AAJI Daily News - 21 Maret 2016
HEADLINE NEWS:
- Premi Industri Asuransi Jiwa Turun 0,22% Per Januari 2016
- Kinerja Asuransi Jiwa: Premi dan Laba Awal TahunTurun
- Incar Rp 740 Miliar, Reliance Sasar Komunitas
- [Foto] Perwakilan Indonesia
- Baru Dua Bulan, Jiwasraya Raih Premi Rp 1 Triliun
- Penurunan BI Rate Dinilai Menaikkan Risiko RI
- Penurunan BI Rate Dinilai sebagai Kebijakan Anomali
- Percepat Penurunan Bunga Kredit
- Kenaikan Iuran BPJS Bisa Dievaluasi
- [Foto] Penundaan Kenaikan Iuran BPJS
- BI: Kuartal II, Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,2 – 5,3 %
- Akhir Pekan Rupiah Melemah Menjadi Rp13.080
- BI Rate Turun, Risiko Investasi Membaik
MENGENAI AAJI
Premi Industri Asuransi Jiwa Turun 0,22% Per Januari 2016
Industri asuransi jiwa mencatatkan penurunan pendapatan premi dan laba bersih pada Januari 2016. Statistik asuransi konvensional yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan mencatat pendapatan premi industri asuransi jiwa pada bulan pertama tahun ini senilai Rp8,89 triliun, turun 0,22% dibandingkan pendapatan premi Januari 2015 (year-on-year) yang tercatat sebesar Rp8,91 triliun. Laba setelah pajak industri asuransi jiwa bahkan anjlok hingga 39,77% dari Rp469 miliar pada Januari 2015 menjadi Rp282 miliar. Data OJK menunjukkan nilai klaim dan manfaat dibayar meningkat 2,47% menjadi Rp6,09 triliun. Jumlah investasi dan aset industri asuransi juga masih bertumbuh masing-masing sebesar 0,69% dan 1,76% (y-o-y) menjadi Rp285,29 triliun dan Rp336,04 triliun. Sementara itu, hasil investasi industri tercatat senilai Rp2,90 triliun atau meningkat 4,51%. Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa (AAJI) Togar Pasaribu mengungkapkan kinerja bulan pertama setiap tahun belum bisa dijadikan tolak ukur bagi kinerja industri. AAJI tetap optimistis sepanjang tahun mampu membukukan pertumbuhan premi di kisaran 20%-30%. (Bisnis.com, 19/3) http://finansial.bisnis.com/read/20160319/215/529683/premi-industri-asuransi-jiwa-turun- 022-per-januari-2016
Narasumber:
- Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 21/3, Hal. 22, Kinerja Asuransi Jiwa: Premi dan Laba Awal Tahun Turun
INDUSTRI ASURANSI JIWA
Incar Rp740 Miliar, Reliance Sasar Komunitas
PT Asuransi Jiwa Reliance Indonesia menargetkan dapat mencapai pertumbuhan pendapatan premi hingga 270% year-on-year menjadi Rp740 miliar tahun ini. Tahun lalu, total pendapatan premi mencapai sekitar Rp200 miliar, meningkat dari capaian pada 2014 yaitu Rp120 miliar. Untuk mencapai target ini, perusahaan akan menerapkan sejumlah strategi pemasaran, salah satunya mengembangkan pangsa pasar. Selama ini, pemasaran masih difokuskan kepada segmen korporat melalui produk asuransi jiwa kumpulan. Tahun ini, pemasaran produk akan dikembangkan kepada segmen komunitas seperti komunitas petani kelapa sawit di Riau, komunitas motor, dan lain-lain. Perseroan berharap 30% pendapatan premi tahun ini bisa diperoleh dari segmen komunitas. Perkembangan bisnis Reliance Life yang baru berdiri pada 2012 cukup pesat meskipun pangsa pasar masih cukup rendah dibandingkan dengan perusahaan jiwa lainnya yang sudah lebih dulu beroperasi, yaitu hanya sekitar 0,5% dengan jumlah nasabah 1,5 juta. Dalam rangka pengembangan bisnis, Reliance Life berupaya meningkatkan kepuasan nasabah dengan memberikan produk akurat dan tepat waktu. (Bisnis Indonesia, 21/3, Hal. 22)
