AAJI Daily News - 14 Januari 2016


HEADLINE NEWS

  1. Asuransi Jiwa Ingin Lebih Bertenaga
  2. 5 Tantangan Industri Asuransi Jiwa
  3. Pemain Baru Asuransi Jiwa
  4. OJK Buka Lapangan Kerja Lewat 10 Juta Agen Asuransi
  5. DPLK dan Unit-Linked Dikecualikan
  6. BI Rate Harus Turun
  7. Ada Peluang, BI Harus Pede Pangkas BI Rate

 

MENGENAI AAJI

Asuransi Jiwa Ingin Lebih Bertenaga

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), realisasi laba perusahaan asuransi jiwa  tahun 2014 mencapai Rp15,85 triliun. Alhasil, sebelas bulan tahun 2015, perolehan laba komprehensif anjlok 65,55% secara year to date (ytd). November 2015, perolehan laba industri asuransi jiwa meningkat 42% dari Oktober 2015 yang sebesar Rp3,83 triliun. Tahun ini, kinerja perusahaan asuransi jiwa bisa membaik. Proyeksi ekonomi Indonesia yang membaik akan menopang kinerja asuransi jiwa. Meski begitu, Hendrisman Rahim, Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya mengatakan sulit memprediksi perolehan laba di tahun ini sebab tergantung juga dari hasil investasi. Plt Direktur Eksekutif AAJI, Togar Pasaribu, menyatakan bahwa menjelang akhir tahun, pasar modal membaik. Target premi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) memperkirakan, pertumbuhan premi tahun ini sekitar 20%-30%. Jika realisasi premi tahun lalu sesuai proyeksi yakni Rp 120 triliun, berarti perolehan premi tahun ini antara Rp 144 triliun hingga Rp 156 triliun. (Kontan.co.id, 13/1)

http://keuangan.kontan.co.id/news/asuransi-jiwa-ingin-lebih-bertenaga

Narasumber:

  • Togar Pasaribu, Plt. Direktur Eksekutif AAJI

5 Tantangan Industri Asuransi Jiwa

Togar Pasaribu, Plt Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) merinci tantangan-tantangan paling besar asuransi jiwa antara lain: pertama, kondisi pasar modal yang fluktuatif. Kedua, aturan main pajak khusus untuk asuransi jiwa. Ketiga, penetrasi asuransi terhadap jumlah penduduk Indonesia yang masih rendah dibawah 5%. Keempat, rendahnya literasi asuransi kepada masyarakat khususnya untuk masyarakat menengah ke bawah. Terakhir, penjualan asuransi mikro yang dinilai kurang masif. Meski begitu, peluang bisnis asuransi untuk tumbuh dalam kondisi ekonomi sulit masih terbuka. Misalnya dengan perusahaan asuransi kian giat dalam mengeluarkan produk barunya. Akhir tahun ini, AAJI memprediksi perolehan premi asuransi jiwa 2015 bisa mencapai Rp 120 triliun. Tahun ini, premi asuransi jiwa diperkirakan bisa tumbuh 20% hingga 30%. (Jurnalasia.com, 13/1)

http://www.jurnalasia.com/2016/01/13/5-tantangan-industri-asuransi-jiwa/

Narasumber:

  • Togar Pasaribu, Plt. Direktur Eksekutif AAJI

INDUSTRI ASURANSI JIWA

Pemain Baru Asuransi Jiwa

Perusahaan asuransi jiwa patungan antara PT Asuransi Jiwa Indonesia dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk hampir rampung dan rencana bisnis serta produk yang akan dikeluarkan akan segera dilaporkan ke OJK. Untuk sementara jumlah modal disetor mencapai Rp150 miliar. Jasindo akan memegang saham 30% dari perusahaan patungan ini sedangkan jumlah saham BTN mencapai 70%, artinya jumlah modal yang harus disetorkan Jasindo minimal Rp45 miliar. (Kontan, 14/1, Hal. 24)

EKONOMI MAKRO & REGULASI

OJK Buka Lapangan Kerja Lewat 10 Juta Agen Asuransi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus menggenjot pertumbuhan Industri Keuangan Non Bank (IKNB). Salah satunya melalui program perekrutan 10 juta agen asuransi. OJK menargetkan bisa menjaring 10 juta agen asuransi dalam beberapa tahun ke depan, melalui kerjasamanya dengan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Selain itu, Muliaman menyebutkan, OJK juga melakukan optimalisasi kapasitas asuransi dan reasuransi dalam negeri; revitalisasi modal ventura dan pengembangan asuransi mikro; serta penyesuaian uang muka pembiayaan kendaraan bermotor bagi Perusahaan Pembiayaan. Selama ini, perekrutan agen asuransi cenderung sangat konvensional, kadang-kadang meminta kehadiran fisik dan cenderung administrasinya bertele-tele. Bahkan kadang-kadang proses pendidikan untuk menjadi agen, termasuk penyelesaian sertifikasinya, juga membutuhkan waktu yang cukup lama karena memang tidak dilakukan secara terintegrasi. Selain agen asuransi, OJK juga akan menggenjot pertumbuhan IKNB lainnya, yaitu melalui: Program 10.000 Sahabat Maritim; Pengembangan Asuransi Mikro & Asuransi Pertanian; Pengembangan Kapasitas Asuransi & Reasuransi Dalam Negeri; Revitalisasi Modal Ventura; dan Penyesuaian Pembiayaan Kendaraan Bermotor. (Detik.com, 13/1)

http://finance.detik.com/read/2016/01/13/125739/3117458/5/ojk-buka-lapangan-kerja-lewat-10- juta-agen-asuransi

