membawahi perusahaan switching yang akan mengelola seluruh sistem informasi dan teknologi bank-bank BUMN, serta perusahaan pengelola aset yang nantinya akan mengelola aset bermasalah bank-bank BUMN. Selain meningkatkan permodalan, dengan inbreng tersebut maka secara langsung porsi saham pemerintah atau holding bank BUMN yang nantinya menjadi pemegang saham akan meningkat dari rata-rata porsi saham pemerintah yang saat ini di kisaran 60%. Hingga saat ini BNI memiliki sejumlah anak usaha dengan kepemilikan mayoritas yakni PT Bank BNI Syariah, PT BNI Multifinance, PT BNI Securitas, PT BNI Life Insurance, dan PT BNI Remittance. Jika pemerintah menginbrengkan sahamnya di Jiwasraya ke BRI, maka BRI dapat menggabungkan Bringin Life dan Jiwasraya. BRI saat ini tercatat memiliki anak usaha dengan kepemilikan mayoritas di PT Bank BRI Syariah, PT BRI Agroniaga Tbk, PT BRI Remittance dan PT Asuransi Bringin Sejahtera. (Investor Daily, 23/3, Hal. 23)
Kenaikan Premi BPJS Kesehatan Diusulkan Setelah Audit
BPJS Kesehatan akan terlebih dahulu diaudit oleh kantor akuntan publik sebelum diizinkan mengajukan kenaikan premi kepada Presiden Joko Widodo. Saat ini, BPJS Kesehatan sedang diaudit oleh OJK dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan untuk audit keuangan oleh akuntan publik akan didapatkan hasilnya pekan depan. Komisi Kesehatan DPR meminta kenaikan iuran ditunda hingga evaluasi pelayanan BPJS yang dilakukan oleh Panitia Kerja rampung. Saat ini, jumlah penerima bantuan iuran mencapai 92 juta penduduk dan BPJS berniat menggenjot pendapatan dari peserta mandiri yang jumlahnya kurang dari 10% peserta BPJS. Wakil Presiden Jusuf Kalla pekan lalu mengatakan kenaikan iuran BPJS Kesehatan dilakukan dengan alasan keseimbangan keuangan. Staf ahli Wakil Presiden, Sofjan Wanandi, menegaskan pemerintah tak sanggup lagi mensubsidi iuran BPJS Kesehatan. Kondisi ini membuat besaran iuran akan dinaikkan mulai 1 April. (Koran Tempo, 24/3, Hal. 14)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13. 183 |
|
IHSG |
4. 854,18 |
|
BI Rate (per 17 Maret 2016) |
6,75% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