[Foto] Perwakilan Indonesia
Pesepakbola Indonesia, Bambang Pamungkas, bersama Real Garuda, tim perwakilan dari Indonesia, setelah menjadi juara dalam kompetisi regional AIA Championship di Hong Kong, pekan lalu. Tim Real Garuda akan bertanding melawan Selandia Baru dalam babak final yang akan diselenggarakan di White Hart Lane, London. (Koran Jakarta, 19/3, Hal. 8)
Baru Dua Bulan, Jiwasraya Raih Premi Rp1 Triliun
Perlambatan ekonomi tidak meredupkan ambisi PT Asuransi Jiwasraya untuk mengejar target premi. Dalam dua bulan pertama tahun ini, kinerja perusahaan terbilang positif dengan mendulang premi sebanyak Rp1 triliun. Perolehan premi Januari-Februari 2016 ini merupakan awal baik untuk memburu target premi tahun ini sebesar Rp13 triliun dan telah menyumbang 7,7% dari target. Pada 2015, pendapatan premi Jiwasraya melonjak 50,7% ketimbang tahun 2014. Perusahaan belum memilih opsi penambahan cabang lantaran biaya yang cukup tinggi. Saat ini, Jiwasraya memiliki 14 kantor wilayah, 73 cabang, dan 435 kantor area. Selain cabang, Asuransi Jiwasraya juga memperbanyak jumlah agen untuk menaikkan penjualan dan kini memiliki 17.000 agen. Strategi lain adalah merambah digital agency agar lebih maksimal berjualan produk lewat sistem online. Digital agency ini juga merupakan salah satu upaya menggencarkan program 10 juta agen yang diinisiasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Calon agen digital tinggal mendaftarkan diri lewat situs Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan agen yang telah berlisensi akan terdaftar di situs AAJI. Kementerian BUMN tengah mencari mitra strategis bank BUMN sebagai pemegang saham Jiwasraya agar kinerjanya lebih maksimal. Kabarnya, tiga bank BUMN yakni BRI, Bank Mandiri, dan BNI berminat memiliki Jiwasraya. (Kontan, 21/3, Hal. 24)
EKONOMI MAKRO & REGULASI
Penurunan BI Rate Dinilai Menaikkan Risiko RI
Sejumlah lembaga internasional menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebagai perkembangan yang negatif bagi perekonomian Indonesia. Pasalnya, pemangkasan bunga acuan secara agresif menjadi 6,75% bakal meningkatkan risiko seperti inflasi dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat pelarian modal asing atau capital outflow. BI pada Kamis (17/3) memutuskan posisi BI Rate di level 6,75%, turun 25 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7% per tahun. Penurunan ini merupakan yang ketiga kali berturut-turut sejak Januari 2016. BI Rate saat ini dipaksakan melawan kondisi keuangan negara dan risiko keuangan rupiah. Bila dipaksakan maka dalam enam bulan ke depan rupiah bisa melemah drastis, sumber dana akan terkuras lagi, dan cadangan devisa 6 bulan ke depan akan terkuras. BI Rate bukan satu-satunya penyebab capital outflow. Banyak negara ASEAN yang menerapkan bunga acuan lebih rendah dari Indonesia tetapi tidak mengalami capital outflow. Fundamental ekonomi nasional yang lemah menjadikan sensitivitas terhadap BI Rate relatif lebih tinggi. Penurunan bunga yang agresif dan upaya lain yang memperkuat pasokan uang, risiko inflasi laten terbentuk dan hal ini akan menekan stabilitas makro jika kenaikan produktivitas tidak mampu mengimbanginya. (Koran Tempo, 19/3, Hal. 12)
Berita serupa:
- Koran Jakarta, 21/3, Hal. 1, Penurunan BI Rate Dinilai sebagai Kebijakan Anomali