DPLK dan Unit-Linked Dikecualikan

OJK memberikan pengecualian bagi dana pensiun lembaga keuangan dan produk unitlinked asuransi jiwa atas rencana pemberlakuan batas minimal investasi pada surat berharga negara, dan diberikan keleluasaan untuk mengatur portofolionya secara mandiri. Pengecualian ini diberikan karena otoritas menimbang karakteristik DPLK dan produk unitlinked yang pilihan investasinya disesuaikan dengan pilihan nasabah. Kendati begitu, tidak tertutup kemungkinan batas minimum wajib investasi SBN akan dikenakan kepada DPLK dan dana kelolaan produk unitlinked jika floating-nya radikal. BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan secara entitas juga diwajibkan mengalokasikan minimum 30% investasi ke SBN tetapi dana jaminan sosial yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan juga diberi kewajiban yang sama dengan batas minimum 50%. Saat ini, 75% investasi dari Rp45 triliun aset DPLK dikelola dalam pasar uang. Sejumlah pelaku industri meminta OJK tidak menentukan batas minimum porsi SBN dalam portofolio investasi karena SBN merupakan instrumen investasi berkualitas dengan potensi imbal hasil yang terjaga sehingga pelaku usaha tidak perlu diarahkan memiliki instrumen tersebut melalui pembatasan porsi tertentu. (Bisnis Indonesia, 14/1, Hal. 21)

BI Rate Harus Turun

Tingkat inflasi yang rendah dan potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) bakal menurunkan yield obligasi korporasi yang pada tahun lalu tercatat cukup tinggi. Sepanjang tahun lalu, yield obligasi dinilai bergerak anomali karena tidak seiring dengan laju inflasi akibatnya spread antara yield obligasi tenor 10 tahun dan inflasi mencapai lebih dari 500 basis poin dan mencapai 600 poin dibandingkan dengan US Treasury. Selain inflasi, faktor  yang berpotensi menurunkan yield obligasi pemerintah dan korporasi adalah penurunan BI rate yang dipertahankan pada 7,5% selama 9 bulan terakhir. Berdasarkan data IBPA, pada 12 Januari 2016, yield obligasi korporasi bertenor 3 tahun yang diterbitkan oleh perusahaan berperingkat AAA mencapai 10,21% atau naik dari periode tahun 2015 sebesar 9,63%. Sementara itu, obligasi bertenor 5 tahun peringkat AAA tingkat imbal hasilnya tercatat 10,38% atau naik dari periode sama 2015 sebesar 9,91%. Kondisi makroekonomi domestik Indonesia dan kondisi global yang lebih dapat diprediksi membuat penerbitan obligasi korporasi pada tahun ini makin marak. Nilai obligasi korporasi jatuh tempo pada tahun ini mencapai Rp42-47 triliun dan sejumlah korporasi menempuh langkah refinancing dengan menerbitkan obliasi baru. (Bisnis Indonesia, 14/1, Hal. 14)

Ada Peluang, BI Harus Pede Pangkas BI Rate

Harapan agar Bank Indonesia menurunkan BI rate pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari kedua muncul dari banyak pihak. Para pelaku usaha berharap BI menurunkan suku bunganya agar sektor industri lebih kompetitif. BI berpeluang menurunkan BI rate karena inflasi sepanjang 2015 lalu sangat rendah, hanya 3,35%. Penurunan BI rate tak berefek pada penurunan bunga kredit tetapi berefek pada sentimen pasar yang akan bereaksi positif. Selain faktor  inflasi rendah, berlakunya kebijakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) menjadi alasan. Indonesia dinilai memiliki biaya investasi yang tinggi dan bunga tinggi menjadi penyebab industri hulu dan antara tidak berkembang. Ketika BI menurunkan suku bunga, deposito juga akan disesuaikan sehingga investasi di deposito kurang menarik dan mendorong masyarakat berinvestasi di instrumen lain, salah satunya saham. RDG antara lain membahas kebutuhan likuiditas yang besar untuk proyek pemerintah. (Kontan, 14/1, Hal. 1)

INFORMASI KEUANGAN

USD/IDR

13.835

IHSG

4.537,18

BI Rate (per 17 Desember 2015)

7,50%

Sumber: Kontan / Bank Indonesia

DOWNLOAD PDF