Percepat Penurunan Bunga Kredit
Penurunan BI Rate ke level 6,75% akan mempercepat penurunan suku bunga perbankan tetapi tidak akan dapat terjadi seketika. Menurut Deputi Komisioner Pengawas Perbankan I Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mulya E. Siregar, bank sebaiknya tidak perlu khawatir terhadap penurunan return on asset (ROA) karena turunnya suku bunga kredit akan meningkatkan permintaan kredit. Paket-paket kebijakan ekonomi pemerintah mulai menunjukkan hasil positif dan rupiah diperkirakan terus menguat sampai paruh waktu pertama 2016. BI pun diperkirakan akan menurunkan lagi BI Rate sebesar 50 bps hingga akhir tahun. Penurunan giro wajib minimum (GWM) yang dilakukan BI sebelumnya dan berlaku sejak 16 Maret 2016 akan menambah likuiditas bagi perbankan, termasuk BRI yang memperoleh tambahan Rp4,4 triliun. Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada 16-17 Maret 2016 memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,75%. Hasil RDG juga menurunkan suku bunga deposit facility dari posisi 5,50% menjadi 4,75%. BI juga menurunkan suku bunga lending facility menjadi 7,25% dari posisi 8%. (Suara Pembaruan, 18/3, Hal. 7)
Kenaikan Iuran BPJS Bisa Dievaluasi
Pemerintah bisa mengevaluasi rencana kenaikan iuran BPJS Kesehatan yang rencananya berlaku April nanti. Kenaikan biaya ini bukan tanpa alasan. Salah satu alasan utama adalah biaya kesehatan juga meningkat. Sejak ada BPJS Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masyarakat yang tadinya tidak berani berobat menjadi berani berobat ke rumah sakit sehingga membuat pasien makin berlimpah dan membuat instansi kesehatan tidak bisa memberikan pelayanan dengan baik. Presiden Jokowi menandatangani Perpres No. 19/2016 tentang kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada 29 Februari kemarin. Kenaikan iuran berlaku untuk peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan pekerja. Penerima manfaat pelayanan di ruang perawatan kelas III akan sebesar Rp30.000, sebelumnya Rp25.500 per bulan, kelas dua menjadi Rp51.000 dari Rp42.500 dan kelas I menjadi Rp80.000 dari Rp59.500. Saat ini, Panitia Kerja (Panja) BPJS Kesehatan yang dibentuk Komisi IX DPR masih mengaudit kinerja pelaksanaan BPJS Kesehatan. Sebelumnya, alasan kenaikan iuran sudah dijelaskan pemerintah kepada DPR yakni karena tidak seimbangnya pendapatan iuran dengan biaya pelayanan kesehatan. Defisit ini dapat mengancam kesinambungan BPJS Kesehatan. (Republika, 19/3, Hal. 1)
Berita serupa:
- Bisnis Indonesia, 21/3, Hal. 22, [Foto] Penundaan Kenaikan Iuran BPJS
BI: Kuartal II, Ekonomi RI Bisa Tumbuh 5,2-5,3%
BI memperkirakan ekonomi Indonesia makin menguat dengan pencapaian pada kuartal I- 2016 sebesar 5,1% dan kuartal II sebesar 5,2-5,3%. Kendati saat ini ekonomi global masih melemah dan mengakibatkan penurunan harga komoditas sehingga ekspor Indonesia pun melemah, pemerintah optimistis mampu menggerakkan perekonomian melalui belanja modal pada dua bulan pertama. Penurunan BI Rate sebesar 75 basis poin akan memberikan optimisme bagi perekonomian Indonesia selain juga konsumsi rumah tangga yang diperkirakan masih cukup kuat. Dana investor yang masuk ke Indonesia pada pekan ketiga Maret sudah mencapai Rp46 triliun, lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun lalu Rp44 triliun. Sentimen positif juga berasal dari sinyal FOMC, BOJ, ICB yang tampak tidak terlalu berkeinginan menaikkan suku bunga. Pertumbuhan belanja modal sebesar 300% dan pertumbuhan belanja barang sebesar 60%, serta peningkatan investasi swasta dan daya beli masyarakat akan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan. Indonesia masih dibayangi risiko dari Tiongkok dan terganggunya ekonomi AS apabila harga minyak dunia terus menurun. Yang menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi yaitu konsumsi rumah tangga dengan menjaga daya beli. Daya beli masyarakat juga akan lebih baik daripada tahun lalu karena inflasi yang relatif lebih rendah dibandingkan tahun lalu akibat penurunan harga bahan bakar minyak, penurunan tarif dasar listrik, adanya penguatan rupiah, serta peningkatan aktivitas ekonomi. Penurunan BI Rate akan menggerakkan investasi untuk menunjang pertumbuhan PDB. Target pertumbuhan ekonomi 5,3% cukup realistis, seiring bergairahnya sektor konsumsi yang ditandai dari peningkatan setoran pajak pertambahan nilai, konsumsi listrik, dan penjualan ritel. (Investor Daily, 19/3, Hal. 16)
Akhir Pekan Rupiah Melemah Menjadi Rp13.080
Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Jumat (18/3) sore melemah 33 poin menjadi Rp13.080 dibandingkan posisi sebelumnya di Rp13.047 per dolar AS. Pelemahan rupiah masih terbatas mengingat sentimen yang beredar cenderung positif setelah BI memangkas suku bunga acuan menjadi 6,75%. Peluang rupiah menguat masih terbuka mengingat pemerintah masih optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 sebesar 5,2-5,6%. Laju nilai tukar rupiah yang terkoreksi terhadap dolar AS juga seiring dengan mata uang di kawasan Asia akibat harga minyak mentah dunia yang bergerak turun. Sentimen pergerakan rupiah perlahan bergeser ke dalam negeri mengingat kondisi eksternal yang relatif belum muncul isu baru. (Warta Kota, 19/3, Hal. 5)
BI Rate Turun, Risiko Investasi Membaik
Pemangkasan BI Rate ke level 6,75% berimbas pada membaiknya risiko investasi di Indonesia, salah satunya tercermin pada angka credit default swap (CDS) Indonesia. Mengacu Bloomberg per Jumat (18/3), CDS Indonesia bertenor lima tahun sebesar 185,11, level terendah sejak Agustus 2015 dan membaik 19,48% dari posisi akhir tahun lalu. Sejak awal 2016, BI sudah memangkas suku bunga tiga kali dengan total 75 bps menjadi 6,75% lantaran fundamental ekonomi domestik telah membaik dan kurs tengah rupiah per 18 Maret 2016 sudah terapresiasi 5,41%. Katalis positif berasal dari keputusan The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan di bulan Maret. Apalagi beberapa negara maju memberlakukan kebijakan suku bunga rendah. European Central Bank (ECB) menurunkan suku bunga acuan 5 bps ke 0%. Bank of Japan sudah menurunkan suku bunga acuan menjadi minus 0,1%. Risiko investasi domestik bakal membaik asalkan pergerakan rupiah tetap stabil dan data neraca perdagangan Indonesia membaik. Per Februari 2016, neraca perdagangan surplus US$ 1,1 miliar. CDS Indonesia tenor lima tahun diperkirakan membaik ke level 180 tahun ini. Yield SUN seri acuan bertenor 11 tahun FR0056 berpotensi mencapai 7,2%, yield FR0056 bertengger di 7,61%. (Kontan, 21/3, Hal. 6)
INFORMASI KEUANGAN
|
USD/IDR |
13,117 |
|
IHSG |
4,885,71 |
|
BI Rate (per 17 Maret 2016) |
6,75,00% |
Sumber: Kontan / Bank Indonesia
